Rabu, 15 Maret 2023

Yesus Kristus sebagai Mesias di Benak Agama Yahudi Oleh: Pangeran Manurung

Pokok Permasalahan 

Secara garis besar pokok masalah Kristologi yang masih layak untuk dibicarakan  di mimbar akademis adalah mengenai gelar “Mesias” yang disandang oleh Yesus  Kristus. Secara umum komunitas Yahudi-Islam dan sebagian Kristen masih dilematis  dalam memposisikan Yesus, khususnya mengenai kelayakan Yesus Kristus untuk  diterima sebagai Mesias. Menempatkan Yesus Kristus di tempat yang benar bagi  ketiga Agama besar ini telah terbukti bukan perkara yang mudah. Khusus bagi Yahudi-Islam, Secara umum Kristen menerima Yesus Kristus sebagai Mesias. 

Sebaliknya bagi Yahudi dan Islam. Sebagian Yahudi memunculkan gerakan setengah  Yudaisme dan setengah Kristen dalam hal memandang Yesus sebagai Mesias. Begitu  pula dengan Islam.1 Berikut beberapa garis besar masalahnya.

a. Tafsiran berbeda terhadap Teks Mesianik 

Pertanyaan yang masih relevan sampai sekarang adalah, “Apa alasan kuat sebagian orang Yahudi memutuskan untuk tidak menerima Yesus Kristus sebagai Mesias? Apakah karena mereka tidak membaca teks-teks kemesiasan dalam Perjanjian Lama? Tentu mereka membaca dan memahaminya. Bahkan mereka lebih fasih dalam penguasaan bahasa asli Perjanjian Lama di banding pembaca modern seperti saya. 

Di tempat lain, mengapa Kristen dengan berani menafsirkan teks mesianik dalam Perjanjian Lama sebagai dasar me- “mesias” kan Yesus Kristus ? Tidak sedikit Rabbi Yahudi yang menganggap pihak Kristen terlalu lancang atau terlalu maju dalam menafsirkan kitab Perjanjian Lama sebagai dasar mentahbiskan Yesus sebagai Mesias. Singkatnya, kenapa Yahudi dan Kristen berbeda dalam mengidentifikasi Yesus Kristus padahal keduanya memiliki isi teks Perjanjian Lama yang sama ?

b. Gambaran Mesias yang Samar-Jelas

 Dalam beberapa kali diskusi lintas agama, penulis bertemu dengan beberapa cendikiawan Islam yang tertarik dengan aliran “Islam Mesianic”  Misalnya Kejadian 3; Yesaya 53:1; 9:5-6; 57:2; Mikha 5:1-2; Mazmur 22:1-22, dan lain-lain. Misalnya seperti Rabbi Tovia Singer yang telah beberapa kali datang ke Indonesia untuk  berdiskusi dengan kelompok Islam Mesianic perihal persamaan Islam-Yahudi Atau mungkin penggenapan Mesias tidak begitu jelas dalam Perjanjian Baru? Sarjana Alkitab telah memberi beberapa opsi jawaban terhadap pertanyaan ini. Pada umumnya argumen yang tersedia hanya seputar gambaran Mesias Yudaisme yang tidak paralel dengan sosok Kristus dalam Perjanjian Baru. Bagi kaum Yahudi, Kristus tidak memenuhi kualifikasi sebagai Mesias yang ideal. Karena itu kebanyakan orang Yahudi yang mengaku sebagai penganut Yudaisme tidak menerima Yesus sebagai Mesias jika merunut aspek gambaran ideal Mesias nenek moyang Yahudi. Apa hanya ini dalangnya atau penyebab Yahudi menolak Yesus sebagai Mesias? Mungkin jawabannya bisa iya. Tetapi kenapa beberapa orang Yahudi lainnya mampu menerima Kristus sebagai penggenap sosok Mesias yang dijanjikan itu? 

c. Yahudi Mesianik: 50 % Yahudi – 50 % Kristen 

Sejumlah orang Yahudi menerima dan mengakui Yesus Kristus sebagai Mesias. Kelompok ini disebut "Messianic Jews" (orang Yahudi Mesianik). Yesus Kristus lahir dan hidup sebagai orang Yahudi selama di dunia. Demikian pula murid-murid yang dipilih-Nya dan ditinggalkan berasal dari Yahudi. Rasul Paulus, penulis sebagian besar kitab-kitab Perjanjian Baru bahkan seorang Yahudi fanatik. Masalahnya, dapatkah seseorang menjadi Yahudi murni tetapi pada saat yang sama memeluk Iman Kristen? Banyak pemikir yang kebingungan dengan status ini. Salah satunya Rabbi Barry. "Tidak ada orang Yahudi yang menerima Yesus sebagai Mesias. Jika seseorang membuat suatu komitmen iman, mereka menjadi Kristen. Tidak mungkin seseorang menjadi Kristen dan Yahudi secara bersamaan. Pertama-tama, tulisan ini akan mencantumkan pikiran dan pendapat beberapa Rabbi mengenai sosok Yesus Kristus yang dianggap tidak memenuhi kualifikasi sebagai Mesias. Mulai asumsi yang lunak sampai kepada penolakan kasar yang diwacanakan Rabbi Yahudi akan ditampilkan guna melakukan penghitungan teologis mengeni layak atau tidaknya Yesus sebagai Mesias. 

A. YESUS KRISTUS DAN BERBAGAI “TEORI MESIAS” DALAM LITERATUR RABBI MODERN

Dalam berbagai literatur mesianik, Kristus yang ditulis secara bebas cenderung dianggap tidak layak memenuhi kriteria Mesias idaman Yudaisme. Sosok Kristus dianggap merusak citra Mesias yang sesungguhnya. 

a. Literatur Rabbi Modern: Usaha menjauhkan Kristus dari Sosok Mesias Rabbi Barry Dov Lerner, Why don't Jews accept Jesus as the Messiah? "Mengapa orang Yahudi tidak menerima Yesus sebagai Mesias?

Beberapa literatur Rabbinik tidak memuat atau enggan memuat sosok Kristus sebagai tokoh penting seperti misalnya sebagai Mesias. Karena itu ada dugaan bahwa otoritas Kristen di Eropa umumnya tidak tahu mengenai kemungkinan adanya rujukan mengenai Yesus dalam literatur para Rabbi seperti Talmud sampai tahun 1236, ketika seorang konvert dari Yudaisme, Nicholas Donin, memaparkan 35 tuduhan formal terhadap Talmud di hadapan Paus Gregorius IX, dan tuduhan ini diperhadapkan kepada rabbi Yehiel dari Paris untuk mengajukan pembelaan pada Disputation of  Paris tahun 1240. Dalam literatur ini, Yesus Kristus diusahakan untuk tidak mendapat tempat dalam dokumen Rabbi. Oleh karenanya pembelaan utama Yehiel adalah "Yeshu" yang disebut-sebut dalam literatur rabbinik adalah seorang murid dari Joshua ben Perachiah, dan jangan dirancukan dengan Yesus (Vikkuah Rabbenu Yehiel mi-Paris). 

