Rabu, 15 Maret 2023

Mengidentifikasi Kekhasan Yesus sebagai Mesias (Oleh: Pangeran Manurung)

Mengukur Kelayakan Yesus Kristus sebagai Mesias di Benak Agama Semitik

Pokok Permasalahan 

Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa sosok Yesus Kristus telah ditampilkan dari dua sisi yang berbeda. Dalam berbagai literatur yang ditulis secara bebas oleh berbagai penulis, Yesus Kristus telah di-nilai dalam dua kualitas yang berbeda. Yang satu menolak dan menghujat. Sedangkan yang lain menerima dan mengagungkanNya. Di satu pihak, kehadiran Yesus Kristus di bumi pada abad pertama ditolak oleh kaum Yahudi sebagai penggenapan Mesias yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama. Di lain pihak, Yahudi lainnya mengimani Kristus sebagai Mesias. Bukan hanya sebagai Mesias, tetapi juga sebagai Anak Allah yang ilahi. Hal ini tentu menimbulkan masalah teologis karena walau berbeda komunitas, secara historis mereka memiliki nenek moyang yang sama, adat istiadat yang sama, dan sumber pengajaran yang sama. Dilandasai pikiran diatas, muncul berbagai keraguan terhadap Yesus. Kemudian berlanjut dengan banyaknya kemungkinan yang diarahkan kepada status Yesus, secara spesifik pada kemesiasanNya. Kebanyakan keraguan ini berakhir pada penolakan terhadap Yesus. Beberapa pertanyaan dan perdebatan yang diutarakan oleh Sarjana dalam pokok ini mencakup enam hal. 

Pertama, apakah istilah “Mesias” dan “Kristus” memiliki kesamaan dalam arti dan pribadi secara keseluruhan atau hanya pada bagian tertentu saja? 

Kedua, bagaimana membuktikan bahwa Yesus menyadari statusNya sebagai Mesias mengingat banyaknya teori yang menyebutkan bahwa Yesus ditahbiskan sebagai Mesias oleh para pengikut loyal-Nya. 

Ketiga, jika jumlah dan fungsi Mesias dalam Perjanjian Lama ada beragam, lalu apa keistimewaan kemesiasan Yesus? Selain itu jika menyamakan kemesiasan Yesus dengan tokoh Perjanjian Lama seperti Koresh juga akan menimbulkan masalah teologis

Keempat, apakah penolakan orang Yahudi abad pertama terhadap Yesus menggagalkan kemesiasanNya? 

Kelima, bagaimana menjawab anggapan Fatoohi dan kelompoknya tentang kemungkinan penulis Perjanjian Baru telah melakukan perubahan konsep Mesias Yudasime yang bersifat “kini” menjadi Mesias Kristen yang bersifat “eskatologis”?

Keenam, bagaimana menanggapi pikiran Dr.Vermes yang menganggap bahwa Yesus tidak layak disebut Mesias jika menguji kemesiasanNya berdasarkan pikiran Yudaisme.

Keparalelan Istilah ‘Mesias’ dan “Kristus”

Apakah istilah “Kristus” paralel dengan “Mesias”?. Apakah penterjemahan istilah “Mesias” dalam bahasa Ibrani ke bahasa Yunani “Kristos” memiliki makna yang sama atau berbeda arti?. Bagaimana seharusnya menyebut Mesias dalam Perjanjian Baru?. Pertanyaan ini adalah penuntun yang penting dalam keseluruhan studi ini. Dalam Perjanjian Lama, istilah Mesias berasal dari kata “masah” (ח ַׁש ָמ) yang memiliki arti “meminyaki” atau “memberi upacara peminyakan suci.” Secara sederhana artinya “diurapi”. Kata“masah” juga bisa mengambil bentuk kata “mesah, misah” yang artinya “sedang meminyaki” dan bisa menjadi “mesiha” yang memiliki arti yang sama “diurapi”. Secara substansi, kata “masah” menjadi “masiah” yang berbentuk aktif. Bentuk pasif partisifnya berarti “yang diurapi”. Bentuk kata bendanya “masiah” yang artinya “minyak.”1 Secara praktis, kata benda “masiah” bermakna “yang diberkati untuk selama-lamanya dengan sebuah kedudukan di masyarakat”, sehingga kata“mesiah” dapat dipakai untuk menunjuk posisi seorang “melek” atau “raja” (Lihat 2 Sam. 3:39, Yes. 21:5).Dalam bahasa Aram, istilah “Mesias” disebut “mesyiha”, yang dalam dialek Ibrani dibaca “masyiah” yang berarti “yang diurapi.” Penggunaan yang paling sering memang digunakan pada penobatan raja2 walaupun juga digunakan untuk Imam dan Nabi. Mengacu kepada arti dasarnya, kata Mesias dan Kristus memiliki arti dasar yang sama, yaitu sosok yang akan menjadi Juruselamat umat-Nya.3 Dapat dikatakan  bahwa Allah turun tangan dalam sejarah keselamatan manusia dengan mengutus utusan-Nya.4 Arti dasar ini memperkenalkan istilah Mesias Perjanjian Lama dengan sebutan yang baru yaitu “Kristus” dalam Perjanjian Baru. Sebutan “Kristus” adalah sebutan yang berakar dari pengertian Yahudi mengenai sosok masa depan yang akan datang sebagai wakil Allah untuk membawa keselamatan bagi umat Yahudi. Konsep keselamatan di sini masih akan diperdebatkan, apakah bentuknya fisik atau kekal. Dalam Perjanjian Baru, istilah “Mesias” muncul sebanyak 571 kali. Data ini memperlihatkan bahwa konsep Mesias mengambil posisi sentral dan penting dalam Perjanjian Baru. Markus yang dianggap sebagai Injil tertua memuat istilah ini 7 kali, Matius menggunakannya 16 kali, Lukas menuliskannya 11 kali, sedangkan Yohanes mencatat sebanyak 20 kali. Jumlah dan kekerapan munculnya istilah ini di dalam empat Injil secara signifikan lebih tinggi daripada penggunaannya dalam Perjanjian Lama sehingga secara substansial perannya sangat besar dalam iman Kristen. Secara etimologi, istilah “Mesias” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani “Kristus”, memiliki arti yang sama, “diurapi”. Dari sisi ini tidak perlu ada banyak ruang perdebatan. Barangkali yang perlu diteliti lebih luas adalah mengenai wajah Mesias Yudasime dan penggenapannya dalam Yesus Kristus yang diduga tidak berkesinambungan. 

