Jumat, 10 Maret 2023

PREDESTINASI GANDA JOHN CALVIN

Predestinasi, dalam teologi, adalah doktrin yang menyatakan bahwa semua peristiwa di alam semesta ini telah ditentukan oleh Allah, biasanya dikaitkan dengan nasib akhir dari jiwa seseorang. Predestinasi merupakan sebuah konsep religius, yang melibatkan hubungan antara Tuhan dan ciptaan-Nya. 

LATAR BELAKANG PREDESTINASI GANDA JOHN CALVIN 
“Historis Kemunculan Predestinasi Abad ke-4 hingga ke Masa Calvin”
Pangeran Manurung
Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Surabaya
E-mail: pangeranmanurung@sttii-surabaya.ac.id
Abstrak
Permasalahan dalam tulisan ini terletak pada isu teologis tentang predestinasi, khususnya 
tentang sejarah munculnya predestinasi ganda versi calvin. Munculnya paham tentang konsep 
pemilihan Allah atas sebagian orang telah menimbulkan masalah teologis yang kompleks 
karena ditafsirkan secara berbeda-beda oleh penerus Calvin. Pembahasan ini bertujuan untuk 
melacak latar belakang mengapa Calvin mengajarkan rumusan predestinasi yang ekstrem. 
Karena menitikberatkan kepada isu “latar belakang”, maka tulisan ini menggunakan 
pendekatan penelitian pustaka bersifat historis. Tulisan ini akan menjabarkan sejarah 
munculnya konsep predestinasi sebelum Calvin dan menelisik keadaan historis pada saat 
rumusan itu dimunculkan. Hasilnya, predestinasi versi Calvin yang hidup pada abad ke-16, 
dimulai dari gagasan Agustinus pada abad ke-4. Kesimpulan dari tulisan membuktikan bahwa 
predestinasi Calvin akan disalahpahami jika langsung menafsirkan teks Predestinasi dari 
aspek teologis dan mengabaikan alasan-alasan sosial serta pengalaman pribadi Agustinus dan 
Calvin. Predestinasi Calvin tidak dapat dilepaskan dari aspek Historis-Sosial abad ke-16 dan 
abad ke-4.


PENDAHULUAN
Kajian tentang Predestinasi telah dilakukan oleh para teolog yang ahli di bidang 
kajian biblika dan sistematika. Mereka mendekati topik predestinasi dari aspek pemaknaan 
teks-teks predestinasi, misalnya seperti yang dilakukan oleh Matthew Levering1
. Ia 
membuktikan bahwa konsep predestinasi itu benar adanya karena Alkitab memang 
mengatakan demikian. Karena pendekatan Matthew hanya berdasarkan aspek sistematika, 
maka kesimpulannya tidak dapat menjelaskan latar belakang kemunculan pemahaman 
predestinasi yang berbeda-beda. Malcom2
juga sebelumnya mengulas topik predestinasi 
dengan hanya mengulas konsep “anugerah” sehingga perdebatannya cenderung bersifat 
sektoral.
 
1 Matthew Levering , Predestination. Biblical and Theological Paths (Oxford : Oxford University , 
2011 )
2 Malcolm H. MacKinnon, “Part I: Calvinism and the Infallible Assurance of Grace: The Weber Thesis 
Reconsidered,” dan “Part II: Weber’s Exploration of Calvinism: The Undiscovered Provenance of Capitalism,” 
British Journal of Sociology, 39 (1988), 143-180.

Pendekatan yang dilakukan oleh Peter Thuesen jauh lebih baik karena melacak latar
belakang kemunculan paham predestinasi walau hanya dalam ruang lingkup kepentingan
perkembangan teologi di Amerika.3 Penelitian ini bertujuan untuk melacak latar belakang
kemunculan predestinasi berdasarkan pendekatan historis sehingga nantinya hasil penelitian
ini dapat memberi jawaban terhadap “alasan mengapa pemahaman predestinasi berbeda-beda
dalam generasi yang berbeda.

METODE PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini adalah study pustaka bersifat historis.
Konteks-konteks yang mempengaruhi munculnya paham predestinasi akan ditelisik hingga
ke awal mula “kelahiran predestinasi”. Mengapa menggunakan pendekatan Konteks &
Historis? Sejarah memberi pelajaran penting bahwa setiap gagasan yang lahir di dunia, tidak
dapat dipisahkan dari konteks munculnya gagasan itu. Beberapa contoh berikut dapat
dipertimbangkan. Misalnya, gagasan Theokrasi yang berubah menjadi monarki pada zaman
Samuel muncul karena bangkitnya kerajaan-kerajaan. Atau munculnya gagasan-gagasan yang
berbeda dalam Mazhab Yahudi seperti Kaum Esseni, Farisi, Ahli Taurat, dan Saduki pada zaman intertestamental disebabkan karena konteks-konteks tertentu. Dari segi konteks historis, para penulis Perjanjian Baru juga menulis surat-surat karena konteks tertentu. Atau jika membahas tentang teologi kontemporer misalnya. Gagasan “God is Dead” yang dihembuskan oleh para sarjana modern hanya dapat dipahami secara utuh jika dapat menelusuri konteks saat itu. Bukan hanya dalam arena teologi, gagasan-gagasan jenis
pemerintahan di dunia politik atau aspek lainnya pun tidak pernah dapat dilepaskan dari konteks.
Jika hal ini terpikirkan dengan benar, maka jawaban atas munculnya varian-varian dalam sebuah ide dapat dimunculkan. Misalnya, mengapa muncul paham “neoplatonisme”
dapat terjawab karena konteks dan keadaan sesudah plato berubah adanya. Jadi sebuah ide
besar dapat berkembang karena dipengaruhi oleh konteks yang dinamis. Hal yang sama terjadi pada pergumulan tentang predestinasi. Karena alasan-alasan tersebut, maka pendekatan dari aspek sejarah dianggap lebih tepat ketika mengulas tentang predestinasi.

PEMBAHASAN

Pembahasan dalam penelitian ini mencakup beberapa bagian. 

Pertama, menguraikan sejarah dan berkembangnya pemahaman predestinasi di setiap zaman dan konteks. Bagian ini melihat konteks predestinasi dari Perjanjian Lama hingga ke Perjanjian Baru. 