Dalam “Disputation of Barcelona” (1263) yang merupakan kelanjutannya  Nahmanides mengemukakan poin yang sama. Beberapa pemuka agama Yahudi seperti Rabbi Jacob ben Meir (Rabbeinu Tam), Jehiel Heilprin, dan Jacob Emden (abad 18) mendukung pandangan ini. Namun, tidak semua Rabbi menerima pendapat tersebut. Jika ada dokumen Rabbinik yang merujuk kepada Kristus, biasanya bersifat konfrontasi, penghujatan, atau penolakan. Sejumlah karya sastra rabbinik klasik Yahudi ditemukan memuat rujukan kepada Yesus, termasuk beberapa naskah Talmud Babilonia yang tidak disensor (disunting kira-kira sebelum tahun 600 M) dan sastra midrash klasik yang ditulis antara tahun 250 dan 700 M. Terdapat berbagai pandangan luas berapa referensi yang sesungguhnya merujuk kepada Yesus. Karena umumnya ditulis setelah Skisma antara Kekristenan dan Yudaisme, maka tidak heran bahwa rujukan-rujukan itu pada dasarnya bersifat negatif, bahkan cenderung melecehkan figur Yesus maupun perbuatan dan ajaran-ajarannya, bahkan termasuk juga ibunya dan murid-muridnya. Tidak heran ada upaya gereja Katolik Roma untuk menekan orang Yahudi agar menghapuskan catatan negatif mengenai Yesus dalam literatur mereka. Sehubungan dengan adanya penganiayaan, komunitas Yahudi menerapkan sensor terhadap diri sendiri untuk membuang rujukan-rujukan mengenai Yesus dalam tulisan-tulisan mereka supaya tidak lagi menjadi sasaran serangan. Morris Goldstein, bekas Profesor "Old and New Testament Literature dan Burket mengisahkan: Maka, pada tahun 1631 "Jewish Assembly of Elders" di Polandia menyatakan: ‘Kami menginstruksikan kalian di bawah ancaman larangan besar untuk tidak menerbitkan dalam edisi baru Mishnah atau Gemara apapun yang merujuk kepada Yesus orang Nazaret... Kalau kalian tidak dengan cermat mematuhi surat ini, melainkan melakukan yang berlawanan dan terus menerbitkan buku-buku kita dengan cara yang sama seperti sebelumnya, kalian dapat menimpakan kepada kami dan kalian sendiri penderitaan yang lebih besar dari waktu-waktu silam.’Mula-mula, bagian yang dihapus dalam cetakan Talmud ditandai dengan lingkaran kecil atau spasi kosong, tetapi kemudian inipun dilarang oleh sensor. Akibat dari sensor berlipat dua ini maka volume-volume literatur Rabbinik biasa hanya memuat sisa-sisa yang tidak jelas dari informasi yang seharusnya berkaitan dengan Yesus.

Dr. Robert Morey menambahkan: "Untunglah, salinan-salinan teks sebelum tahun 1631 yang tidak disensor masih tersimpan di Oxford University dan beberapa perpustakaan Eropa lainnya. jadi pernyataan-pernyataan mengenai Yesus tidak pernah benar-benar 'hilang'. Naskah-naskah itu diterbitkan terpisah dalam sejumlah edisi dan dipelajari oleh para pakar Yahudi secara privat. Tidak ada orang yang membantah fakta-fakta itu lagi ... Meskipun Talmud Babilonia edisi Soncino termasuk teks yang sudah disensor, tetapi para penyuntingnya biasanya menyisipkan bacaan aslinya pada catatan kaki. Kami telah mengembalikan pernyataan-pernyataan mengenai Yesus ke tempat asalnya pada teks yang bersangkutan dan menandainya. Maimonides, sebagai salah satu Rabbi berpengaruh mewakili ungkapan hati dari komunitasnya ketika meratapi kesakitan yang dirasakan oleh orang Yahudi sebagai akibat kepercayaan baru yang mencoba menggantikan ajaran Yudaisme, secara spesifik Kekristenan dan Islam. Pemikirannya tercatat dalam "Mishneh Torah" dan  "Epistle to Yemen" atau “Surat kepada orang Yahudi di Yaman” yang ditulisnya pada tahun 1172. Beberapa pemikirannya tentang Yesus Kristus adalah: Juga Yesus orang Nazaret yang membayangkan bahwa ia adalah Mesias dan dibunuh oleh pengadilan, sudah dinubuatkan oleh Daniel. Demikianlah dikatakan, “Dan anggota kelompok pelanggar hukum dari bangsamu akan terbawa untuk membuat suatu penglihatan terlaksana. Dan mereka tersandung.” (Daniel 11:14). Karena, apakah ada batu sandungan yang lebih besar dari orang ini? Sedemikian semua nabi berbicara berkata mengenai Mesias untuk menebus Israel, dan menyelamatkan mereka, dan mengumpulkan orang-orang terbuang, dan menguatkan hukum-hukum mereka. Tapi orang ini menyebabkan (bangsa-bangsa) menghancurkan Israel dengan pedang, dan menceraiberaikan sisanya, dan membuat mereka terhina, dan menukar Taurat, dan membuat mayoritas dunia melakukan kesalahan untuk melayani suatu sosok ilahi di samping Allah. 


Tulisan lain yang menjauhkan Yesus Kristus dari sosok Mesias juga diungkapkan oleh McDowell: Dan inilah tradisi: Pada hari menjelang Paskah mereka menggantung Yeshu (ha-Natzri, "orang Nazaret"). Seorang penteriak sebelumnya selama 40 hari su dah berkata, [Yeshu ha-Natzri] akan dirajam! karena ia mempraktikkan sihir dan menipu dan menceraiberaikan Israel. Barangsiapa yang mendapati sesuatu yang membenarkannya, biarlah ia maju dan menyatakannya mengenai dia. Dan mereka tidak mendapati apapun yang membenarkannya. Dan mereka menggantungnya pada hari menjelang Paskah. Ulla berkata, 'Apakah kalau dianggap [Yeshu ha-Natzri] seorang revolusioner, itu akan membenarkannya?' Ia adalah penipu dan yang Maha Pemurah ( Allah) telah berfirman (Ulangan 13:8), ‘Engkau tidak boleh membiarkannya, maupun menyembunyikannya.' Tetapi berbeda dengan [Yeshu ha-Natzri] karena ia dekat dengan kerajaan.'" (Sanhedrin 43a) atau "ia dekat dengan jabatan raja. Usaha menjauhkan Yesus Kristus sebagai sosok Mesias dalam teks Rabbinik tidak bisa dihindari karena kepentingan pengakuan kepadanya melanggar rumusan Allah yang Esa bagi kaum Yahudi. Maka rangkuman bagian-bagian Talmud yang mendukung fakta-fakta mengenai Yesus pun tidak memiliki hubungan dengan gambarannya sebagai Mesias. Sebaliknya cenderung negatif. Jika positif, hanya sebatas kemampuan Yesus Kristus dalam melakukan mujizat. 

Rangkuman literatur Rabbinik Liberal tentang Yesus Kristus adalah: 

Pertama; Yesus dilahirkan dalam situasi yang tidak lazim, mendorong beberapa rabbi menyebutnya sebagai "ben Pandira" dan "seorang anak haram dari wanita pezinah." 

Kedua; Maria, ibu Yesus, adalah putri Heli atau Eli. 

Ketiga; Yesus disalibkan (atau "digantung", istilah Yahudi untuk "penyaliban") pada hari menjelang Paskah.

Keempat; Yesus adalah putra seorang perempuan. Pengakuan ini sangat umum. 

Kelima; Yesus mengklaim sebagai Allah, Anak Allah dan anak manusia. Tetapi klaim ini tidak mungkin benar. 

Keenam; Yesus naik ke langit dan mengklaim akan datang kembali. Kliam yang bersifat subjektif. Ketujuh; Yesus dekat dengan kerajaan dan dengan jabatan raja. 

Kedelapan; Yesus mempunyai sedikitnya lima murid.

Kesembilan; Yesus melakukan mujizat, yaitu "mempraktikkan ilmu sihir". 

Kesepuluh; Nama Yesus mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan. 