PROKLAMASI YESUS SEBAGAI MESIAS

Beberapa tulisan populer seperti “Davinci Code” atau “Jesus Seminar” telah menyodorkan teori bahwa Yesus Kristus tidak sadar bahwa ia adalah seorang Mesias. Ketidaksadaran ini terlihat di semua catatan Injil yang tidak mampu menampilkan proklamasi Yesus atas kemesiasannya. Menindaklanjuti pertanyaan yang bersifat dugaan dari beberapa penulis agresif tentang ketidaktahuan Yesus atas statusNya sebagai Mesias, beberapa jawaban atas hal ini sebenarnya telah ditulis oleh Marvin Plate dari segi historis.5 Saya akan melampirkan argumen secara Biblika. Injil mencatat bahwa Yesus menyadari salah satu fungsi keberadaanNya di dunia adalah sebagai Mesias. Dalam berbagai kesempatan yang direkam secara independen oleh penulis Injil, Yesus menampilkan diri sebagai Mesias. Salah satu contoh, ketika Yesus bertanya kepada murid-murid siapa Dia menurut mereka, Petrus menjawab bahwa Yesus adalah Kristus (baca: Mesias). Yesus menanggapi jawaban ini dengan memerintahkan murid-murid untuk tidak mengatakannya kepada siapapun (Mrk.8:29-30; Luk:9:20-21) dengan berbagai alasan.6 Yesus tidak menolak sebutan ini yang berarti Dia sadar akan konsekuensinya. Jika Dia meminta murid-murid untuk tidak menyebarkannya, alasan politik adalah salah satu jawabannya. Jawaban murid lainnya bahwa Yesus adalah nabi Elia, Musa, dan sosok hebat dalam Perjanjian Lama yang tidak bernilai eskatologis ditolak oleh Yesus Kristus. Hal ini memperlihatkan bahwa Yesus menerima atau hanya membenarkan jawaban Petrus; bahwa Dia adalah Mesias. Penegasan bahwa Yesus adalah Mesias dituliskan oleh Matius dengan penekanan yang lebih dalam, “Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga (Mat.16:17). Pengulangan penyebutan Yesus sebagai Mesias dalam nats ini diteguhkan dengan pernyataan Yesus sendiri bahwa proklamasi yang diucapkan oleh Petrus itu berasal dari Allah sendiri. Dengan kata lain Yesus secara eksplisit dan sengaja menyatakan diri sebagai Mesias.Pengakuan Yesus bahwa Dia adalah Mesias juga dicatat oleh Yohanes dalam kisah pertemuan antara Yesus dan seorang perempuan Samaria. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa rakyat biasa yang secara posisi tidak termasuk dalam lingkaran murid juga mampu memahami bahwa dari ciri-ciri kehidupanNya, Yesus adalah Mesias yang dinantikan. Secara normal tentu murid-murid lebih berpeluang untuk mengenal Yesus baik dalam kehidupan teologi maupun praktis. Lalu mengapa perempuan biasa yang bahkan bukan berasal dari kaum Yahudi menyebut Yesus sebagai Mesias? Mungkin keseharian Yesus yang mencerminkan gambaran Mesias telah menjadi berita yang jamak kala itu. Perempuan Samaria itu menjawab Yesus: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami." Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau." Pada waktu itu datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran, bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan. Tetapi tidak seorang Salah satu alasan kenapa Yesus Kristus melarang murid-murid untuk tidak menyiarkan identitasNya sebagai Mesias berkaitan dengan penyelewengan konsep Mesias di kalangan Yahudi kala itu. Mesias hanya dipahami sebagai pembebas secara fisik dan politik. Alasan lainnya akan dibicarakan lebih lanjut.pun yang berkata: "Apa yang Engkau kehendaki? Atau: Apa yang Engkau percakapkan dengan dia?" Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ:"Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?" Maka mereka pun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus (Yoh.4:25-30).Pengakuan Yesus sebagai Mesias dalam teks di atas berlanjut kepada banyak orang ketika perempuan Samaria memberitakannya sampai ke kota. Karena itu penyebutan dan pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias tidak hanya terjadi di kalangan orang awam, tetapi sampai kepada Pilatus. Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: "Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus? (Mat.27:17) Kata Pilatus kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?" Mereka semua berseru: "Ia harus disalibkan!" (Mat.27:22) Sebagai seorang pejabat negara yang disorot oleh seluruh rakyat, tentu Pilatus telah memperhitungkan secara matang apa saja yang boleh diucapkan dan tidak. Termasuk konsekuensi penyebutannya bahwa Yesus adalah Mesias (Kristus). Pernyataan diri tentang kemesiasan Yesus juga ditampilkan dalam beberapa pengadilan dalam Injil. Menurut Matius, ketika ditanya oleh Imam apakah Yesus adalah Mesias, Yesus menjawab “Engkau telah mengatakannya” (Mat.26:64). Jawaban ini adalah penerimaan Yesus atas pengakuan bahwa Dia adalah Mesias. Peristiwa yang sama ini ditulis oleh Markus dengan menekankan jawaban positif  Yesus, “Akulah Dia” (Mrk.14:62). Lukas menginformasikan bahwa pemuka Yahudi sebenarnya telah mendengarkan jawaban langsung dari Yesus bahwa Dia adalah Mesias tetapi mereka tidak mempercayainya (Luk.22:67). Yohanes menggunakan istilah “Mereka tidak mau percaya Maka orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya: "Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami." Yesus menjawab mereka: "Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, (Yoh.10:24-25). 

Pengkauan Yesus bahwa Dia adalah Mesias juga dapat dilihat menjelang penyalibanNya seperti yang dituliskan oleh Lukas, “Di situ mereka mulai menuduh Dia, katanya: "Telah kedapatan oleh kami, bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar, dan tentang diri-Nya Ia mengatakan, bahwa Ia adalah Kristus, yaitu Raja." (Luk.23:2). Kemarahan Yahudi yang dilukiskan oleh Lukas terjadi karena secara sengaja dan sadar Yesus mengaku bahwa Ia adalah Mesias. Proklamasi Yesus bahwa Ia adalah Mesias tidak hanya dilakukanNya di pengadilan dan di tempat-tempat tertentu ketika Yesus bertemu dengan perempuan Samaria. Di tempat seperti bukit Zaitun pun Yesus menegaskannya kepada murid-murid. Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau: Lihat, Mesias ada di sana, jangan kamu percaya. Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan. (Mrk.13:21-22). Di satu sisi Yesus mengingatkan murid-murid tentang kemunculan Mesias palsu tetapi di sisi lain nats ini juga bermakna bahwa Dia adalah Mesias sesungguhnya jika mengingat pengakuan Yesus pada teks-teks sebelumnya. Selain itu, Matius mencatat bahwa Yesus pernah menekankan bahwa Dia-lah satu-satunya Mesias, “Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias Mat.23:10). Bukti yang ditampilkan di atas secara otomatis menyanggah tulisan beberapa Sarjana seperti Sanders yang mempertanyakan apakah Yesus memandang diriNya sebagai Mesiasatau dugaan Parrinder bahwa Yesus tidak pernah memproklamirkan diriNya sebagai Mesias.8 Nats yang dipaparkan memperlihatkan bahwa Kristus meyakini bahwa Dia adalah Mesias dan membiarkan orang-orang untuk mengetahuinya. Ini menolak pendapat yang dikemukakan oleh Theisen dan Merz tentang adanya kemungkinan bahwa Yesus historis tidak mengetahui apa-apa tentang diriNya.Jika Yesus tidak secara gamblang membuat spanduk besar bertulisan “AKU ADALAH MESIAS”, itu adalah upaya untuk melepaskan diri dari pengharapan politis yang dibangun oleh kaum Yahudi.