Kedua, melihat secara spesifik konteks kemunculan gagasan predestinasi abad keempat yang dirintis oleh Agustinus hingga Martin Luther. 

Ketiga, menelusuri konteks atau latar belakang kemunculan predestinasi ganda versi Calvin.

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PEMAHAMAN PREDESTINASI
Perkembangan pemaknaan predestinasi dalam bagian ini akan menentukan fokus pembahasan berikutnya. Jika dilacak dari sejarah, pemaknaan predestinasi sebenarnya cukup beragam. Predestinasi yang diHal ini disebabkan karena adanya perubahan-perubahan konteks yang dialami oleh Gereja. Mulai dari Agustinus hingga ke pengakuan iman reform pada abad ke-16 dan abad ke-17, pemahaman tentang predestinasi mengalami perkembangan.
Konteks Predestinasi Perjanjian Lama
Gagasan Predestinasi moderat tidak dimulai dari teks-teks Perjanjian Baru, tetapi dari Perjanjian Lama. 

Pada masa ini Allah memilih sebuah bangsa diantara bangsa-bangsa dan
memanggil beberapa orang diantara banyak orang. Di sini Allah diperkenalkan oleh para penulis sebagai penguasa semua sejarah yang mampu melihat masa depan sebelum hal itu terjadi (Yes. 48: 35; Dan. 4:35). Karena itu Allah menentukan bangsa Israel di antara semua bangsa di bumi untuk menjadi umat pilihanNya (Ul. 7: 6; 14: 2).4 Untuk mewujudkan bangsa
pilihanNya, Allah memilih beberapa orang seperti Abraham, Yakub, Yusuf, hingga nanti berbentuk sebuah bangsa. Untuk menjaga bangsa pilihan ini, Allah memanggil dan memilih beberapa imam, nabi, raja, ataupun hakim.
Apa konteks khas pemilihan dalam Perjanjian Lama? Allah memilih bangsa dengan tujuan khusus, penyediaan Juruselamat sebagai solusi atas dosa. Bangsa yang spesifik hanya akan terbentuk dengan panggilan spesifik atas beberapa orang. Itu berarti, panggilan atau pemilihan atas Abraham dan tokoh-tokoh lainnya memiliki konteks dan tujuan tertentu jika
dibandingkan dengan konsep predestinasi yang berhubungan dengan keselamatan. Pemilihan untuk penyediaan Juruselamat memiliki kekhasan dengan pemilihan untuk selamat.

Konteks Predestinasi Pra-Perjanjian Baru
Sebelum ke masa Perjanjian Baru, ada masa tiga kelompok agama (Saduki, Esseni, dan Farisi) yang memiliki pandangan berbeda tentang predestinasi. Kaum Saduki meyakini
dan menegaskan aspek kebebasan manusia secara mutlak. Dengan demikian, mereka menyangkal konsep “takdir” atau “penentuan” Allah. Sedangkan Kaum Eseni adalah
kebalikannya. Mereka menyangkal kebebasan manusia dan menegaskan garis-garis ketentuan Allah. Kaum Farisi memberi penekanan yang berbeda. Bagi mereka, dengan cara yang
tersembunyi, Tuhan menentukan segala sesuatu tanpa merampas kehendak bebas manusia. Yang perlu dipikirkan adalah, mengapa paham mereka berbeda-beda?
Jika melihat konteks dan keberadaan mereka saat itu yang sedang dalam
penganiayaan, kemunculan kitab-kitab Apokrifa dan kemunculan mazhab Yudaisme ini tidak dapat dipisahkan. Terdapat penganiayaan terhadap Kaum Israel yang berkepanjangan yang
pada saat itu tanpa adanya pertolongan berbentuk utusan ilahi seperti pada zaman hakim-hakim. Seseorang yang mengalami penderitaan yang buruk tetapi pada saat yang sama
disebut sebagai umat pilihan Allah, dapat memunculkan ide kepasrahan. Yang pada masa perang yang buruk saat itu telah dikenal dengan istlah “nasib ilahi” diantara kaum Yunani-
Romawi.  Maka dapt disebutkan bahwa alasan kemunculan konsep predestinasi moderat pada
zaman ini memiliki keterkaitan dengan kemunculan kitab Apokrifa dan Mazhab Yudaisme.

Konteks Predestinasi Perjanjian Baru
Setelah masa ketiga kelompok ini berlalu, para penulis Perjanjian Baru pun menjelaskan konsep predestinasi dengan jelas dan tegas. Perjanjian Baru menyediakan teks dan kisah tokoh yang menjelaskan tentang predestinasi (Kis.2:23; Ef.1:1-11; Rom.8:29-30;
dll).

 Perikop-perikop ini dengan tegas menyatakan bahwa Allah memilih orang-orang tertentu sebelum dunia dijadikan. Apa konteks Paulus dalam menuliskan teks-teks predestinasi? Jika mengamati keseluruhan perikop-perikop predestinasi, Paulus menjabarkannya ketika menjelaskan kisah panggilannya dan kebutuhan pembaca yang berbeda-beda. Itu sebabnya, jika mengacu kepada bahasa asli Perjanjian Baru, istilah “predestinasi” yang digunakan memiliki akar kata dan makna yang berbeda.

Konteks Predestinasi Bapa Gereja
Setelah masa penulis Perjanjian Baru selesai, Bapa-Bapa Gereja pada awalnya mempertimbangkan rumusan predestinasi. Awalnya, Gereja Mula-mula menekankan kehendak bebas manusia walau di sisi yang lain juga mengajarkan tentang kedaulatan Allah.
Artinya, mereka fokus menafsirkan Alkitab sesuai teks tanpa dipengaruhi gagasan sistematika yang biasanya memaksa penafsir membuat pertanyaan dan memberi jawaban.
Pertanyaannya, kenapa perbincangan predestinasi tidak menonjol pada abad ini?
Tradisi memperlihatkan bahwa ajaran sumbang dan perselisihan teologis yang muncul pada saat itu didominasi oleh topik Kristologi. Perdebatan Bapa Gereja yang melahirkan Konsili
awal disebabkan adanya perbedaan sudut pandang atas natur dan pribadi Yesus Kristus. Atau isu tentang keTuhanan dan kemanusiaan Yesus Kristus.