Kesebelas; Ajaran Yesus mengesankan bagi seorang rabbi.Bagi Yudaisme, sebelas rangkuman ini tidak bermaksud untuk menjadikan Yesus Kristus sebagai tokoh penting. Ini hanya catatan biasa dalam aspek tradisi tertulis.

b. Yesus yang Berpotensi sebagai Mesias Palsu 

Anggapan bahwa Yesus adalah Mesias palsu banyak dimuat dalam literatur Rabbi modern. Memang Yesus Kristus menyandang gelar “Mesias” dalam Perjanjian Baru. Al’quran juga menyebut Yesus Al-Masih (Mesias). Namun menurut Fatoohi, istilah “Mesias” dalam arti yang pertama kali muncul tidak menerima bahwa Yesus adalah Mesias. Jika Yesus harus dianggap “mesias”, itu tidak dalam kacamata Yudaisme. Paralel dengan ini, penulis yang lain lebih tegas mengatakan bahwa Yudaisme pada umumnya memandang Yesus sebagai salah satu dari sekian banyak mesias palsu yang muncul dalam sejarah.Bahkan Yesus dipandang sebagai yang paling berpengaruh, dan akibatnya paling menimbulkan kerusakan, di antara semua mesias palsu.Mungkin asumsi ini yang menjadi salah satu penyebab mendidihnya kemarahan orang Yahudi terhadap Kristus pada abad pertama. Jika mengacu kepada keyakinan dasar kaum Yahudi dalam Ulangan 6, secara tegas Yudasime tidak pernah menerima klaim penggenapan apapun yang diberikan oleh orang Kristen kepada Yesus. Yudaisme juga melarang orang menyembah seseorang dalam bentuk penyembahan berhala, karena kepercayaan utama dalam Yudaisme adalah satu Allah yang mutlak Esa. Penyembahan Kristen terhadap Kristus dianggap sebagai penilaian yang melenceng jauh. Karena itu kaum Yahudi tidak segan menertawakan doktrin Kristologi yang diajarkan di kelas akademis. Namun, karena kebanyakan orang Yahudi percaya bahwa Mesias belum datang dan zaman Mesianik belum tiba, maka penolakan Yesus secara keseluruhan baik sebagai Mesias maupun sebagai ilah bukanlah masalah sentral dalam Yudasime. Inti Yudaisme adalah Taurat, semua Mitzvot atau perintah, Tanakh, dan monoteisme etika seperti Shema, semuanya lebih kuno daripada urusan Yesus sebagai Mesias. Singkatnya, isu Yesus sebagai Mesias tidak mendapat tempat yang penting dalam pikiran Yahudi.

c. Fungsi dan Gambaran Mesias dalam Perjanjian Lama: Lebih dari Satu

Jika menyelidiki arti Mesias dari akar katanya, dalam Perjanjian Lama ada banyak Mesias. Mengacu kepada Bahasa Ibrani, gelar “Mesias” atau “Mashiah” berarti “yang diurapi”. Dalam bahasa Aram “Meshiha” juga memiliki makna yang sama. Pengertian ini dipahami oleh orang Israel secara umum karena telah menyaksikan upacara pengurapannya ketika Allah memilih seseorang untuk tugas tertentu. Mengutip data-data dalam Perjanjian Lama, Fatoohi menyebutkan bahwa tidak hanya satu orang saja yang pernah diurapi atau hanya satu peran saja yang membutuhkan pengurapan. Jabatan Imam, Nabi, dan Raja tercatat membutuhkan upacara penyandangan gelar “Mesias” ini. Seorang penulis dalam blog menambahkan bahwa klaim Kristen yang hanya menganggap Yesus Kristus sebagai Mesias tunggal adalah akal-akalan karena sosok Mesias yang dikenal oleh orang Yahudi tidak hanya satu. Pengurapan terhadap Imam yang diperintahkan Oleh Allah dalam Keluaran 40:12-15 adalah salah satu bentuk me-mesias-kan seseorang.

 ו ְהִ ל בַּ ש ת ָּ֙ ְאֶֶֽ ת־אַּ הֲ ר ֹ֔ ןְא ֵ֖ תְבִ ג ד ֵ֣ יְהַּ ק ֹּ֑ דֶ שְּומ שַּ ח ת ְ א ת֛ ֹוְ  ו קִ דַּ ש ת ְא תֵ֖ ֹוְו כִ ה ןְלִ ֶֽ י׃ Exodus 40:13 

Kaukenakanlah pakaian yang kudus kepada Harun, kauurapi dan kaukuduskanlah dia supaya ia memegang jabatan imam bagi-Ku (Kel.40:3)

Ketika seorang diurapi oleh Allah untuk menjabat sebagai Imam, proses pengurapannya disebut sebagai usaha untuk “me-mesias-kan” atau memfungsikan Imam tersebut sebagai Mesias. Fungsi Mesias tidak hanya dilihat dalam pengurapan Imam saja, tetapi juga dalam penobatan seorang Nabi. Salah satu contoh pengurapan Nabi adalah pengurapan Yesaya (Yes.61:1). 

ר֛ ּוחַּ ְאֲד נ יְי הוִ ֵ֖הְע ל ֹּ֑יְיַַּ֡ עַּ ןְמ שַּ ח ְ י הו ָּ֙ הְא תִִ֜ יְל בַּ ש ֵ֣ רְעֲנ וִִ֗ יםְש ל חַָּּ֙ נִ יָּ֙ ְ Yesaya 61:1 

לַּ חֲב ֵ֣ שְל נִ ש ב ר י־ל ֹ֔ בְלִ ק ר ֹ֤ אְלִ ש בּויִ םָּ֙ ְד רֹ֔ ֹורְו לַּ אֲסּורִ ֵ֖ יםְפ קַּ ח־קֶֽ ֹוחַּ ׃

Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara (Yes.61:1)

Ketika Yesaya diurapi menjadi Nabi, pada saat yang sama dia sedang di-mesiaskan oleh Allah dalam konteks fungsinya sebagai Nabi. Selain penobatan Imam dan Nabi sebagai Mesias, ada juga konsep pemesiasan dalam bentuk yang lain, yaitu Mesias sebagai Raja. Pengurapan Raja atau penobatan Raja sebagai Mesias terjadi ketika Samuel mengurapi Saul dan Daud (I Sam.10:1; 16:12-13). 

וַּיִ קַָּּ֙ חְש מּוא ִ֜ לְאֶ ת־פַּ ְךְהַּ שֶ ֛ מֶ ןְוַּיִ צ קְעַּ ל־ר אשֵ֖ ֹוְוַּיִ ש ק ֹּ֑ הּוְוַּי ֹּ֕ אמֶ רְ 1 Samuel 10:1 

הֲ לִ֗ ֹואְכִ ֶֽ י־מ ש חֲך ְ י הו ֛הְעַּ ל־נַּחֲ ל תֵ֖ ֹוְל נ גִ ֶֽ יד׃

Lalu Samuel mengambil buli-buli berisi minyak, dituangnyalah ke atas kepala Saul, diciumnyalah dia sambil berkata: "Bukankah TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel? Engkau akan memegang tampuk pemerintahan atas umat TUHAN, dan engkau akan menyelamatkannya dari tangan musuh-musuh di sekitarnya. Inilah tandanya bagimu, bahwa TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas milik-Nya sendiri... (1 Samuel 10:1).

Pengurapan Nabi dan Raja sekaligus malah pernah terjadi di jaman Elia (I Raj.19:15-16). Penggunaan istilah “Mesias” juga dalam konteks ketika Allah mendeskripsikan janjiNya kepada Abraham (I Taw.16:15-22). Gelar ini bahkan boleh disandang oleh Raja yang non-Yahudi seperti Raja Persia, Koresh (Yes.45:1).

כ ה־א מַּ ֵ֣ רְי הו ה֘ ְלְִמ ְשִ יחֹוְ֘ ל כֵ֣ ֹורֶ שְאֲשֶ ר־הֶ חֱ זַּ ֵַ֣֣ק תִ יְבִ ֶֽ ימִ ינִ֗ ֹוְל רַּ ד־ Yesaya 45:1 ל פ נ יוָּ֙ ְְְְְּגֹויִֹ֔ םְּומ ת נ יְמ ל כִ ֵ֖ יםְאֲפַּ ת ֹּ֑ חַּ ְלִ פ ת ֹ֤ חַּ ְל פ נ יוָּ֙ ְד ל תַֹּ֔ יִ םְּוש ע רִ ֵ֖ יםְל אְיִ ס ג ֶֽ רּו׃

Beginilah firman TUHAN: "Inilah firman-Ku kepada orang yang Kuurapi, kepada Koresh yang tangan kanannya Kupegang supaya Aku menundukkan bangsa-bangsa di depannya dan melucuti raja-raja, supaya Aku membuka pintu-pintu di depannya dan supaya pintu-pintu gerbang tidak tinggal tertutup (Yes.45:1).