KEKHASAN WAJAH KEMESIASAN YESUS

Sosok Mesias dalam Perjanjian Lama dikenal sebagai tokoh yang gagah. Fungsi pengutusannya sebagai Mesias bertujuan untuk membawa kelepasan bagi Israel dari tawanan bangsa-bangsa lain. Kehidupannya tidak lepas dari perang dan selalu berakhir dengan kemenangan. Kriteria ini ada dalam kehidupan Saul, Daud, Koresh, atau Elia yang memang dipanggil oleh Allah untuk menjadi Mesias. Tidak diragukan lagi bahwa Yesus tidak akan layak disebut sebagai Mesias jika hanya mengacu kepada ciri ini. Tentu saja penerapan kriteria Mesias yang diterapkan kepada Yesus dengan hanya bersudut pandang tunggal ini perlu diklarifikasi dengan menyajikan kekhasan wajah kemesiasan Yesus. Kekhasan yang dimaksud adalah usaha yang konsisten menampilkan wajah Mesias yang dikenal Yudasime tetapi dengan sudut pandang pemaknaan yang unik atau berbeda.

MESIAS SEBAGAI ANAK DAUD

Mesias yang harus berasal dari keturunan Daud adalah pokok iman Yudaisme. Keyakinan bahwa Yesus adalah Mesias tidak diproduksi oleh Kristen tetapi Yahudi. Mesias yang dijanjikan berasal dari keturunan Daud dapat dilihat dalam silsilah kelahiran Yesus (Mat.1:1) dan panggilan terhadapNya dalam Injil Sinoptik (Mat.9:27; Luk.18:38; Mrk.10:48). Ketiga Injil Sinoptik sependapat mencantumkan bahwa Yesus adalah keturunan Daud sejak kelahiranNya. Jika leluhur Maria tidak dicantumkan sebagai bukti bahwa Yesus adalah keturunan Daud, itu adalah masalah budaya.10 Yohanes juga mencantumkan keyakinannya bahwa Mesias harus berasal dari keturunan Daud (Yoh.7:42).Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham (Mat.1:1). Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: "Kasihanilah kami, hai Anak Daud." (Mat.9:27). 10 Pembuktian bahwa Yesus adalah Anak Daud tidak akan diakui oleh kaum yahudi jika menggunakan jalur Maria seperti kebiasaan orang Yahudi yang membedakan kualitas status pria dan wanita Lalu ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" (Luk.18:38). Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku! Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!" Lalu Yesus berhenti dan berkata: "Panggillah dia!" Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: "Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau." (Mrk.10:47-49).Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: "Dia ini benar-benar nabi yang akan datang." Yang lain berkata: "Ia ini Mesias." Tetapi yang lain lagi berkata: "Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal." (Yoh.7:40-42). Dalam konteks hubungan kepentingan istilah “Mesias” dengan keberadaan nenek moyang, Yesus berada pada posisi yang benar. Orang Israel tanpa terkecuali menghormati Abraham sebagai Bapa beriman. Karena itu Matius menampilkan kemesiasan Yesus sampai kepada tingkat yang paling tinggi, yaitu Abraham (Mat.1:1). Memang identitas Mesias yang harus berasal dari keturunan Daud pernah dipermasalahkan oleh Yesus sendiri sebagaimana yang ditulis oleh Markus: Pada suatu kali ketika Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berkata: "Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan, bahwa Mesias adalah anak Daud? Daud sendiri oleh pimpinan Roh Kudus berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Daud sendiri menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?" Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan penuh minat (Mrk.12:35-37). Nats ini digunakan oleh beberapa penulis seperti Fatoohi sebagai salah satu dalil untuk menutup kemungkinan Yesus sebagai Mesias karena Dia sendiri menolak klaim bahwa Mesias adalah anak Daud.11 Secara konteks, catatan Markus ini tidak bertujuan untuk menampilkan Yesus yang menolak diriNya sebagai Mesias. Markus menekankan bahwa Yesus lebih superioritas daripada Daud karena kemesiasanNya, tidak sama dengan konsep lama yang selama ini dipahami oleh orang Yahudi. Topik ini akan dibahas di bagian yang lain.Dalam peristiwa kelahiran Yesus yang berhubungan dengan statusNya sebagai keturunan Daud, juga dicatat dalam Injil. Matius mencatat bahwa Mesias akan dilahirkan di Betlehem, tepat seperti yang diketahuinya dari catatan Perjanjian Lama.11 Louay Fatoohi, The Mystery of Historical Jesus (Bandung: Mizan Pustaka, 2012), 36 9Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel." (Mat.2:4-6). Lukas juga menyebutkan bahwa tempat kelahiran Mesias itu ada di kota Daud yang diperkenalkan sebelumnya sebagai Betlehem. Sepertinya kepentingan penyebutan “kota Daud” yang ber-konotasi “kota Betlehem” mengacu kepada kelahiran Yesus sebagai penggenap kedatangan Mesias yang telah dibicarakan panjang lebar oleh nenek moyangnya. Indikasinya dapat dilihat dalam 1 Samuel 16:1 yang memaparkan bahwa Daud berasal dari Betlehem. Yohanes juga turut menginformasikan bahwa Mesias akan datang dari Betlehem (Yoh.7:41-43). Penggenapan bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dapat ditemukan dalam kehidupan Yesus. Identitas siapa Yesus terbaca secara alamiah dari kelahiran dan kehidupanNya sehingga banyak orang tanpa dikomando memanggil Yesus sebagai keturunan Daud. Pengucapan ini dianggap Yesus sebagai iman mereka karena terkoneksi dengan pengharapan kedatangan Mesias yang berasal dari keturunan Daud. Pertanyaan normalnya, dimana penggenapan Mesias sebagai keturunan Daud dapat ditemukan selain dalam kehidupan Yesus? Nubuatan para nabi Perjanjian Lama bahwa Mesias itu harus atau wajib berasal dari keturunan Daud secara terang benderang ditampilkan oleh Yesus, dicatat oleh beberapa orang yang berbeda. Dari segi yang krusial ini, Yesus layak menjabat gelar Mesias.