Jika mendiskusikan topik doktrin Allah, para pemikir di abad ini biasanya hanya
menekankan aspek pengetahuan Allah terhadap “apa yang akan dilakukan oleh manusia di masa depan”. Penekanan predestinasi di masa ini belum setegas pada masa reformasi. Pada masa itu, Origen (185-254) adalah proklamator predestinasi moderat pertama. Ia lebih tegas karena menjabarkan konsep “Allah yang mengeraskan hati orang-orang yang tak terpilih”, walaupun konteksnya hendak menjelaskan kasus “Firaun yang mengeraskan hati”. Jika
Origen menekankan asas itu, teolog yang lain lebih menekankan paham “apocatastasis” yang memiliki perbedaan dengan gagasan Origen.

Perkembangan Pemahaman Predestinasi Agustinus

Agustinus (355-430) muncul ketika menafsrikan kitab Roma dan juga untuk  menyanggah Pelagius (360-419). Agustinus condong kepada paham predestinasi ganda,  bahwa iman seseorang adalah efek dari pilihan Allah. Pendapat ini menjadi tegas karena tidak  setuju dengan doktrin hamartologi pelagius, bahwa manusia tidak lahir dengan status  berdosa. Yang menarik, awalnya Agustinus tidak percaya bahwa Tuhan memutuskan untuk mengutuk seseorang. Namun, mereka yang tidak dipilih akan tetap berada dalam dosanya  sehingga layak untuk dihukum. Pada awalnya, predestinasi Agustinus adalah predestinasi yang moderat (dapat dilihat  dari bukunya yang berjudul, “on free choice of the will”. Ia mengatakan bahwa “Tuhan hanya menentukan “takdir” seseorang yang Ia tahu akan percaya dan meresponi panggilanNya”.
“Tuhan memilih orang yang telah Ia kenal”. Demikian rumusan Agustinus pada awalnya.  Namun dua tahun setelah pernyataan ini, Agustinus menafsirkan ulang Roma 8:29 dan 
menyimpulkan secara berbeda. “Tuhan yang memilih secara aktif dan anugerah selalu  menang dari keinginan manusia”. Untuk menjawab sebuah pertanyaan dari temannya, 
Agustinus mengatakan, “Tuhan tidak memilih Yakub atas dasar pengetahuanNya atas iman 
Yakub” Sejak saat itu, Agustinus mulai menekankan kedaulatan Allah dan anugerahNya  dibandingkan kehendak manusia.

Konteks Sosial dan Pengalaman dalam Predestinasi Agustinus
Beberapa konteks historis yang melatarbelakangi kemunculan konsep predestinasi di  masa Agustinus dapat disingkat dalam daftar berikut;

Pertama; Dalam karya besarnya “confessions”, Agustinus mengisahkan kehidupan  pribadinya dan merenungkan bagaimana anugerah Allah itu begitu besar sehingga tidak layak untuk diterima, mengingat kehidupan seksualnya yang liar. Juga mengingatkannya, bahwa sebelumnya ia adalah orang yang skeptis dalam hal agama.Ketika Agustinus mulai
memperkenalkan gagasan “manusia yang tak berdaya”yang menjelaskan bahwa Allah bisa memperlakukan manusia sesuai seleranNya, Pelagius marah dan melakukan perlawanan.
Selama sepuluh tahun, Pelagius ibarat bocah gemuk yang mencoba berperang melawan “raksasa”.

Kedua; Teks predestinasi lainnya yang digunakan oleh Agustinus adalah Yohanes 15:16. Dari teks ini, Agustinus menyimpulkan bahwa Allah tidak menyelamatkan atau menghukum berdasarkan tindakan mereka di masa depan. Pernyataan ini bermula karena
adanya kasus bayi yang meninggal tetapi belum sempat dibaptis. Agustinus merasa bahwa jika seorang bayi meninggal dan tidak sempat untuk dibaptis, berarti Allah memilih tanpa
dipengaruhi oleh keberadaan manusia. Karena pada saat yang sama, ada orang yang hingga masa tua tetap tidak mau dibaptis.

Ketiga; Dari kasus bayi-bayi meninggal dan kasus bayi yang lahir cacat, di
kemudian hari Agustinus lebih tegas merumuskan konsep predestinasinya. Bahwa semua manusia yang lahir memang penuh dengan dosa dan keburukan. Tidak mungkin seseorang
bertemu dengan Tuhan jika bukan karena anugerah Allah. Allah hanya memberi anugerah sesuai dengan kerelaan hatiNya. Akibatnya, muncul dilema teologis yang diwariskan oleh
Predestinasi Agustinus. Karena kasus bayi adalah topik berat dalam isu soteriologi, maka Agustinus membuat sebuah “skak mat” yang menutup pintu diskusi. Ia menyarankan untuk tidak perlu mempertanyakan alasan pemilihan Allah. “Sebagai ciptaan yang telah berdosa, seharusnya manusia tidak perlu mempertanyakan kebijakan Allah.

Pada masa Agustinus, perbincangan tentang predestinasi terus menimbulkan pro dan kontra. Pergolakan yang besar muncul sejak John Cassian menyanggah Agustinus. Cassian sering disebut sebagai pendiri gagasan “neo pelagianisme”karena dianggap mempopulerkan gagasan “Allah yang bekerjasama dengan manusia” dalam proses keselamatan. I Timotius 2:4 merupakan dasar Alkitab yang digunakan oleh Cassian untuk
membangun teorinya. Cassian bersikukuh bahwa Allah berkeinginan menyelamatkan semua manusia. Perdebatan seabad yang berbelit-belit ini ditengahi oleh konsili dengan
mendukung Agustinus tetapi dengan klarifikasi supaya tidak menekankan takdir. Setelah perdebatan Agustinus dan Pelagius, muncul John Cassian (360–435) yang menolak gagasan
“Allah hanya memilih sebagian orang”. 600 tahun kemudian, Anselmus (1033-1109) dan Thomas Aquinas (1225–1274) mengadopsi gagasan “predestinasi-baptisan” Agustinus.
Walau demikian, Thomas Aquines menekankan pemilihan yang lebih moderat.Penjelasan berikut akan membuka ruang hipotesa-hipotesa yang baru. Melihat rumusan awal predestinasi Agustinus yang cenderung moderat dan akhirnya mengalami perubahan, memberikan sebuah ruang terbuka untuk mempertanyakan alasan dibalik perkembangan ide itu. 