Dari data-data diatas muncul pendapat bahwa sebenarnya Mesias dalam Perjanjian Lama muncul dalam fungsi dan gambaran yang berbeda-beda. Contohnya seperti yang diutarakan oleh Fatoohi bahwa orang-orang yang disebut Mesias diatas tidak dikaitkan dengan konsep penyelamatan dan sebaliknya pengharapan Mesianik tidak dihubungkan dengan figur-figur yang disebut Mesias.Jika teks-teks mesianik seperti pengurapan Nabi, Imam, dan Raja diatas diaplikasikan kepada Yesus, tentu sosok Mesias itu tidak tunggal.

d. Figur Mesias tidak Bersifat Eskatologis

Berkaca dari kejamakan fungsi dan kepentingan Mesias diatas, muncul pertanyaan apakah figur Mesias itu bersifat eskatologi? Sepertinya penggunaan istilah “mesias” dalam konteks ini terlihat tidak berkonotasi adanya pengharapan sosok eskatologis. Karena itu dalam Jewish Encyclopedia23 tidak menghubungkan istilah “Mesias” dengan figur yang akan datang. Atas dasar ini, beberapa pemikir menduga sepertinya orang-orang yang disebut Mesias tidak dikaitkan dengan pengharapan penyelamatan. Sebaliknya, pengharapan mesianik tidak dihubungkan dengan figur-figur yang disebut Mesias seperti Saul, Daud, Koresh, dan lain-lain. Bahkan menurut Louay Fatoohi, pasasi-pasasi Mesianik ini tidak disetujui oleh sebagian besar orang Yahudi sebagai dokumen mesianik karena pasasi ini ditafsirkan secara berbeda oleh kelompok-kelompok tertentu dalam periode sejarah Yahudi yang berbeda.24 Vermes akhirnya menyimpulkan bahwa konsep Mesianik sebenarnya tidak mendapat tempat yang penting dalam teologi Yahudi, mungkin sebaliknya dalam Kekristenan:Orang Kristen tanpa penguasaan pengetahuan tentang sejarah agama Yahudi cenderung membayangkan Mesias sebagai figur utama dalam teologi Yahudi pada masa Yesus. Pada kenyataannya kegairahan mesianik sama sekali tidak meluas, namun hanya secara sporadik terlihat dalam literatur Yahudi, terutama di tengah guncangan politik dua abad terakhir pra-Kristen. Jika kedatangan Mesias itu harus bersifat eskatologis, maka Kristus juga tidak dapat dijadikan sebagai objek nubuatan karena masa eskatologis yang dimaksud bukan di jaman Yesus Kristus. Dalam Yesaya 2:4 dan 11:9, sekilas dapat melihat Eskatologi Yahudi yang percaya bahwa kedatangan Mesias akan dihubungkan dengan runtunan peristiwa tertentu yang belum terjadi, termasuk kembalinya orang Yahudi ke tanah air mereka dan pembangunan Bait Suci, suatu era Mesianik yang penuh kedamaian dan pengertian di mana selama itu "pengetahuan akan Allah" memenuhi bumi dan karena orang Yahudi percaya bahwa tidak ada di antara peristiwa ini terjadi dalam kehidupan Yesus (atau setelahnya, kecuali kepulangan orang Yahudi ke tanah Israel). Seperti yang ditulis oleh Josh McDowell: 

"And it is tradition: On the eve of Passover they hung Jeshu [the Nazarene]. And the crier went forth before him forty days (saying), [Jeshu the Nazarene] goeth forth to be stoned, because he hath practiced magic and deceived and led Israel astray. Anyone who knoweth aught in his favor, let him come and declare concerning him. And they found naught in his favor. And they hung him on the eve of the Passover. Ulla said, 'Would it be supposed that [Jeshu the Nazarene] a revolutionary, had aught in his favor?' He was a deceiver and the Merciful (i.e. God) hath said (Deut. xiii 8), ‘Thou shalt not spare, neither shalt thou conceal him.’ But it was different with [Jeshu the Nazarene] for he was near the kingdom.'" (Sanhedrin 43a) Would you believe that any defense would have been so zealously sought for him? He was a deceiver, and the Allmerciful says: "You shall not spare him, neither shall you conceal him." It was different with Jesus, for he was near to the kingship. 

Jika mengacu kepada sisi Eskatologis konteks ini, maka Yesus bukan Mesias yang diharapkan. Fungsi dan kepentingan sosok Mesias yang bersifat “sekarang” memberi ruang untuk menolak Yesus Kristus sebagai Mesias karena sifat penggenapannya yang masih “menunggu”.

e. Gambaran Mesias yang Berbeda-beda

Diantara berbagai macam Mesias yang dapat dilihat seperti yang dijelaskan diatas, sepertinya Mesias yang dideskripsikan sebagai “Putra Daud” merupakan yang paling menonjol. Menurut Fredriksen, Mesias Putra Daud merupakan sosok terbaik dan yang paling diakui, menerobos batas-batas sekteraian maupun temporal. Sosok ini dijelaskan melimpah dalam tradisi Rabbinik. Lebih dalam lagi, keyakinan bahwa Allah akan mengirimkan sang Mesias yang merupakan keturunan Daud pada akhir zaman untuk mewujudkan pembebasan Israel dianut oleh semua orang Yahudi, walau penggambaran Mesiasnya berbeda-beda. Menurut Sanders, Mesias yang dipahami dalam dokumen-dokumen pra Kristen  menggambarkan sosok yang berbeda-beda. Mesias tidak selalu ditampilkan sebagai seorang pemimpin militer seperti raja leluhurnya. Misalnya dalam Mazmur Salomo 17 dalam bahasa Yunani yang menggambarkan sosok Mesias yang tidak perlu berperang. Sedangkan dalam naskah laut mati, Sanders menyebut bahwa jumlah Mesias ada dua. Mesias yang satu adalah keturunan Daud sang raja, sedangkan Mesias yang lain adalah keturunan Harun sang Imam. Biasanya Mesias yang keturunan Imam lah yang berotoritas. Kerancuan ini menurut Fatoohi diperparah oleh pengarang Perjanjian Baru dengan segala kontradiksinya. Jadi dapat memahami mengapa Yahudi memiliki imajinasi sosok Mesias yang berbeda dengan Kristen dan Islam.