MESIAS SEBAGAI RAJA YAHUDI

Mesias yang dikenal oleh orang Yahudi pada umumnya adalah seseorang yang akan membebaskan kaum Israel dari penjajahan politik. Mesias yang dinantikan kaum Yahudi diyakini akan mengembalikan kejayaan mereka seperti yang dialami oleh nenek moyang mereka sejak jaman Musa sampai Ezra, bahkan sampai zaman Yesus sendiri. Sehingga salah satu ciri menonjol dari Mesias yang ideal dalam benak mereka adalah sebagai Raja “Politik”. Konsep yang terbatas dan cenderung sempit ini menjadikan makan kemesiasan Yesus menjadi tereduksi. Pengurangan nilai 10 kemesiasan ini yang akan di utarakan dalam bagian ini dengan cara membedakan Mesias sebagai Raja Politik dan Non-Politik.

a. Raja Yahudi Politik

Pertama-tama, Mesias sebagai Raja Yahudi yang ditemukan dan dipahami oleh Yahudi dalam Perjanjian Baru adalah sebagai Raja Politik. Konsep bahwa Mesias itu adalah seorang Raja terlihat jelas dalam tulisan Lukas dan Yohanes: “Kata mereka: "Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!" (Luk.19:38).  Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" (Yoh.1:49).“Mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!" (Yoh.12:13). Gambaran tentang kejayaan yang dihadirkan seorang Mesias sebagai Raja Yahudi ditulis oleh Lukas melalui pernyataan Simeon setelah bertemu dengan Yesus di Bait Allah. Bahkan menurut Simeon, Sang Mesias tidak hanya membebaskan Israel tetapi juga bangsa-bangsa lain: Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. (Luk.2:25-26).

"Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." (Luk.2:29-32).

Konsep Mesias sebagai Raja Yahudi juga dapat ditemukan dalam peristiwa pengadilan Yesus. Para pemuka Yahudi menjelaskan tuduhannya dengan berkata, “Di situ mereka mulai menuduh Dia, katanya: "Telah kedapatan oleh kami, bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar, dan tentang diri-Nya Ia mengatakan, bahwa Ia adalah Kristus, yaitu Raja." (Luk.23:2).

Setelah peristiwa ini, orang-orang yang berkerumun mengklaim bahwa Yesus itu adalah Mesias yang mengaku sebagai Raja dengan harapan Pilatus tidak membebaskan Yesus yang dianggap melawan Kaisar. Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan Dia, tetapi orang-orang Yahudi berteriak: "Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar." Ketika Pilatus mendengar perkataan itu, ia menyuruh membawa Yesus ke luar, dan ia duduk di kursi pengadilan, di tempat yang bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani Gabata. Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas. Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: "Inilah rajamu!" Maka berteriaklah mereka: "Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Haruskah aku menyalibkan rajamu?" Jawab imam-imam kepala: "Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!" (Yoh.19:12-15). 

Penggambaran Mesias sebagai Raja dalam benak Yudaisme dijabarkan juga sampai kepada tiang salib. Pemuka agama Yahudi mengolok-olok Yesus di tiang salib dengan melontarkan kata-kata cemoohan secara kasar. Kemudian mereka mulai memberi hormat kepada-Nya, katanya: "Salam, hai raja orang Yahudi!" (Mrk.15:18). Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai raja orang Yahudi!" (Mat.27:29)..... “dan berkata: "Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri￾Mu!" (Luk.23:37).... dan sambil maju ke depan mereka berkata: "Salam, hai raja orang Yahudi!" Lalu mereka menampar muka-Nya (Yoh.19:3). Ketika Pilatus bertanya kepada Yesus apakah Dia sendiri mengklaim menjadi raja orang Yahudi, dalam Injil Sinoptik mencatat secara kompak bahwa Yesus menjawab “Engkau sendiri yang mengatakannya” (Mrk.15:2; Luk.23:3; Mat.27:11). Karena pengakuan ini, penggambaran Mesias sebagai Raja Yahudi ditegaskan dalam tulisan di atas salib Yesus yang berbunyu, “Raja orang Yahudi” (Mat.27:37; Mrk.15:26; Luk:23:38; Yoh.19:19). 

Keterangan Alkitab dan penjelasan di atas secara eksplisit membuktikan bahwa konsep Mesias sebagai Raja Yahudi adalah sebuah sudut pandang yang akrab bagi masyarakat umum. Mesias yang ideal itu harus dan wajib mampu menampilkan diri sebagai seorang Raja secara politik. Permasalahannya, pola pandangan ini 12 dipaksakan oleh para peneliti seperti Fatoohi terhadap kemesiasan Yesus, yang tentu saja berakibat pada pemutusan hubungan rantai nubuatan Perjanjian Lama tentang kerajaan versi Yesus yang berbeda.12 Di satu sisi Fatoohi berusaha menyamakan konsep Mesias sebagai raja Yahudi “politik” terhadap Yesus tetapi di sisi lain tidak berusaha menangkap bentuk kerajaan seperti apa yang sedang hendak dibawa dan diajarkan oleh Yesus dalam Injil. Mesias sebagai Raja Politik memang telah dipahami secara umum dalam Yudaisme. Tidak ada yang aneh dengan pemahaman ini jika tidak mengaplikasikannya terhadap kemesiasan Yesus yang memang perlu sudut pandang yang khusus. Karena itu setiap usaha yang menyamakan kerajaan Mesias politik dengan kerajaan Yesus tanpa berusaha memahami kerajaan yang dimaksud oleh Yesus sendiri dianggap sebagai tindakan yang tidak fair. Ada kesalahan berpikir di dalamnya karena masing-masing kerajaan memiliki sudut pandang yang berbeda.