Pertama; Pada awalnya Agustinus mengikuti pendekatan Bapa Gereja lainnya yang seimbang dalam membicarakan antara Kedaulatan Allah dengan Kehendak Bebas Manusia. 

Kedua; Agustinus memberi penekanan baru dalam predestinasinya karena hendak menyanggah doktrin hamartologi Pelagius. 

Ketiga; keadaan buruk yang menimpa orang-orang percaya saat itu, seperti kematian bayi atau bayi dari orang
tua Kristen yang lahir cacat mendorong Agustinus untuk mendekati teks Predestinasi dari aspek sistematika untuk menjawab pertanyaan logis yang lahir dari keadaan saat itu.

Keempat; Agustinus menekankan anugerah Allah yang besar dan tidak dapat ditolak bermula dari pengalaman pribadi berupa latar belakang kehidupan yang buruk.

KONTEKS PREDESTINASI MASA SKOLASTIK - LUTHER & ZWINGLI
Setelah masa Agustinus, kehidupan manusia di Eropa menekankan kehendak bebas. Itulah sebabnya, sekitar tiga abad kemudian, predestinasi ganda yang kembali digaungkan oleh Gottschalk (806- 869) ditolak mentah-mentah oleh Hincmar dan Gereja. Ia bahkan dipukuli dan dipenjara atas ijin dan keputusan para uskup. Dia ditolak hingga akhir
hidupnya.Konteks pada masa ini adalah; Gereja memiliki peran dan pengaruh yang besar terhadap pemerintahan. Dengan demikian, kepentingan antara Gereja dan Negara cenderung tidak dapat dipisahkan. Dengan kata lain, aspek teologi sangat dipengaruhi oleh aspek sosial-
pemerintahan (negara).
Setelah perseteruan antara Gottschalk dan Hincmar, Gereja hendak menggabungkan unsur insani dan ilahi dalam keselamatan. Mengikuti konsili orange kedua yang berpendapat
bahwa orang-orang pilihan dimungkinkan mendapat rahmat dalam sakramen baptisan, maka percakapan tentang predestinasi dihubungkan dengan sakramen. Pertanyaan dasarnya adalah, bagaimana menyiasati bahwa Allah hanya memilih sebagian orang? Solusi yang ditawarkan adalah, “Allah hanya mengijinkan orang-orang pilihan untuk dibaptis”. Di masa ini, sakramen seperti menjadi sebuah tanda bahwa seseorang adalah umat pilihan Allah.
Konteks yang perlu digarisbawahi pada masa ini adalah bahwa umat perlu dibawa ke Gereja untuk mengikuti sakramen dan dengan demikian lebih mudah untuk memerintah umat dari
aspek pemerintahan. 

Kemunculan universitas-universitas di Eropa telah melahirkan pemikir-pemikir besar dalam bidang keagamaan. Salah satu skolastik terkenal adalah Thomas Aquinas (sekitar 1225-1274), yang mengajukan “Summa Theologiae” tentang keajaiban sakramen dan doa
bagi orang mati. Paus Urbanus IV disebut telah menugaskan Aquines untuk menulis liturgi untuk Corpus Christi (Ekaristi), dimana nyanyian tentang kebangkitan orang mati
dikumandangkan di jalan-jalan Eropa. Sakramen Maha Kudus pada saat itu dianggap sebagai sarana untuk menyampaikan anugerah Allah kepada orang-orang pilihan. Walaupun pada awalnya Aquines menganut predestinasi moderat dan agak bias,
namun pada akhirnya Thomas Aquines mengikuti jejak Agustinus. Mengenai masalah teologis bahwa Tuhan tidak adil karena hanya memilih sebagian orang, Aquines menyebut bahwa “Tuhan baru bisa disebut tidak adil jika Ia berhutang kepada manusia”. Walau
Thomas Aquines menyetujui gagasan besar predestinasi, namun ia tidak mengingkari bahwa sakramen juga dalam satu titik sangat berjasa. Pada saat itu, sudah menjadi pengakuan umum bahwa misa dan doa-doa mengandung “magic” dan dapat memaksa Tuhan.

Konteks Ilmu Filsafat dalam Predestinasi Martin Luther & Zwingli
Predestinasi Martin Luther pada awalnya muncul karena dua hal. Pertama; kebangkitan para sarjana “skolastik” di Eropa yang berteologi dengan fundasi filsafat. 

Kedua; kemerosotan moral di Gereja dan pemujaan upacara sakramental. Itulah sebabnya bahwa sejak awal, Erasmus mengkritik Luther (1483-1546) dengan alasan yang lebih condong
kepada program moral dan humanistik reformasi gereja,kemudian menghubungkannya dengan kehendak bebas manusia untuk menanggapi injil atau tidak. Erasmus menegaskan
bahwa tanpa mengakomodir kehendak bebas manusia, berita Injil hanya bermanfaat bagi manusia yang tidak bertanggungjawab. Tanpa menunggu lama, Luther memberi tanggapannya atas koreks Erasmus.Dalam menjelaskan kehendak Allah yang sempurna dan pasti benar, Luther juga menegaskan bahwa pada saat yang sama kehendak Allah itu tidak dapat dihalangi. Luther membedakan antara kehendak Allah yang “tersembunyi” (deus absconditus) dengan kehendak Allah “yang dinyatakan” (deus revelatus). Artinya, ada kehendak Allah yang mengatur Allah dengan sempurna sehingga keputusanNya sempurna adanya walau tidak dapat dipahami oleh nalar manusia. Karena kehendak Allah adalah efektif dan tidak dapat dihalangi, karena itu adalah kekuatan dari sifat ilahi itu sendiri.
Meskipun tidak ada perbedaan antara apa yang kita ketahui tentang kehendak Allah dalam Injil tentang Kristus dan apa yang tetap tidak dapat kita aksesi, kita tidak pernah dapat sepenuhnya memahami atau memahami kedalaman kehendak Allah. Dalam konsep
predestinasi, Luther tidak secara tegas berbicara tentang penentuan Allah. Ia hanya menekankan bahwa orang berdosa tidak mungkin dapat selamat tanpa anugerah Allah yang sempurna.
Dari penjabaran diatas, dapat disimpulkan bahwa konteks kemunculan predestinasi  Martin Luther dan Zwingli dipengaruhi beberapa hal.