f. Menolak Mesias yang bersifat Ilahi

Mesias yang dikenal oleh Yudaisme dan Islam adalah manusia biasa. Sehingga haram hukumnya menerima keilahian Yesus Kristus dan gelar “Mesias”Nya pada saat yang bersamaan. Kepercayaan akan keilahian Yesus dianggap tidak kompatibel dengan Yudaisme. Rayner berujar, “Seluruh Kristologi Gereja atau seluruh doktrin kompleks tentang Anak Allah yang mati disalibkan untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa dan kematian - tidak kompatiblel dengan Yudaisme, dan merupakan diskontinuitas dengan Hebraisme yang mendahuluinya. Jadi pengagungan keilahian Kristus dan pengakuan kemesiasanNya tidak mendapat tempat dalam ajaran Yudasime. Penulis Yahudi lainnya mengutuk garis iman Kristologi Kristen sebagai senjata penghancur ajaran Yahudi. Kaplan mengatakan, “Selain dari kepercayaan bahwa Yesus adalah Mesias, Kekristenan telah mengubah banyak konsep paling fundamental dari Yudaisme. Karenanya sampai kapanpun Keilahian Kristus sepertinya tidak bisa diterima. “Doktrin Kristus dulu dan sekarang tetap asing bagi pemikiran agamawi Yahudi. Seorang Rabbi berpengaruh di komunitasnya memasang tembok tebal bagi peluang diterimanya Yesus Kristus sebagai Mesias. Rabbi tersebut menulis: Bagi seorang Yahudi, bentuk shituf apapun dianggap penyembahan berhala dalam arti yang paling penuh. Tidak ada jalan bagi seorang Yahudi untuk menerima Yesus sebagai suatu ilahi, perantara atau Juruselamat (Mesias), atau bahkan sebagai nabi, tanpa mengkhianati Yudaisme.Rabbi dan komunitas Yahudi pada dasarnya tidak memberi celah masuknya paham Mesias yang Ilahi dalam doktrin mereka. Tidak mungkin Mesias dianggap sebagai Allah atau bersifat ilahi karena itu bertabrakan dengan dasar iman “Shema”. Apapun komunitas yang mengakui sosok “Mesias Ilahi”, tidak akan bersahabat dengan mereka. Rabbi Susan dan Heschel dengan tegas menuliskan, “Jika engkau percaya Yesus adalah Mesias, mati untuk dosa-dosa orang lain, putra pilihan Allah, atau dogma lain dalam kepercayaan Kristen, engkau bukan orang Yahudi. Engkau adalah orang Kristen. Titik. Rabbi Susan menambahkan, “Selama dua ribu tahun, orang Yahudi menolak klaim bahwa Yesus menggenapi nubuatan mesianik dalam Alkitab Ibrani, maupun klaim dogmatik tentang dia yang dibuat oleh bapa-bapa gereja, bahwa ia dilahirkan oleh seorang perawan, putra Allah, bagian dari suatu Trinitas ilahi, dan dibangkitkan dari kematian.” Segala upaya dan penjelasan tentang status Yesus Kristus sebagai Allah dan Mesias dalam konteks ini tidak bisa diterima.

B. KRISTUS DAN BERBAGAI “TEORI MESIAS” DALAM LITERATUR YAHUDI MESSIANIK

Sebelumnya Yesus Kristus telah di posisikan sebagai manusia biasa secara positif dalam literatur Rabbinik. Penilaian negatif dari kaum Yahudi terhadap Yesus Kristus malah mengarah kepada hujatan bahwa Kristus adalah pengacau, mesias palsu, dan dalang utama terkontaminasinya ajaran Yudaisme murni. Di tempat lain, di luar teks. teks-teks di atas, ada kelompok para Rabbi yang menganut pandangan yang lebih lunak tentang Yesus Kristus. Sebagian mengakui keilahianNya sekaligus menerima ke “Mesias”an-Nya.

a. Kristus sebagai Mesias: Gerakan Yahudi atau Kristen ?

Orang-orang yang berada dalam komunitas Yahudi Mesianik yang menerima Yesus Kristus sebagai Mesias dan Anak Allah dianggap tidak mewakili Yudaisme. Ada yang beranggapan bahwa gerakan ini dibuat oleh kaum Kristen. Tetapi menurut McGirk, banyak anggota gerakan ini adalah etnis Yahudi, dan beberapa dari mereka berpendapat bahwa Yudaisme Mesianik adalah sekte dari Yudaisme. Tetapi rganisasi organisasi Yahudi dan gerakan keagamaan, termasuk Mahkamah Agung Israel (mengenai Hukum), menolak pendapat ini, dan menganggap Yudaisme Mesianik adalah suatu bentuk agama Kristen. Kelompok Kristen umumnya menerima Yudaisme Mesianik sebagai bentuk agama Kristen. Dari tahun 2003 sampai 2007, gerakan ini tumbuh dari 150 rumah ibadah Mesianik di Amerika Serikat menjadi sebanyak 438, dengan lebih dari 100 di Israel dan di seluruh dunia. Sering jemaat menjadi anggota organisasi Mesianik yang lebih besar atau aliansi pada tahun 2008, gerakan itu dilaporkan memiliki antara 6.000 dan 15.000 anggota di Israel dan 250.000 di Amerika Serikat.38 Menurut Jerusalem Post, ada sekitar 12.000 orang Yahudi Mesianik yang tinggal di Israel, dan da sekitar seperempat juta orang Yahudi Mesianik yang tinggal di Amerika Serikat. Ini menandakan bahwa penerimaan Kristus sebagai Mesias tidak dilakukan oleh segelintir orang.Tetapi apakah gerakan ini baru muncul di abad modern? Jika dirunut ke belakang, menurut Stemberge cikal bakal gerakan ini sebenarnya kembali ke abad pertama ketika Paulus berbicara pertama-tama di rumah-rumah ibadah atau sinagoge Yahudi di setiap kota yang dikunjunginya 40. Murid-Murid yang mengakui Kristus sebagai Mesias juga terjadi di abad pertama. Bukankah orang-orang yang mendengar khotbah Yesus Kristus juga terjadi di abad pertama? Namun berkhotbah kepada orang Yahudi pada abad-abad awal dan diikuti oleh banyak orang seperti misalnya dalam Epiphanius dari Salamis tidak dianggap sebagai keinginan pribadi orang Yahudi tetapi fenomena massal. Sozomen melaporkan bahwa di Konstantinopel, orang-orang Yahudi yang tak terhitung jumlahnya juga masuk agama Kristen. Pertanyaannya sampai sejauh mana hal itu masih bisa diharapkan dari orang-orang Yahudi yang baru bertobat pada masa ini sehingga mereka harus bergabung dengan jemaat Kristen Yahudi. Apakah mereka tidak berusaha untuk membuat terobosan radikal dengan masa lalu mereka? Karena itu menurut beberapa orang, kegiatan ini biasanya sering dipaksakan bahkan dengan menggunakan kekerasan. Komentar ini bisa disanggah karena kondisi orang percaya dalam Kisah Para Rasul tidak memperlihatkan keadaan yang ricuh. Perkembangan gerakan Yudasime ini selanjutnya terlihat jelas dan terbuka pada abad ke-15 dan ke-16 dimana orang Kristen Yahudi yang menduduki jabatan guru besar di universitas-universitas Eropa mulai menyediakan terjemahan dari teks Ibrani. Pria seperti Paul Nuñez Coronel, Alfonso de Zamora, Alfonso de Alcalá, Domenico Gerosolimitano dan Giovanni Battista Jona terlibat secara aktif dalam menyebarkan Tim McGirk, Israel's Messianic Jews Under Attack. Artikel ini diterbitkan oleh “Majalah Time” pada tanggal 6 Juni 2008. Diakses tanggal 28 Agustus 2017. Lihat selengkapnya di http://content.time.com/time/world/article/0,8599,1812430,00.html

pembelajaran Yahudi. Dalam literatur online Yahudi juga menuliskan hal yang sama.Di Eropa Timur, Yusuf Rabinowitz membentuk misi Kristen dan jemaat Ibrani disebut "Israel dari Perjanjian Baru" di Kishinev, Ukraina tahun 1884 . Rabinowitz didukung dari luar negeri oleh teolog Kristen Franz Delitzsch, penerjemah modern pertama Ibrani Perjanjian Baru. Pada tahun 1865, Rabinowitz membuat pesanan sampel ibadah kebaktian pagi hari Sabat didasarkan pada campuran dari unsur-unsur Yahudi dan Kristen. Mark John Levy mengusulkan Gereja Inggris untuk memungkinkan anggotanya untuk memakai lagi kebiasaan Yahudi. Di Amerika Serikat, jemaat bertobat dari Yahudi ke Kristen mendirikan Messianik di New York City pada 1885. Pada 1890-an, petobat Yahudi imigran ke Kristen beribadah pada gereja Metodis "Hope of Israel". Misi Metodis di Lower East Side New York sementara mempertahankan beberapa ritual Yahudi dan adat Pada tahun 1895. Pada akhirnya kita dapat melihat bahwa gerakan ini dimulai oleh kaum Yahudi sendiri.