b. Raja Yahudi Non-Politik

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Yesus menerima pengakuan dari orang-orang disekitar bahwa Dia adalah Mesias. Yang mungkin dilewatkan oleh para peneliti adalah maksud Yesus yang tidak ingin disamakan dengan konsep Mesias sebagai Raja Politik. Angan-angan tentang Mesias sebagai Raja Yahudi yang akan membebaskan Israel dari penjajahan fisik hendak dijauhkan oleh Yesus dari benak pengikutNya. Usaha ini terlihat ketika Yesus “bersembunyi” atau memerintahkan orang-orang yang dibebaskan dari sakit untuk tidak berbicara tentang kemesiasan Yesus yang dilihat mereka melalui mujizat-mujizatNya. Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: "Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia." Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri (Yoh.6:14-15). Usaha lainnya,Yesus mengatakan kepada Pilatus bahwa kerajaan yang Dia miliki tidak berada dalam dunia ini seperti konsep kerajaan Mesias lainnya. Yohanes mencatat hal ini dengan eksplisit. Maka kembalilah Pilatus ke dalam gedung pengadilan, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya: "Engkau inikah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?" Kata Pilatus: "Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat?" Jawab Yesus: "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini." Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Jadi Engkau adalah raja?" Jawab Yesus: "Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku." Kata Pilatus kepada-Nya: "Apakah kebenaran itu?" Sesudah mengatakan demikian, keluarlah Pilatus lagi mendapatkan orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka: "Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya (Yoh.18:33-38). Yesus memberitahukan bahwa kerajaanNya berbeda dengan kerajaan yang lain. Tidak hanya dalam peristiwa ini. Dalam berbagai kesempatan, maksud Yesus ini dicatat dalam Injil-Injil bahwa kerajaan Yesus berada di Sorga, tidak seperti kerajaan Saul, Daud, Salomo, ataupun kerajaan Koresh yang ada di bumi. Seperti yang dicatat oleh Matius, “lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat.18:3). Karena itu Yesus sering berbicara tentang kerajaan sorga atau kerajaan Allah. Topik ini pun mendapat tempat yang penting dalam Teologi Perjanjian Baru bahwa kerajaan Yesus bersifat spiritual dan kekal. Lukas memberi istilah kerajaanNya sebagai “Kerajaan yang tak berkesudahan” dalam Injilnya. “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan” (Luk.1:31-33). Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." (Luk.1:31-33) Apakah konsep kerajaan kekal ini hanya ada dalam Perjanjian Baru? Secara singkat kita akan membaca beberapa catatan Nabi dalam Perjanjian Lama yang memperlihatkan adanya kerajaan ilahi yang bersifat kekal atau kontras dengan pemerintahan politik. Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia. Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu. Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya." (2 Sam.7:12-16). Secara konteks, janji tentang kerajaan yang kokoh sampai selama-lamanya dalam 2 Samuel diatas adalah mengenai rencana hadirnya kerajaan Salomo. Nats ini adalah percakapan antara Allah dengan Daud. Secara teologis, kerajaan Salomo tidak melahirkan pemerintahan yang kekal. Ada anak atau keturunan Daud lainnya yang akan merealisasikan sistem kerajaan yang kekal itu. Nabi Yesaya mempertegas hal ini dua abad kemudian, ”Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”. Kerajaan Damai belum pernah terjadi di muka bumi ini dalam sepanjang sejarah karena teks ini harus dilihat dalam perspektif eskatologis. Usaha Fatoohi dan teman-temannya memustahilkan Yesus sebagai Mesias dengan mengaplikasikan kedudukan dan kekuasaan seorang Raja Politik terhadap Yesus13 sepertinya menjadi sia-sia jika tidak membandingkan kepentingan eskatologis kerajaan Yesus. Pun tulisan Vermes yang seolah-seolah membenarkan bahwa kerajaan Yesus bukan kekuasaan politik tidak dapat dibenarkan karena pada saat yang sama tidak mengakui kerajaan spiritualNya.14 Para peneliti telah mengambil kesimpulan bahwa konsep Kristen tentang Yesus sebagai seorang raja jelas diwarisi dari tradisi Yahudi dimana Mesias merupakan raja di bumi yang akan membebaskan orang Israel.15 Oleh kesimpulan ini, pertanyaan lanjutan yang dimunculkan peneliti lainnya adalah alasan perubahan konsep Mesias sebagai “Raja Politik” menjadi “Raja Spiritual”

16. Fatoohi menuliskan dugaannya yang sedikit liar tentang hal ini:Berhadapan dengan fakta bahwa kehidupan Yesus berakhir tanpa dia menegakkan kerajaan yang hilang dan yang banyak diharap-harapkan itu, orang Kristen memindahkan takhta Kristus dari bumi ke langit. Kehidupan Yesus yang damai tidak mencakup pencapaian mahkota apa pun, dan caranya berakhir mencerminkan ketidakberdayaan seorang awam bukannya otoritas seorang raja. Demi menyelamatkan klaim bahwa Yesus adalah sang Mesias, Kristus ini harus dipandang sebagai spiritual. Di lain pihak, mayoritas yang memilih untuk tetap setia pada konsep Yahudi yang ada tentang Mesias tidak punya pilihan, kecuali menolak bahwa Yesus yang tidak berdaya itu merupakan Kristus yang ditunggu-tunggu.

17 Usaha Fatoohi dan kawan-kawannya membuktikan Yesus sebagai Mesias dengan cara menyamakan kerajaannya dengan kerajaan duniawi tentu saja akan selalu berbenturan karena tidak melihat secara objektif maksud dan tujuan kerajaan Mesias versi Yesus. c. Kerajaan Raja Yahudi Yang telah Dekat Menerima bahwa kerajaan yang dimaksud Yesus bersifat rohani tetap menimbulkan pertanyaan. Injil menginformasikan bahwa penegakan kerajaan spiritual itu akan segera terwujud. Istilah yang digunakan oleh penulis Injil mengenai kerajaan Yesus yang akan berlangsung adalah “kerajaan yang sudah dekat”. Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Mat.3:1-2).Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (Mrk.1:15).Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Mat.4:17).“Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat.10:5-7).

Dalam kesempatan yang lain Yesus memberi pernyataan yang samar, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya." (Mat.16:28). Sayangnya Fatoohi menafsirkan ayat ini secara hurufiah bahwa kerajaan yang dimaksud oleh Yesus akan datang pada saat itu juga.18 Akibatnya dia mengaplikasikan pernyataan Yesus dalam Injil Matius ini jauh sampai ke surat Tesalonika tanpa melibatkan aspek eskatologis. Istilah “Kerajaan yang telah dekat” itu bersifat eskatologis jika membaca konteksnya. Matius dalam injilnya dan Paulus dalam ajaran teologisnya sedang membicarakan kedatangan Yesus kedua kali. Mereka tidak sedang membenarkan bahwa Kerajaan Yesus akan berlangsung pada masa mereka. Secara lengkap begini bunyi teksnya: Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya." (Mat.16:17-18) Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal. Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini (1 Tes.4:13-17). Penggenapan frase, “Diantara orang yang hadir tidak akan mati sebelum melihat kerajaan Anak Manusia” dalam injil Matius diatas digenapi oleh Rasul Yohanes dalam penglihatannya di pulau Patmos. Sedangkan ungkapan Paulus, “Sesudah itu, kita yang hidup akan diangkat...” merupakan jawaban bagi pertanyaan eskatologis jemaat Tesalonika. Saya menolak keyakinan Professor Sanders bahwa Yesus menyadari dan mengetahui rencana Allah yang akan memulihkan keadaan di bumi melalui dirinya di jaman murid-murid.19 Saya juga menolak pendapat Fatoohi yang menduga bahwa konsep kerajaan yang dekat itu merupakan penggiringan opini bahwa Yesus akan kembali lagi untuk menegakkan berdirinya kerajaan Allah.20 Kerajaan yang diperlihatkan oleh Yesus terlihat memiliki kekhasan dengan kerajaan Mesias Perjanjian Lama. Istilah “kerajaan dekat” yang diucapkan Yesus juga memiliki kekhasan atau bersifat “eskatologis”. Karena itu segala usaha untuk menafsirkannya dengan pendekatan “kerajaan kekinian” akan bertemu dengan tembok tebal.