Pertama; Predestinasi abad ke-5 hingga
abad ke-9 pertengahan tidak terlalu menghangat karena Dunia menekankan kehendak manusia. Upacara sakramental dari abad ke-9 hingga abad ke-14 semakin menguat hingga
membawa Gereja kepada rel yang salah. 

Kedua; Predestinasi pada zaman skolastik, filsuf dan teolog mulai menggunakan pendekatan filsafat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan logis yang otomatis muncul dalam percakapan predetinasi. 

Ketiga; Predestinasi Martin Luther
dilatarbelakangi konsep keselamatan Gereja yang mengandalkan kebaikan manusia.

Keempat; Setelah Reformasi, Predestinasi Martin Luther dikembangkan untuk menyeimbangkan kedaulatan Allah dengan manusia (supaya menghindari manusia yang tidak bertanggungjawab). 

Kelima; Predestinasi abad pertengahan menghangat karena pemerintahan
Gereja sangat berpengaruh atas jalannya pemerintahan sehingga sistem kedaulatan Allah hendak dibawa ke sistem Gereja. Medianya melalui pentingnya sakramen

Perkembangan Pemahaman Predestinasi Pasca Martin Luther
Dalam perkembangan waktu, penerus Luther membuat perkembangan yang cukup signifikan atas ide Luther tentang “kedaulatan Allah”. Salah satunya datang dari Philipp Melanchthon (1497–1560), yang ketika menulis sebuah karya berjudul “Loci Communes” pada tahun 1521 masih menjaga gagasan Luther tetapi telah mulai menekankan pentingnya
pemberitaan Injil. Dalam karya selanjutnya, Philipp mulai menekankan ajaran “sinergitas” dan janji Universal Injil. Di sini ia mulai mempertimbangkan kehendak manusia dalam merespon Injil. Salah satu junior Luther adalah Zwingli. Dalam percakapan tentang Predestinasi,
Zwingli menekankan aspek pemeliharaan Allah. Zwingli yakin bahwa Predestinasi adalah
aspek dari pemeliharaan Allah yang berkaitan dengan kehendak Allah yang baik dan murah hati untuk memberikan keselamatan kepada orang-orang pilihan. Tetapi penekanan pemilihan
yang dimaksud oleh Zwingli adalah tentang “kemurahan hati” Allah. Zwingli menghindari untuk memperlihatkan Allah sebagai pencipta yang secara aktif menolak dan menghukum.
Bagi dia, pemilihan berbicara tentang kasih Allah kepada manusia yang telah berdosa. Selain Zwingli, teolog yang menjelaskan predestinasi secara berbeda dengan Calvin adalah Peter Martyr Vermigli. Dia mendekati paham predestinasi dengan menggunakan
pendekatan skolastik sehingga menggabungkan pendekatan teologi dengan logika.

Vermigli pada awalnya melihat predestinasi dari aspek yang luas dan umum, kemudian menghubungkannya dengan kehendak positif Allah dalam pemilihan dan kehendak Tuhan yang negatif atau permisif dalam penolakan. Mengenai reprobasi, ia menggunakan istilah “permisif” atau “pasif” dari Allah yang Maha Suci. Allah menolak orang yang tidak dipilih secara pasif dengan cara menahan cintaNya kepada mereka. Dengan kata lain, Vermigli tidak setuju adanya kehendak Allah
yang efisien dalam penolakan Allah terhadap sebagian orang. Kesimpulannya tentang reprobasi tidak diragukan lagi bahwa Allah memutuskan untuk tidak berbelas kasihan pada mereka yang belum/tidak Ia cintai. Secara singkat, Allah hanya aktif dalam pemilihan tetapipasif dalam penolakan.

LATAR BELAKANG PREDESTINASI CALVIN
Predestinasi ganda Calvin diyakini merupakan kristalisasi dari konteks-konteks kemunculan predestinasi sebelumnya. Artinya, konteks kemunculan predestinasi ganda versi
Calvin tidak jauh berbeda dengan latar belakang kemunculan gagasan predestinasi Agustinus dan tokoh sesudah Agustinus.

Predestinasi Luther yang Bercampur Sakramen Latar belakang pelayanan Calvin sebagai teolog dan rumusan bersifat doktrinal yang dilahirkannya tidak dapat dipisahkan dari reformasi yang dilakukan oleh Martin Luther.
Ketika Luther melakukan Reformasi, elemen sakramentalisme yang merupakan warisan abad
pertengahan masih tetap ada. Walaupun Protestan menolak transubstansiasi dan api
penyucian, namun iman Luther tentang “kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi” telah dikenal luas saat itu. Bukan hanya Luther, John Knox (1513-1572) yang merupakan salah satu murid Calvin dan anti katolik juga mengembangkan tradisi acara tahun (biasanya selama 4 hari). Pusat dari perayaan ini adalah Perjamuan Tuhan. Walau aspek sakramental tetap
ada, namun protestan awal menghilangkan aspek “perantara antara individu dan Allah” seperti yang dipahami oleh Gereja pada abad pertengahan.