b. Status Kristus: Penganut Yudaisme Murni

Dalam berbagai literaur Yahudi Mesianik, Kristus dipandang sebagai sosok yang baik, ideal, dan membawa ajaran yang benar dengan argumen bahwa Ia sendiri tidak meninggalkan Yudaisme. Selain setia dengan doktrin nenek moyang Yahudi, Kristus juga dinilai melakukan hal yang baik bagi orang non-Yahudi. Contohnya dapat dilihat dalam tulisan Jacob Emden: Orang Nazaret ini menampilkan suatu kebaikan ganda di dunia. Di satu sisi, ia menguatkan Taurat Musa secara mulia! sebagaimana disebutkan sebelumnya! dan tidak satupun Sage (orang bijak) kita berbicara lebih tegas mengenai ketidak berubahan Taurat. Dan di sisi lain, ia melakukan banyak hal yang baik terhadap orang asing. Pandangan positif dari kalangan Yahudi seperti ini juga dapat dilihat dalam tulisan Gregory, dimana Kristus dipandang sebagai sosok yang tidak pilih kasih dan cenderung menyayomi. Moses Mendelssohn (beserta beberapa pemikir agama lain dari gerakan Haskalah), menggambarkan Yesus sebagai "orang Yahudi Rabbinik teladan. Dia dianggap sebagai Rabbi yang setia", dan ia bukanlah orang pertama yang berpikir demikian; Elijah Benamozegh melihat kemiripan perumpamaan dan perintah etika dalam Injil dan Talmud, menyimpulkan bahwa "ketika Yesus mengatakan hal ini, tidak mungkin ia meninggalkan Yudaisme. Sementara Levinsohn menegaskan bahwa Yesus adalah seorang Yahudi yang taat hukum. Seorang Yahudi taat seperti Elijah tidak hanya berpendapat bahwa Kristus pantas dijadikan sebagai teladan hidup, lebih dari itu Yesus Kristus digambarkan sebagai seorang Yahudi yang baik, yang tidak bermimpi untuk mendirikan gereja tandingan. Dengan kata lain, ajaran Kristus tidak perlu dianggap haram karena selaras dengan paham Yudaisme.

c. Ajaran Yesus: Gerakan Kristenisasi yang diterima Kaum Yudaisme

Jika sebelumnya Kristus diterima oleh kalangan dalam aspek personal, kelompok Yahudi pada abad 19 lebih baik. Mereka menerima ajaran Kristus disamping memuji pribadi-Nya yang terkenal baik. Nama komunitas ini dikenal sebagai "Messianic Jews" atau “Yahudi Mesianik" Yaakov menambahkan bahwa dalam fase pertama gerakan ini, selama permulaan  dan pertengahan tahun 1970-an, orang Yahudi yang menjadi Kristen mendirikan beberapa Kongregasi atas inisiatif sendiri. Tidak seperti komunitas Yahudi Kristen sebelumnya, kongregasi-kongregasi Yahudi Mesianik ini kebanyakan tidak tergantung dari kontrol yayasan misionaris atau denominasi Kristen, meskipun  mereka masih menginginkan diterima oleh komunitas evangelikal yang lebih luas. Gordon menambahkan bahwa Yudaisme Mesianik adalah suatu gerakan Protestan yang muncul pada pertengahan kedua abad ke-20 di antara orang-orang percaya yang secara etnis dari bangsa Yahudi tetapi telah mengadopsi iman Kristen Injili. Menurutnya sampai tahun 1960-an, sebuah usaha baru untuk menciptakan suatu budaya Kekristenan Protestan Yahudi di antara individu-individu yang mulai menyebut diri mereka sendiri sebagai “Yahudi Mesianik”. Fakta ini menunjukkan bahwa sebagian kaum Yahudi dapat bersentuhan dengan Iman Kristen sampai kepada aspek teologinya. Pandangan Lewis lebih jelas ketika mengatakan bahwa di tahun-tahun ini (abad 19) orang Amerika Yahudi mulai tertarik untuk menjadi bagian dari Kekristenan. Perlu diingat bahwa sumber asal dan kebiasaan Yahudi yang dimaksud di sini adalah sama dengan kaum Yahudi Liberal yang menolak Kristus dan ajaranNya. Menurut Sherbok, Yahudi-Amerika yang masuk Kristen ini dikenal sebagai orang Kristen Ibrani yang awalnya mengambil komitmen untuk mengikuti konsepsi Kristen Ibrani tetapi pada saat yang bersamaan muncul komunitas Yahudi-Ibrani yang terus berkembang mencari gaya hidup yang condong lebih “Yahudi”. Hal ini menurut Sherbok memunculkan divisi diantara mereka; kelompok yang ingin dikenal sebagai Yahudi dan komunitas yang berusaha mengejar tujuan Kristen-Ibrani. Gerakan ini pada akhirnya juga disebut “Yudaisme Mesianik”. Tentu keinginan Kristen-Ibrani dalam mencari kekhasan adatnya bisa dimaklumi. Walau dua kelompok itu sama-sama disebut sebagai komunitas “Yudaisme Mesianik”, namun Dr.Bulent membedakannya. Menurutnya, orang-orang Kristen Ibrani cukup senang untuk diintegrasikan ke dalam gereja-gereja Kristen, namun orang-orang Yahudi Mesianik lebih mencari sebuah ungkapan teologi. Gerakan ini memadukan teologi Kristen evangelis dengan unsur Yahudi dengan berbagai ritualnya. 

d. Hakekat Kristus: Pengakuan Mesias - Anak Allah - Trinitas

Berbeda dengan dokumen Rabbinik Liberal yang menolak Kristus sebagai Mesias, kaum Yudaisme Mesianik secara tegas dan lantang memproklamasikan Yesus Kristus sebagai Mesias dan Anak Allah. Mereka juga tidak sungkan mengakui Kristus sebagai bagian dari Tri Tunggal. Chenbok berujar, Orang-orang Yahudi Mesianik bersatu dalam kepercayaan mereka terhadap Trinitas. Meskipun menggunakan Shema dalam liturgi, keyakinan bahwa Tuhan adalah trinitas adalah ciri utama iman mereka.” Jadi keyakinan dasar Mesianik Yudaisme terletak pada pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias dan Anak Allah. Tepatnya “Anak Allah” sebagai salah satu pribadi dari Trinitas.Apa keanehannya? Memang bagi orang Yahudi Mesianik, konsep trinitas terdengar terlalu bukan Yahudi. Sulit rasanya membayangkan jika ada orang Yahudi menyembah Allah diluar Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Karena itu terminologi yang berbeda digunakan untuk menggambarkan realitas ilahi yang sama. Oleh karena itu, dalam Yudaisme Mesianik, terminologi yang berbeda digunakan untuk menggambarkan realitas ilahi yang sama. Meskipun demikian, kepercayaan Tuhan adalah tritunggal didasarkan pada keyakinan bahwa Yeshua adalah Tuhan. Bahwa jika di lapangan ada beberapa faksi mengenai rumusan Iman di atas, paling tidak Yudasime Mesianik pada dasarnya menerima Kristus sebagai Mesias yang dijanjikan. Keyakinan komunitas ini terhadap Mesias sebagai Anak Allah tidak hanya dituangkan dalam dokumen, tapi dalam bentuk proklamasi lisan dalam sebuah forum kongres. Bunyinya: Kami percaya bahwa ada satu Allah, yang selalu ada dalam tiga pribadi, Bapa, Anak dan Roh Kudus. Kami percaya kepada keilahian Yeshua, Tuhan, yaitu sang Mesias, dalam kelahiran perawan-Nya, dalam kehidupan tanpa dosa-Nya, dalam mukjizat-mukjizat-Nya, dalam kematian-Nya dan penebusan kematian melalui darah-Nya yang tertumpah, dalam kebangkitan jasmani-Nya, dalam  kenaikan-Nya ke pangkuan kanan Bapa, dan dalam kedatangan pribadi-Nya dalam kuasa dan kemuliaan. Komunitas yang sama di tempat lain juga mengikrarkan iman Mesianic mereka dengan mengatakan: Ada satu Tuhan yang dinyatakan dalam Shema (Ulangan 6: 4) yang adalah "Echad, sebuah kesatuan gabungan, yang selama-lamanya ada dalam tiga pribadi: Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus (Yesaya 48:16 -17; Efesus 4: 4-6). Dalam keilahian Tuhan kami, Mesias Yeshua, dalam kelahiran perawannya, dalam kehidupan tanpa dosa-Nya, dalam mukjizat-mukjizat-Nya, dalam kematian penebusan-Nya, dalam kebangkitan jasmani-Nya, dalam kenaikan-Nya ke tangan kanan Bapa, dalam pribadi-Nya di Masa depan yang akan kembali ke bumi dalam kekuasaan dan kemuliaan untuk memerintah. Di bagian paham keselamatan, ajaran Mesianik Yudaisme mengajarkan bahwa keselamatan hanya melalui penerimaan Yesus sebagai Juru selamat seseorang. Karena itu setiap hukum Yahudi atau kebiasaan yang diikuti adalah budaya yang tidak memberikan kontribusi untuk mencapai keselamatan. Kepercayaan pada kemesiasan dan keilahian Yesus, yang dipahami oleh penganut Yudaisme Mesianik ini dipandang oleh banyak kalangan sebagai sesuatu yang membingungkan sekaligus sebagai pijakan untuk membedakan Kristen dan Yudaisme Mesianik..Lotcker dalam kebingungannya mengatakan bahwa itulah sebabnya orang Yahudi dan “Yahudi pengikut Yesus” memiliki masalah. Komunitas Yudaisme menurutnya adalah kelompok yang bermuka dua karena merasa dapat memaksa seseorang untuk menjadi Yahudi dan Kristen sekaligus. Kebingungan ini bisa dipahami jika merunut akar Yudasime yang kaku dalam penyembahan terhadap Allah. Namun dokumen ini menyediakan informasi yang berbeda dengan literatur Rabbinik Liberal. "What are the Standards of the Union of Messianic Jewish Congregations (UMJC)?" Doktrin ini dinyatakan oleh komunitas ini dalam acara Union of Messianic Jewish Congregations pada bulan Juni 2004