MESIAS SEBAGAI TOKOH YANG MENDERITA

Beberapa kritikus seperti Fatoohi berusaha secara hurufiah mendekati figur Mesias Perjanjian Baru dengan sudut pandang Mesias Perjanjian Lama.21 Akibatnya secara teologis Fatoohi berkeinginan mendapati kehidupan Yesus Kristus berakhir dengan kemenangan seperti Mesias yang dicatat dalam Perjanjian Lama. Faktanya Yesus yang dikenalnya dalam Injil adalah Mesias yang menderita dan jauh dari mahkota kemenangan. Secara tidak kebetulan penderitaan Yesus dicatat dalam Injil jauh sebelum penderitaan itu terjadi. Injil Sinoptik dengan kompak mencatat hal ini (Mrk.8:31, 9:12; Mat.16:21; Luk. 9:22, 17:25). Salah satunya dicatat dalam percakapan Yesus dengan beberapa orang yang mengikutiNya. Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata￾Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam namaNya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem (Luk.24:45-47). 

Catatan nubuat penderitaan Yesus sebagai tanda bahwa Dia adalah Mesias dianggap bukan representase konsep Mesias Perjanjian Lama. Para peneliti menghubungkan konsep kemesiasan Yudasime yang tidak mengenal Mesias yang menderita. Kristus  mestinya tidak disiksa dan mati di gantung. Fatoohi mengatakan bahwa Penyaliban Yesus merupakan sebuah kontradiksi dengan konsep Yahudi tentang Mesias.22 Tetapi apakah kebangkitan Yesus dari maut dan kenaikanNya ke Sorga tidak dapat dianggap sebagai kemenangan seorang Mesias mengingat ada harapan tentang kehidupan kekal sang Mesias seperti yang dicatat oleh Yohanes. Jawab Yesus: "Suara itu telah terdengar bukan oleh karena Aku, melainkan oleh karena kamu. Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar; dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu." Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati. Lalu jawab orang banyak itu: "Kami telah mendengar dari hukum Taurat, bahwa Mesias tetap hidup selama-lamanya; bagaimana mungkin Engkau mengatakan, bahwa Anak Manusia harus ditinggikan? Siapakah Anak Manusia itu?" (Yoh.12:30-34).Penggenapan harapan yang diinginkan oleh orang Yahudi diatas tidak terjadi jika melihat kebiasaan Mesias Perjanjian Lama yang selalu mati dan tidak mengalami kebangkitan untuk meneruskan hidup kekekalan. Penggenapan ini hanya ada dalam kehidupan Yesus sebagai Mesias. Apakah ini dikarang oleh penulis Perjanjian Baru ?Atau ada pemaksaan bahwa peristiwa kebangkitan Yesus dan kebangkitanNya harus dipahami sebagai penggenapan Mesias yang akan hidup selama-lamanya? Pertanyaan ini diajukan oleh Theissen dan Merz23, tetapi kita tahu bahwa secara alamiah penulis Injil mengungkapkan konsep Mesias yang lebih komphrehensif dibanding konsep Fatoohi tentang Mesias yang harus membawa kemenangan politik.Catatan yang masih perlu di bahas lebih dalam tetapi perlu dilampirkan sekarang di bagian ini adalah nubuat para Nabi Perjanjian Lama tentang adanya penderitaan yang akan dialami oleh sang Mesias. Panorama nubuatan tentang penderitaan Mesias terdapat di dalam banyak nats Perjanjian Lama (Mzm. 22:2-22; Yes.53:5-10; 52:13-15 (53:5,7,9,10). Bandingkan dengan nats-nats lain dalam Mazmur 34:21; 35:11; 41:10; 50:6. Dan dapat dibandingkan dengan pernyataan Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru (Mat.12:38-42; 16:21; 17:22-23; 20:18-19; 26:31; Mrk.8:31; 9:31; 10:32-34; Luk.9:22; 44; 18:31-33; Yoh.12:32-33). Beberapa nats Alkitab lainnya akan dibahas dalam bagian yang lainMempertimbangkan catatan ini, berarti kehidupan Mesias yang harus selalu menang juga tidak sepenuhnya tepat walaupun pandangan kaum awam tidak dapat diubah secara instan. Butuh sudut pandang yang objektif untuk membaca nubuatan nabi tentang adanya “kekalahan fisik” yang harus dialami oleh Mesias eskatologis. Pendekatan ini akan menuntun kita untuk mengerti bahwa konsep Mesias yang menderita tidak digagas oleh agama Kristen, tetapi bermula dari nubuatan nabi Perjanjian Lama. 

MESIAS SEBAGAI PEMBUAT MUJIZAT

Jika kembali kepada defenisi “Mesias” yang artinya “diurapi”, maka kehidupan Mesias tidak dapat lepas dari peristiwa-peristiwa yang menakjubkan. Sebelumnya sosok Saul, Daud, Koresh, dan tokoh lain yang di “Mesiaskan” atau “diurapi” adalah orang sederhana atau sebelumnya tidak mampu membuat mujizat. Pengurapan-lah yang membuat mereka mampu menghadirkan pekerjaan tangan Allah yang ajaib, sama halnya ketika Roh Allah menyertai Gideon, Simson, Ehud, Yefta, Barak, dan tokoh pembuat mujizat lainnya dalam kitab Hakim-Hakim. Secara umum kaum Yahudi mengetahui bahwa kedatangan Mesias akan ditandai dengan adanya berbagai Mujizat.