Pertama, pada zaman pertengahan, Predestinasi dicapai melalui sakramen. Sedangkan pada masa protestan awal, predestinasi dicapai melalui kontemplasi. Sebuah kesadaran diri
bahwa manusia tidak berdaya di hadapan Allah. Ketika Luther menyanggah gagasan humanisme Erasmus, Luther menjelaskan panjang lebar bahwa menyerahkan diri pada
kehendak ilahi yang tak dapat dipahami merupakan keyakinan yang murni karena
memperlihatkan keagungan Allah yang mutlak.58 Kehendak manusia dalam bentuk hak asasi
itu sebenarnya tidak ada. Menurut tradisi, Luther dipengaruhi oleh “teologi nominalisme
Oackham.59 Lebih lanjut, Luther memberi sebuah ilustrasi, “bahwa manusia ibarat kuda atau
binatang buas yang ditunggangi antara Tuhan atau Iblis. Manusia tidak berdaya untuk
memilih siapa yang menunggangi. Tetapi para penunggang bersaing untuk mengendalikan
manusia”60
. Walau Martin Luther telah menjelaskan konsep kedaulatan Allah dengan
menggunakan ilustrasi yang demikian.
Kedua; problematik yang ditinggalkan oleh kaum Skolastik. Jauh sebelum Luther dan
Calvin, William Ockham (1285-1347) telah berselisih dengan predestinasi Thomas
Aquines.61 Luthter agak kebingungan dengan konsep “manusia melakukan yang baik dengan
dibantu oleh kasih karunia” yang disebutkan oleh Aquinus. Dan kebingungan Martin Luther
juga akhirnya menghinggapi Calvin di kemudian hari. Warisan perselisihan ini mendorong
Luther untuk menghidupkan kembali gagasan Agustinus yang sebelumnya juga telah
diajarkan oleh Gregory dari Rimini (1300-1358). Gregory menegaskan kembali bahwa Allah
memilih dan menyelamatkan seseorang tanpa peduli dengan perilakunya di masa depan. Lalu
apa hubungan predestinasi dengan sakramental pada masa Luther dan Calvin? Ketika banyak
orang mempertanyakan tentang kedaulatan Allah dalam pemilihan, itu karena manusia selalu
menggunakan rasionalitasnya. Sisi rasio ini perlu diusir karena sakramen mengandung aspek
“antirasional”.62 Sebuah gagasan yang tidak disetujui oleh Calvin.
Konteks Gereja dan Penghiburan bagi Kaum Puritan
Latar belakang kemunculan teologi Calvin tidak dapat dipisahkan dari hubungan
Gereja dan Negara pada masa itu. Gereja yang mengandung aspek teologis harus dicampur adukkan dengan Negara yang notabene murni berlandaskan prinsip sosial-politik. Jadi,
background kehidupan Sosial dan Teologi Calvin (1509-1564) tidak dapat dipisahkan dari
pergolakan Gereja dan sosial yang terjadi pada masa itu. Salah satunya dimulai dari gejolak
yang terjadi di Gereja Inggris. Henry VII (1457 -1509) memberi warisan kepada anaknya,
Henry VIII dengan luka perang mawar. Ketika Henry VIII (1491-1547) memerintah,
peristiwa bersejarah terjadi di sini. Untuk pertama kali, Gereja Inggris berpisah dari Katolik
sehingga hal itu menimbulkan konflik yang serius. Setelah masa ini, dengan konsep “Raja
Ilahi” Henry ingin dianggap sebagai Raja yang berdaulat penuh atas rakyat. Banyak eksekusi
yang ia lakukan untuk membuktikan bahwa ia adalah kepala tertinggi di Pemerintahan dan
Gereja. Penerusnya, Edward VI tidak memberi pengaruh yang signifikan (1537-1553),
hingga pada masa Lady Mary I (1516-1558) yang sempat mengembalikan Gereja Inggris ke
pangkuan Gereja Katolik. Tetapi tidak lama setelah itu, Elizabeth I (1533-1603) yang
menggantikan Lady Mary. Elizabeth mengaku sebagai Protestan yang membumbuinya
dengan berbagai upacara karena juga berusaha menjaga hubungan baik dengan Katolik.
Tetapi di sisi lain, ia sangat keras terhadap kaum Puritan.
Predestinasi di jaman Reformasi memiliki keterkaitan dengan sejarah bangkitnya
kaum puritanisme. Pada awalnya Raja Henry VIII (1491-1547) nyaman dengan
sakrammentalisme tradisional katolik.63 Namun setelah perpisahannya dengan Gereja
Katolik, Kerajaan Inggris berada di bawah pemerintahan Gereja Inggris yang cenderung
Protestan tetapi tanpa meninggalkan upacara-upacara khas. Ketika Henry digantikan
anaknya, Edward VI, Inggris menganut paham predestinasi mengingat studi masa kecil
Edward yang dipengaruhi oleh ajaran Calvin.64 Akibatnya, gagasan predestinasi saat itu
semakin menguat. Bahkan ada pepatah pada waktu itu yang terkenal, “teologi tanpa doktrin
predestinasi, ibarat sebuah desa tanpa pangeran Denmark”.
Masalahnya terletak pada pengganti Edward, yaitu lady Mary (saudara tiri Edward).
Ia mengeksekusi orang-orang yang menganut paham predestinasi, termasuk Cranmer. Mary lebih tertarik dengan iman protestan yang dicampur dengan upacara-upacara. Kebijakan ini
membuat protestan Inggris berhaluan predestinasi menjadi pengungsi karena melarikan diri ke benua Eropa.65 Dalam pengungsian, mereka mengembangkan doktrin takdir dengan
bumbu kesalehan, yang pada akhirnya memunculkan protestan “puritan”.66
Gagasan predestinasi kembali digaungkan setelah Lady Mary digantikan oleh Elizabeth I
pada tahun 1558. Elizabeth kembali menggaungkan 42 artikel tentang predestinasi67 setelah
mendengarkan pemaparan William Perkins68 yang ingin kembali meneguhkan ajaran
Agustinus. Elizabeth pada akhirnya semakin terbawa masuk ke dalam paham Perkins.
Elizabeth juga berjaga-jaga dengan kebangkitan katolik sehingga memicunya untuk lebih
gigih membela predestinasi.69 Sekali lagi, masa itu kembali dihiasi oleh “perselisihan
predestinasi” yang bercorak teologi-politik.
Setelah predestinasi berada dalam pusaran pergumulan kerajaan Inggris,
permasalahan yang muncul di kemudian hari lebih bersifat praktis. Para puritan modern
mulai menghubungkan predestinasi dengan pengalaman. Pergulatan teologinya dimulai
dengan perrtanyaan; bagaimana saya tahu jika saya terpilih? Apakah doktrin “takdir”
membuat kita menjadi gelisah/takut atau sebaliknya merasa nyaman?70 Hal yang paling