PENUTUP

Sosok Yesus Kristus telah ditampilkan dari dua sisi yang berbeda. Dua komunitas Yahudi di atas memposisikan Yesus Kristus dalam dua tempat. Yang satu menolak dan menghujat. Sedangkan yang lain menerima dan mengagungkanNya. Bagaimana Alkitab menyajikan siapa Yesus Kristus dan hubungannya terhadap gelar “Mesias” yang disandang masih perlu dibahas dalam bagian kedua sekaligus membandingkan bagaimana pandangan Islam dan kitabnya dalam mengisahkan Yesus Kristus. Bersambung...

======================================

5 Saadia R. Eisenberg, Reading Medieval Religious Disputation: The 1240 "Debate" Between 

Rabbi Yehiel of Paris and Friar Nicholas Donin

6

J. D. Eisenstein, Vikuach HaRamban found in Otzar Havikuchim (Hebrew Publishing 

Society, 1915) dan tulisan Rabbi Charles D. Chavel, Kitvey HaRamban (Mosad Horav Kook, 1963), 

Lihat paragraf 22.

7 David R. Catchpole, The trial of Jesus: a study in the Gospels and Jewish Historiography 

from 1770 to the Present Day (Leiden:1971), 62 

8 Delbert Burkett, The Blackwell Companion to Jesus (2010), 220. "Karenanya, analisis para 

pakar mempunyai rentang luas, dari kelompok minimalists (misalnya Lauterbach 1951) yang mengakui 

hanya relatif sedikit bacaan yang sesungguhnya menyangkut tentang Yesus dalam pemikirannya 

sampai kelompok moderat (misalnya Herford [1903] 2006), sampai ke kelompok maksimalis (Klausner 

1943,17–54; khususnya Schäfer 2007)

9Josh McDowell & Bill Wilson, He Walked Among Us: Evidence For The Historical Jesus

(Nashville: Thomas Nelson Publishers, 1993), 58-59

10 Robert A. Morey. "Jesus in the Mishnah and the Talmud" (California Institute of 

Apologetics), 1-2

11 Moses Maimonides atau Musa Maimun dikenal sebagai seorang 

teolog Yahudi (rabbi), dokter, dan filsuf di Al-Andalus, Spanyol masa kini dan Mesir yang lahir, hidup 

dan berkembang dalam rahim abad keemasan kebudayaan Islam pada Abad Pertengahan. Ia adalah 

salah satu dari beberapa filsuf Yahudi yang juga berpengaruh pada lingkungan non Yahudi. Meskipun 

mula-mula karya-karyanya di bidang hukum dan etikaYahudi memperoleh penolakan pada masa 

hidupnya, setelah kematiannya ia dikenal sebagai salah satu rujukan teologi tepercaya (rabbinical 

arbitrer) dan filsuf utama dalam sejarah bangsa Yahudi. Saat ini, karya-karya dan pandangan￾pandangannya dianggap sebagai pedoman pemikiran dan pelajaran bagi Yahudi Ortodoks. 

12 A. James Rudin, Christians & Jews Faith to Faith: Tragic History, Promising Present, 

Fragile Future, (Jewish Lights Publishing, 2010), 128–129.

13 Josh McDowell & Bill Wilson, He Walked Among Us: Evidence For The Historical Jesus

(Nashville: Thomas Nelson Publishers, 1993), 58-59, 65

4 Josh McDowell & Bill Wilson. "He Walked Among Us: Evidence For The Historical Jesus,

65

15 Ibid, 58-59.

16 Louay Fatoohi, The Mystery of Historical Jesus (Bandung: Mizan Pustaka, 2012), 357

17 Lihat artikel kaum Yahudi yang dengan tegas menyebut Kristus sebagai Mesias palsu 

http://www.jewishencyclopedia.com/articles/8616-jesus-of-nazareth

18 Maimonides, Mishneh Torah, Sefer Shofetim, Melachim uMilchamot, Chapter 11, Halacha 

19 Lihat penjelasan lebih lengkap mengenai keyakinan Yudasime menurut Ulangan 6 di artikel 

yang diasuh oleh kaum Yahudi http://www.chabad.org/library/bible_cdo/aid/9970

20 Louay Fatoohi, The Mystery of Historical Jesus (Bandung: Mizan Pustaka, 2012), 356-358

21 http://www.sarapanpagi.org/86-konsep-mesias-dalam-alkitab-dan-menurut-yahudi￾vt3193.html. Penulis blog menulis, “ Jika umat Kristen mengklaim bahwa hanya ada satu mesias atau 

kristus yaitu Yesus, adalah BOHONG BESAR. Perjanjian Baru, yang notabene di dalamnya banyak 

menyebut kata "mesias" yang dimaksudkan untuk menunjuk kepada Yesus, adalah kumpulan kitab2 

hasil karya orang2 non Yahudi (Yunani dan Romawi). Sehingga dengan sendirinya, konsep "mesias" 

dalam Perjanjian Baru bertolak belakang dengan gagasan2 umat Yahudi yang memiliki konsep 

tersebut. Dengan kata lain, konsep "mesias" dalam Perjanjian Baru adalah konsep yang mengada2!”

22 Louay Fatoohi, The Mystery of Historical Jesus, 361

23 Jewish Encyclopedia, “Akan tetapi, “Sang Mesias” (dengan kata penunjuk dan bukan 

sebagai lawan dari kata lain) bukanlah sebuah ungkapan Perjanjian Lama, tetapi muncul untuk pertama 

kalinya dalam literatur apokaliptik. Demikian pula, sangat mungkin penggunaan kata “Mashiakh” 

untuk memaksudkan raja mesianik tidak ditemukan lebih awal daripada literatur apokaliptik.