a. Mesias sebagai Pembuat Mujizat dalam Perjanjian Lama

Professor Sanders sangat tegas dalam komentarnya mengenai kemustahilan untuk mengaitkan gelar Mesias dengan kehidupan Yesus sebagai pembuat mujizat. Dia menilai bahwa keyakinan Kristen terhadap Yesus sebagai Mesias adalah opini yang digiring beberapa pihak yang sedang mencari keuntungan. Berikut pendapatnya: Para penganut awal Kristen berpikiran bahwa Yesus adalah sang Mesias, Anak Allah, dan penyelenggara mujizat. Ini telah menggiring banyak orang Kristen modern untuk berpikir bahwa kaum Yahudi abad pertama mencari seorang Mesias yang menyelenggarakan mujizat, dan bahwa orang-orang sezaman Yesus akan menyimpulkan bahwa seorang penyelenggara mujizat adalah Mesias. Pandangan ini tidak tepat. Beberapa rujukan tentang kedatangan seorang Mesias di dalam literatur Yahudi tidak menggambarkannya sebagai penyelenggara mujizat. Tidak ada pengharapan tentang kedatangan Anak Allah sama sekali. Seperti orang-orang zaman kuno lainnya, orang Yahudi percaya pada mujizat tetapi tidak berpikir bahwa kemampuan untuk menyelenggarakannya merupakan bukti kedudukan yang mulia. Kombinasi gelar “Mesias” dan “Anak Allah” dengan kemampuan menyelenggarakan mujizat merupakan gagasan Kristen, hasil dari pelekatan kedua gelar kepada Yesus, yang pada masanya dikenal sebagai penyelenggara mujizat.24 Professor Sanders mungkin lupa bahwa ketika Yesus melakukan mujizat di masa itu, banyak orang Yahudi (bukan Kristen) yang melayangkan pandangan teologinya kepada pengharapan Mesias. Mereka tidak diarahkan untuk menyebut Yesus sebagai Mesias karena dalam tradisi Yahudi memang telah berakar ajaran pengharapan Mesias. Tidak masuk akal untuk mengira bahwa Kristen yang merintis pemahaman bahwa Mesias adalah pembuat Mujizat sedangkan identitas mereka belum ada ketika Yesus melakukan mujizat. Teks-teks yang menerangkan bahwa Mesias itu adalah pembuat mujizat telah ada dalam Perjanjian Lama dan dipahami oleh orang Yahudi sehingga secara normal mereka mengaitkan mujizat Yesus sebagai salah satu ciri Mesias. Salah satu teks dalam Perjanjian Lama yang dinilai layak sebagai nubuatan terhadap sosok Yesus sebagai Mesias dapat dilihat dalam beberapa nubuatan Nabi Yesaya: Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: "Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!" Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara (Yes.35:4-6). Ya, TUHAN, orang-orang-Mu yang mati akan hidup pula, mayat-mayat mereka akan bangkit pula. Hai orang-orang yang sudah dikubur di dalam tanah bangkitlah dan bersorak-sorai! Sebab embun TUHAN ialah embun terang, dan bumi akan melahirkan arwah kembali (Yes.26:19). Pada waktu itu orang-orang tuli akan mendengar perkataan-perkataan sebuah kitab, dan lepas dari kekelaman dan kegelapan mata orang-orang buta akan melihat. Orang-orang yang sengsara akan tambah bersukaria di dalam TUHAN, dan orang-orang miskin di antara manusia akan bersorak-sorak di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel! (Yes.29:18-19).Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara (Yes.61:1). Tampilan kehidupan “sosok” yang ditampilkan dalam kitab nubuatan Yesaya di atas diperkirakan terjadi pada jaman hidup Mesias.25 Karena itu tampilan kehidupan Yesus dalam Perjanjian Baru bisa dianggap sebagai penggenapan nubuatan kitab Yesaya. Contohnya: Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita." (Mat.8:16-17). Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. (Yes.53:4).

Beberapa mujizat-mujizat yang dilaporkan oleh Matius juga berkaitan dengan gelar Yesus sebagai Mesias yang adalah anak Daud sehingga hal-hal yang berkaitan perbuatan Yesus yang ajaib pada masa itu selalu dianggap sebagai perbuatan Mesias yang dinantikan. Contohnya: Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: "Kasihanilah kami, hai Anak Daud." Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?" Mereka menjawab: "Ya Tuhan, kami percaya." (Mat.9:27-28).

Kemudian dibawalah kepada Yesus seorang yang kerasukan setan. Orang itu buta dan bisu, lalu Yesus menyembuhkannya, sehingga si bisu itu berkata-kata dan melihat. Maka takjublah sekalian orang banyak itu, katanya: "Ia ini agaknya Anak Daud." (Mat.12:22-23).

Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita." (Mat.15:22).

Ada dua orang buta yang duduk di pinggir jalan mendengar, bahwa Yesus lewat, lalu mereka berseru: "Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!" (Mat.20:30).

Lukas dan Markus juga mencantumkan perihal hubungan paralel kemesiasan Yesus dan Mujizat yang dilakukanNya (Luk.18:38; Mrk.10:47). Dari seluruh mujizat yang  dilakukan oleh Yesus, sebagian besar klaim yang ditujukan kepadaNya berkaitan dengan sosok Mesias yang dinantikan. Bisa jadi mujizat yang dilakukanNya sangat banyak dan dipercayai pengikutNya sebagai salah satu tanda bahwa Ia adalah Mesias karena dalam Injil sepertinya Yesus berusaha untuk menyembunyikan mujizat yang dilakukanNya untuk di umbar ke banyak orang dengan alasan tertentu. 

b. Mesias sebagai Pembuat Mujizat dalam Perjanjian Baru

Kepercayaan orang-orang atas gelar Yesus sebagai Mesias dicatat oleh Yohanes dalam konteks pengadaan mujizat, “Tetapi di antara orang banyak itu ada banyak yang percaya kepada-Nya dan mereka berkata: "Apabila Kristus datang, mungkinkah Ia akan mengadakan lebih banyak mujizat dari pada yang telah diadakan oleh Dia ini?" (Yoh.7:31). Pertanyaan yang dilontarkan dalam teks ini lebih tepatnya bukan pertanyaan, tetapi pernyataan atas ketidakmungkinan adanya Mesias selain Yesus yang telah mengadakan mujizat yang majemuk. 

Yohanes berkali-kali menuliskan bahwa mujizat yang dilakukan oleh Yesus adalah bukti bahwa Dia adalah Mesias. Salah satunya ketika Yesus menghidupkan Lazarus, saudara Marta dan Maria.Maka kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya." Kata Yesus kepada Marta: "Saudaramu akan bangkit." Kata Marta kepada￾Nya: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman. Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia." (Yoh.11:21-27).

Kesimpulan Yohanes mengenai tujuan dari mujizat yang dilakukan oleh Yesus juga mengarah kepada pembuktian bahwa Yesus adalah Mesias. Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya. (Yoh.20:30-31).

Lukas mencatat dalam Injil bahwa murid-murid Yohanes Pembaptis diyakinkan dengan berbagai mujizat ketika mereka masih bertanya-tanya siapa sebenarnya Yesus.Ketika Yohanes mendapat kabar tentang segala peristiwa itu dari murid-muridnya, ia memanggil dua orang dari antaranya dan menyuruh mereka bertanya kepada Tuhan: "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?" Ketika kedua orang itu sampai kepada Yesus, mereka berkata: "Yohanes Pembaptis menyuruh kami bertanya kepada-Mu: Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?" Pada saat itu Yesus menyembuhkan banyak orang dari segala penyakit dan penderitaan dan dari roh-roh jahat, dan Ia mengaruniakan penglihatan kepada banyak orang buta. Dan Yesus menjawab mereka: "Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. (Luk.7:18-22)

Di tempat yang lain Lukas juga mencatat bahwa Mujizat merupakan salah satu aspek pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias.Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias. (Luk.4:40-41).