mengganggu kaum protestan saat itu adalah “apakah saya ini orang pilihan atau orang yang
dikutuk”.
Pertanyaan Webber menjadi perdebatan panjang pada saat itu.71 Namun yang pasti,
perasaan antara cemas dan pasti membawa orang-orang puritan dan Kristen lainnya mencoba
membuat jalan tengah. Bahwa orang yang dipilih oleh Allah akan terlihat ketika mereka
intropeksi diri dan menggunakan sarana-sarana spiritual untuk memastikan dirinya sebagai
orang pilihan. Dengan demikian, mereka tidak setuju dengan konsep “teologi perjanjian”
  ketika membicarakan predestinasi karena hal itu membuat seseorang menjadi acuh tak acuh.72
Pada masa itu predestinasi hendak dihubungkan dengan “efek psikologis” yang
ditimbulkannya. Jika seseorang dianggap sebagai “kaum pilihan” dari moral, apakah tidak
mirip dengan agama-agama yang lain.73
Gagasan Predestinasi kembali berkembang karena puritan modern menghubungankan
predestinasi dengan penderitaan. Salah satunya berasal dari Puritan Amerika, Jonathan
Edwards, yang memberi banyak komentar dan refleksi mengenai kehidupan orang pilihan
dan pederitaan.74 Pertanyaan yang dilontarkan pada masa ini adalah, “jika anda tidak cemas
tentang pemilihan kekal anda, maka anda jelas-jelas tidak terpilih”. Maka ada konsep
“kesusahan sejati” dalam predestinasi jenis ini. Dalam kesusahan, mereka melihat ke
keyakinan dan menimbulkan kenyamanan yang pada jaman sakramental didapatkan melalui
misa atau sakramen.
Konteks Kepentingan Predestinasi secara Sosial
Salah satu pendekatan senior Calvin, yaitu Luther dan Zwingli dalam menjelaskan
predestinasi adalah dari sisi sosial. Sebuah pendekatan yang juga diyakini oleh Calvin. Pada
saat itu banyak orang-orang buangan Protestan yang melarikan diri dari penganiayaan yang
terjadi di beberapa bagian Eropa. Calvin sendiri adalah seorang pengasingan dari Katolik
Perancis. Sebagai kota refu-gees, Jenewa sangat sensitif terhadap ancaman militer Katolik
yang semakin meningkat. Kekalahan Liga Protestan Schmalkaldic di Jerman pada tahun 1547
merupakan sebuah tanda ancaman yang nyata. Dalam sejarah, ada peristiwa yang dikenal
dengan istilah “bloody Mary”, dimana pada tahun 1554 Inggris mengirim orang buangan.75
Dalam kondisi yang begitu buruk, pada masa itu konsep Predestinasi Calvin sangat
menolong. Selain karena kehidupan Gerejawi yang “gelap” bisa disebutkan bahwa predestinasi
juga lahir dalam konteks sosial. Sama halnya dengan kemunculan Predestinasi Agustinus
yang tak bisa dipisahkan dari kejamnya kekaisaran Romawi. Predestinasi pada zaman itu
merupakan sebuah doktrin penghiburan dan kelangsungan hidup. Adanya hubungan gagasan
predestinasi dengan keadaan sosial saat itu mendorong Calvin untuk menghubungkan
penganiayaan yang tidak mungkin terjadi tanpa alasan.76 Orang benar akan selalu menderita
karena orang-orang dunia dengan dosa-dosanya akan selalu membenci umat pilihan. Keadaan
yang buruk akan menguji orang-orang pilihan Allah yang pada akhirnya akan dibenarkan.
Jadi tidak mungkin melepaskan gerakan reformasi dari aspek sosial dan politik.77
Jadi, dapat diduga bahwa terdapat hubungan antara predestinasi dengan kondisi sosial
pada saat itu. Predestinasi terhubung dengan gagasan bahwa “Allah sebagai pememelihara
umat pilihan”. Komunitas Kristen protestan yang sedang terjepit pada saat itu diyakinkan
bahwa apapun kondisinya, Allah mengendalikan nasib mereka.78 Karena itu, dalam buku III
dari “institutes”, Calvin seperti membuat sebuah pedoman praktis bagi orang percaya. Dari
aspek kepentingan “pengharapan bagi orang percaya yang tertekan”, gagasan predestinasi
Calvin diapresiasi. Tetapi bukan dari aspek teologinya.
Misalnya Oberman yang mengatakan bahwa “doktrin pemilihan Calvin tidak hanya
menjijikkan, namun juga tidak saleh”. Predestinasi Calvin dianggap hanya berharga dari
sudut pengalaman rohani yang memang diperlukan pada saat itu.79 Oberman menjelaskan
predestinasi dalam tiga Reformasi berturut-turut: Pertama; Reformasi yang diprakarsai oleh
Luther, Kedua; Reformasi kota-kota, dan ketiga; Reformasi yang dikembangkan oleh para
pengungsi yang dianiaya. Pertanyaannya, dimana posisi predestinasi Calvin? Menurut
Oberman, penekanan predestinasi Calvin terletak pada pemeliharaan Allah sehingga
predestinasi jenis ini berada di transisi antara reformasi kedua dan ketiga.80 Melihat
predestinasi Calvin harus menghubungkannya dengan gagasan besar bahwa Allah adalah
tempat perlindungan yang hebat bagi umat pilihan Allah  Karena itu, jika predestinasi dipertanyakan baik secara filosofis maupun teologis,
Calvin merasa kesulitan. Kesulitan ini mendorong Calvin untuk mengakui bahwa percakapan
tentang “takdir” merupakan sebuah pertanyaan yang membingungkan. Calvin mengusulkan
supaya konsep pemilihan Allah itu sebaiknya tidak terlalu diganggu gugat dengan
pengetahuan manusia yang terbatas karena keingintahuan yang berlebihan dapat
menimbulkan bahaya spiritual.82
Keadaan orang percaya yang sedang “lemah” dapat menimbulkan keraguan atas
pemeliharaan Allah. Bagi Calvin, tindakan seperti itu juga dapat dikategorikan sebagai sikap
mencela Allah. Bagi Calvin, “Allah tidak dengan sengaja membiarkan orang-orang
percaya”.83 Untuk menekankan gagasan ini, Calvin merujuk pendapat Agustinus tentang
kasus pemilihan Yakub vs Esau dan menyimpulkan aspek kedaulatan Allah di dalamnya.84
Calvin membuktikan konsep predestinasi ganda, bahwa Allah secara aktif memilih sebagian
orang dan pada saat yang sama secara aktif menolak. Memilih sebagian secara logis berarti
menolak sebagian. Memilih untuk menyelamatkan sebagian, secara logis juga berarti memilih
untuk menghukum sebagian.85 Dalam hal pendekatan terhadap teks-teks predestinasi yang
memunculkan polemik, Calvin menafsirkan dengan menggunakan pendekatan Agustinus.86 87