24 Louay Fatoohi, The Mystery of Historical Jesus, 360-361

25 G. Vermes, The Changing Faces Of Jesus (London: Penguin Books, 2000), 28-29

26 Josh McDowell & Bill Wilson, He Walked Among Us: Evidence For The Historical Jesus

(Nashville: Thomas Nelson Publishers, 1993), 65

`

27 P. Fredriksen, Jesus of Nazareth, King of the Jews: A Jewish Life and the Emergence of 

Christianity (London: Macmillan, 2001), 124

28 Ibid, 129

29 E.P. Sanders, The Historical Figure of Jesus (Inggris: Penguin Books, 1995), 89

30 Ibid, 88-89

31 Louay Fatoohi, The Mystery of Historical Jesus, 363-364

32 John D. A. Rayner, Jewish Understanding of the World (Berghahn Books, 1998) 187.

33 Aryeh Kaplan, The Aryeh Kaplan Anthology: Volume 1, Illuminating Expositions on 

Jewish Thought and Practice, (Mesorah Publication, 1991), 264

34 Stephen M. Wylen, Settings of Silver: An Introduction to Judaism, (Paulist Press, 2000), 75

35 Rabbi J. Immanuel Schochet, "Judaism has no place for those who betray their 

roots", ditulis dalam artikel Canadian Jewish News pada tanggal 19 Juli 1999, Judaism and Jesus 

Don't Mix. Lihat selengkapnya di foundationstone.com.

36Rabbi Susan Grossman, Jews for Jesus: Who's Who & What's What (beliefnet -

virtualtalmud), diterbitkan pada tanggal 28 Agustus 2006

37Heschel Susannah, Jewish Views of Jesus ("Pandangan orang Yahudi mengenai Yesus") 

dalam Jesus In The World's Faiths: Leading Thinkers From Five Faiths Reflect On His 

Meaning (Editor: Gregory A. Barker, Orbis Books, 2005), 149

39 Matthew Wagner, Messianic Jews to protest 'discrimination, Diterbitkan oleh The 

Jerusalem Post pada tanggal 26 Juni 2006. Selengkapnya lihat di artikel aslinya di 

http://www.jpost.com/Israel/Messianic-Jews-to-protest-discrimination

40 Günter Stemberger, Jews and Christians in the Holy Land: Palestine in the fourth century 

(Newyork: 2000), 92

41 H. Flannery Edward, The anguish of the Jews: twenty-three centuries of 

antisemitism (1985), 129. Edward ini mengatakan bahwa salah satu petobat yang paling terkenal adalah 

Pablo Christiani, yang menjadi saudara laki-laki Dominikan dan seorang misionaris yang penuh 

semangat untuk orang-orang Yahudi. Dia diberi wewenang untuk berkhotbah di semua sinagog 

Yahudi.

42 Dan Cohn-Sherbok, Messianic Judaism, 12.

43 jewishencyclopedia.com

44 Journal of Ecumenical Studies 19:1, Emden's letter about Jesus (Winter, 1982), 105-111 

Untuk lebih lengkapnya lihat artikel terkait di http://www.auburn.edu/~allenkc/falk1a.html

45 Gregory A. Barker and Stephen E. Gregg, Jesus beyond Christianity: The Classic Texts

(Oxford University Press, 2010), 29-31

48 yang mulai mencuat di abad 19,

49 dan walau 

cenderung membingungkan sebagian kaum Yahudi, pengaruh komunitas ini cukup 

besar. Menurut pemikir dan sejarawan, ketertarikan untuk mengembangkan identitas 

etnis Yahudi tidak mengherankan jika kita mempertimbangkan tahun 1960-an ketika 

Yudaisme Mesianik muncul.50 Bahkan Pada akhir tahun 1960-an dan 1970-an, baik 

orang Yahudi maupun orang Kristen di Amerika Serikat terkejut melihat bangkitnya 

gerakan kuat Kristen Yahudi atau Yahudi Kristen. 

 

46 Matthew B. Hoffman, From rebel to rabbi: reclaiming Jesus and the making of modern 

Jewish culture (Stanford University Press, 2007), 22. Disini disebutkan bahwa Yesus adalah model 

ideal dalam pandangan Rabbi "Mendelssohn depicts Jesus as a model rabbinical Jew... as a loyal 

rabbi" lihat halaman 259: "Mendelssohn was not the first to make such claims. 

Jacob Emden (1696-1776), a leading figure of traditional Judaism in eighteenth-century Germany, also 

looked vary favorably on Jesus" lihat halaman 50

Elijah Benamozegh (1823-1901) showed the resemblance between parables and ethical imperatives in 

the gospels and the Talmud, concluding that 'when Jesus spoke these words he was in no way 

abandoning Judaism'" lihat halaman 258. Levinsohn menegaskan bahwa Yesus adalah seorang Yahudi 

yang taat hukum.

47 Elijah Benamozegh, Israel and Humanity (Paulist Press, 1995), 329

48 Edward Kessler, Messianic Jews, A Dictionary of Jewish-Christian Relations (Cambridge 

University Press, 2005), 292

49 Shoshanah Feher, Passing over Easter: Constructing the Boundaries of Messianic Judaism

(Rowman Altamira, 1998), 140

50 Yaakov Ariel, Judaism and Christianity Unite! The Unique Culture of Messianic Judaism". 

Di Gallagher, Eugene V.; Ashcraft, W. Michael. Jewish and Christian Traditions. Introduction to New 

and Alternative Religions in America (Westport, Conn: Greenwood Publishing Group, 2006), 191.

51 Yaakov Ariel, Judaism and Christianity Unite! The Unique Culture of Messianic 

Judaism" (Westport, Conn: Greenwood Publishing Group, 2006), 192-194

52 J. Gordon Melton, Encyclopedia of Protestantism (Infobase Publishing, 2005), 373

53 James R. Lewis, Odd Gods: New Religions & the Cult Controversy (Prometheus Books, 

2001), 179

54 Dan Cohn-Sherbok, Judaism Today (Continuum International Publishing Group, 2010),100

55 Dr. Bülent Şenay, "Messianic Judaism/Jewish Christianity". (University of Cumbria, 

diakses pada tanggal 29 Agustus 2017). Lihat artikelnya secara lengkap di 

http://www.philtar.ac.uk/encyclopedia/judaism/messiah.html. Salah satu doktrinnya adalah:

Messianic Jews/Jewish Christians adhere to certain Jewish practices while acknowledging Jesus (whom 

they refer to by his Aramaic name Yeshua) as the Messiah foretold in the Hebrew scriptures. 

Traditional Jewish practices observed by Messianic Jews/Jewish Christians are the Friday evening, 

lighting Shabbat candles, kiddush and wearing kippot during their service. The service includes the 

recitation of traditional Jewish prayers in Hebrew, although the words are amended to include Jesus.

According to the constitution of the Messianic Jewish (Hebrew Christian) Alliance "they look to the 

One God (Father, Son and Holy Spirit) as their sole divine authority and acknowledge the Tanach (Old 

Testament) and Brit Hadshah (New Testament) as the Word of God. They reject the authority of 

Rabbinical literature. They accept Messiah Yeshua as their personal saviour. They believe in the 

atonement which he wrought once and for all by His death and His resurrection, and acknowledge

Yeshua as the promised Messiah. They have to make public confession of their faith." People of Jewish 

parentage who share their beliefs are entitled membership; non-Jewish believers, however, are only 

entitled to associate membership.

56 Dan Cohn-Sherbok, Messianic Jewish theology, Messianic Judaism (London: Continuum 

International Publishing Group, 2000), 170

58 “Our Beliefs”, B'rit Hadasha Messianic Jewish Synagogue ( Memphis, Tennessee, 2005)

59 Michael Lotker, It’s More About What is the Messiah than Who is the Messiah: A 

Christian’s guide to Judaism (New York: Paulist Press, 2004), 35

Isu-Isu Kristologi S2 STTII Surabaya, 28-31 Agustus 2017

19

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

impola summa

Dalam "Summa Theologiae", Santo Thomas Aquinas membahas tentang Trinitas, yaitu doktrin Kristen mengenai satu Allah yang dalam tig...