Dalam pemaparannya tentang predestinasi ganda, Calvin menegaskan bahwa Allah
tidak membeda-bedakan dalam menerapkan belas kasihan (anugerah) dan penghukuman.
Calvin mengakui bahwa keputusan Allah semacam ini memang mengerikan (dalam tulisan Calvin “institutes“ pada buku III. 23.7, 955, naskah Latinnya memang berbunyi “decretum
horrible” yang juga dapat diterjemahkan “dekrit yang menakutkan”).88
Predestinasi Calvin disanggah dengan keras oleh Jerome Hermes Bolsec sekitar tahun 1550.
Perselisihan yang ditimbulkannya menjalar ke hingga urusan publik sehingga Bolsec diusir
dari kota. Beberapa orang yang mengutuki predestinasi Calvin juga menerima perlakuan yang
mirip dengan Bolsec. Menjelang kematian Calvin pada tahun 1564, penjelasan tentang
“takdir”nya meninggalkan kontroversi-kontroversi yang tak terselesaikan. Calvin bahkan
disebut oleh beberapa orang sebagai “manusia serigala dari teologi reformed” karena
dianggap mengajarkan konsep Allah yang keji.89 Walau konsep teologi predestinasi Calvin
menimbulkan kontroversi-kontroversi, namun doktrin ini secara sosiologis menghibur banyak
orang percaya yang saat itu sedang mengalami pergumulan hebat dan krisis perang yang
berkepanjangan.90
KESIMPULAN
Dari hasil pembahasan, ditemukan beberapa gagasan. Pertama, pemaknaan konsep
predestinasi di setiap zaman berbeda-beda. Hal ini menandakan bahwa kemunculan paham
predestinasi dipengaruhi oleh konteks yang berbeda-beda. Kedua, gagasan predestinasi ganda
dimulai dari era Agustinus. Agustinus sendiri merintis gagasan tersebut berdasarkan latar
belakang sosial dan pengalaman pribadinya sendiri. Ketiga, predestinasi di masa Martin
Luther dipengaruhi oleh pergulatan antara ilmu filsafat di masa skolastik yang terbentur
dengan konsep predestinasi Agustinus yang bermula dari pengalaman pribadi. Keempat,
predestinasi ganda Calvin dipengaruhi oleh keadaan Gereja dan Negara yang tak terpisahkan.
Artinya, saat itu keputusan Gereja mengandung aspek kepentingan negara yang cenderung
politis dan sosialis. Dalam konteks tertentu, predestinasi Calvin dapat berguna positif bagi
kalangan yang tertekan secara sosial dan ekonomi.
Saran bagi para sarjana yang hendak meneliti topik predestinasi adalah, hendaknya
percakapan tentang predestinasi tidak dimulai dari pemaknaan teks predestinasi berdasarkan
analisa teologi semata, namun juga memperhatikan aspek historis dan sosial. 
Allison, Gregg R. Historical Theology: An Introduction to Christian Doctrine. Grand
Rapids: Zondervan, 2011
Augustine, On the Predestination of the Saints (De praedestinatione sanctorum), in Four Anti-
Pelagian Writings. Diterjemahkan oleh John A. Mourant and William J. Collinge, in The Fathers of the
Church, vol. 86. Washington, D.C.: Catholic University Press of America, 1992.
Bettenson, Henry and Chris Maunder. Documents of the Christian Church, edisi ketiga. New York: Oxford
University Press, 1999.
Bouwsma, William J. John Calvin: A Sixteenth-Century Portrait. New York: Oxford University Press, 1988.
Brown, Peter, Augustine of Hippo: A Biography, edisi revisi. Berkeley: University of California Press, 2000.
Collinson, Patrick, The Elizabethan Puritan Movement. Berkeley: University of California Press, 1967.
Ellen Stortz, Martha, “Where or When Was Your Servant Innocent?’ Augustine on Childhood,” in The Child in
Christian Thought. Dicetak oleh Marcia J. Bunge. Grand Rapids, Mich.: Eerdmans, 2001.
Eric Schmidt, Leigh, Holy Fairs: Scottish Communions and American Revivals in the Early Modern Period.
Princeton, N.J.: Princeton University Press, 1989.
Ferguson, John, Pelagius: A Historical and Theological Study. Cambridge: Heffer and Sons, 1956.
Gerald, Bray. Documents of the English Reformation. Minneapolis: Fortress, 1994.
Harden Weaver, Rebecca, Divine Grace and Human Agency: A Study of the Semi-Pelagian Controversy.
Macon, Ga.: Mercer University Press, 1996.
Huldrych Zwingli, On Providence and Other Essays, Cetakan dan terjemahan William John Hinke. 1922;
Durham, NC: Labyrinth, 1983
Kelly, J. N. D. Early Christian Doctrines, edisi revisi. San Francisco: Harper and Row, 1978.
Lake, Peter. Moderate Puritans and the Elizabethan Church. Cambridge: Cambridge University Press, 1982.
Levering, Matthew. Predestination. Biblical and Theological Paths. Oxford : Oxford University , 2011.
M. G. Reardon, Bernard. Religious Thought in the Reformation, edisi kedua. London: Longman, 1995.
MacCulloch, Diarmaid, The Reformation. New York: Viking, 2003.
MacGregor, Kirk R. A Molinist-Anabaptist Systematic Theology. Lanham, Md.: University Press of America,
2007.
Malcolm H. MacKinnon, “Part I: Calvinism and the Infallible Assurance of Grace: The Weber Thesis
Reconsidered,” dan “Part II: Weber’s Exploration of Calvinism: The Undiscovered Provenance of
Capitalism,” British Journal of Sociology, 39, 1988.
Martin Luther, The Bondage of the Will, LW 33:43. Terjemahan Kolb, Bound Choice, Election, and Wittenberg
Theological Method: From Martin Luther to the Formula of Concord, Lutheran Quarterly Books.
Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2005.
Mathisen, Ralph W, Ecclesiastical Factionalism and Religious Controversy in Fifth-Century Gaul.
Washington, D.C.: Catholic University of America Press, 1989.
Oberman, Heiko Augustinus. The Harvest of Medieval Theology: Gabriel Biel and Late Medieval Nominalism.
Durham, N.C.: Duke University Press, 1983.
Paul Althaus, The Theology of Martin Luther, diterjemahkan oleh Robert C. Schultz. Philadelphia: Fortress,

impola summa

Dalam "Summa Theologiae", Santo Thomas Aquinas membahas tentang Trinitas, yaitu doktrin Kristen mengenai satu Allah yang dalam tig...