Pengharapan akan kehadiran sosok Mesias sebagai pembuat Mujizat diyakini secara kuat oleh kaum Yahudi. Tidak secara kebetulan mereka mengarahkan pandangan pengharapan Mesiasnya kepada Yesus karena mujizat yang dilakukanNya secara alamiah memperkenalkan kemesiasanNya. Dari segi nubuatan dan penggenapan sosok Mesias sebagai pembuat Mujizat, Yesus layak menyandangnya.

MESIAS SEBAGAI JURU SELAMAT

Mesias yang dikenal sebagai penyelamat atau Juru Selamat Politik seperti Daud, Koresh, ataupun Elia telah dimuat dalam Perjanjian Lama. Mengikuti hal ini, Injil Sinoptik juga menyatakan bahwa sosok Mesias dalam Perjanjian Baru juga dipahami sebagai Juru Selamat. Konsep Mesias sebagai Juru Selamat secara eksplisit dimulai oleh Lukas ketika mengisahkan kelahiran Yesus yang disambut dengan sebutan “Juru Selamat”, lalu dilanjutkan oleh Yohanes dalam catatannya tentang orang Samaria yang memanggil Yesus dengan sebutan “Juru Selamat”. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." (Luk.2:11).

Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Ia pun tinggal di situ dua hari lamanya. Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya, dan mereka berkata kepada perempuan itu: "Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia."(Yoh.4:40-42).

Mesias sebagai Juru Selamat dalam bentuk yang samar atau bahkan dalam bentuk olok-olok dicatat oleh penulis Injil Sinoptik berikut. Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli Taurat mengolok-olokkan Dia di antara mereka sendiri dan mereka berkata: "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib itu, supaya kita lihat dan percaya." Bahkan kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela Dia juga (Mrk.15:31-32).Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: "Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah." Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya dan berkata: "Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!" Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: "Inilah raja orang Yahudi". Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!" (Luk.23:35-37).

Pengharapan orang Yahudi bahwa Mesias itu adalah Penyelamat Israel juga dicatat secara jelas oleh Lukas.Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya.Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi (Luk.24:19-21).

Sangkaan Fatoohi yang menyebutkan bahwa konsep Yahudi tentang Mesias sebagai Juru Selamat sebatas Politik tidaklah sepenuhnya tepat.26 Paulus dan sebagian besar penulis Perjanjian Baru adalah orang Yahudi yang meyakini bahwa penyelamatan Mesias tidak selalu mengenai penyelamatan bangsa Israel dari penjajahan kafir. Dalam catatan Nabi terdahulu, penyelamatan Mesias eskatologis itu mencakup penyelamatan spiritual. Sekali lagi, penulis Perjanjian Baru membangun pengajaran mereka dari pikiran Perjanjian Lama.

Penebusan Kristus di kayu salib dan kebangkitanNya dari maut menjadi sebuah penyelamatan spiritual jika dibandingkan dengan kepentingan pengorbanan binatang yang dicatat dalam Perjanjian Lama.Kata Musa kepada Harun: "Datanglah mendekat kepada mezbah, olahlah korban penghapus dosa dan korban bakaranmu, dan adakanlah pendamaian bagimu sendiri dan bagi bangsa itu; sesudah itu olahlah persembahan bangsa itu dan adakanlah pendamaian bagi mereka, seperti yang diperintahkan TUHAN." Maka mendekatlah Harun kepada mezbah, dan disembelihnyalah anak lembu yang akan menjadi korban penghapus dosa baginya sendiri (Im.9:7).

Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus. Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran (I Kor.5:7).

Konsep penyelamatan spiritual melalui penebusan bukanlah karangan Paulus atau penulis Perjanjian Baru lainnya seperti yang di duga sebelumnya oleh banyak penulis modern. Mesias sebagai Juru Selamat yang menebus dosa manusia disampaikan sendiri oleh Yesus, seperti yang dicatat oleh Markus. Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes.Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Mrk.10:41-45).

Apa yang dikatakan oleh Yesus mengenai Penebusan melalui pengorbanan darahNya diulang kembali oleh Paulus dengan menggunakan istilah, “penyelamatan oleh hidup Kristus”.Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar -- tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati --. Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! ........ Supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. (Rom.5:6-10; 21).

Memang penyelamatan dalam bentuk spiritual yang dimaksudkan oleh Yesus ini akan sulit dipahami oleh peneliti liberal seperti Erhman atau Fatoohi. Dengan cara yang keras mereka berusaha menolak konsep ini. Salah satu caranya dengan mengatakan 

bahwa sebenarnya konsep penebusan Kristus itu hanya ditambahkan oleh pengikut Yesus.27 Fatoohi menyebutkan bahwa nats-nats konsep penebusan spiritual diatas disalah tafsirkan oleh orang Kristen, khususnya orang-orang yang tidak termasuk angkatan murid-murid Yesus. 28 Karena itu beberapa nats tulisan Murid Yesus yang mirip dengan penyelamatan spiritual diatas perlu dicantumkan. Contoh salah satunya adalah tulisan Yohanes yang terkenal itu:

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh.3:16).

Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman." (Yoh.6:40).

Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya. Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki  Anak, ia tidak memiliki hidup. Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal (1 Yoh.5:10-13).

Menyamakan kemesiasan Yesus dengan tokoh-tokoh Mesias lainnya bukanlah sesuatu yang salah jika melihatnya dari sudut pandang yang berbeda, seperti memandang Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Di satu sisi, kedua buku ini memiliki hubungan yang erat atau bahkan tidak bisa dipisahkan. Namun di sisi lainnya, kedua perjanjian memiliki kekhasan yang perlu penyesuaian ketika peneliti melakukan pengidentifikasian. Sayangnya para peneliti modern sampai sekarang belum mampu melakukan penyesuaian ini. 

MESIAS YANG PERLU DIPERTIMBANGKAN

Dari kacamata Kirsten, Mesias yang dijanjikan itu dalam catatan Perjanjian Baru sudah ditampilkan, yaitu Yesus Kristus. Di tempat lain, beberapa orang Yahudi sampai sekarang masih menantikan kedatangan Mesias. Ini terjadi karena pengharapan Mesias memang mengalami pergeseran arti di setiap aliran/mazhab. 

Mesias dalam Berbagai Aliran Yudaisme

Sebelum kehancuran Bait Suci kedua pada tahun 70 M, telah ada pelbagai aliran keagamaan Yahudi, seperti Farisi, Saduki, Eseni, dan Zelot. 29 Kecuali Saduki, aliran keagamaan ini mewarisi kepercayaan mesianis yang berbeda-beda. Mengapa? Karena berakar dari dua tradisi mesianik masa sebelumnya. Sebagai contoh, orang-orang Eseni mempercayai akan datangnya dua orang mesias, yakni mesias imam yang berasal dari keturunan Zadok dan mesias prajurit yang merupakan keturunan Daud. Keduanya akan bekerja sama dalam memerintah umat serta membawa umat Yahudi kepada kemenangan terakhir.30 Ada pula pemahaman mesianik yang mengharapkan pembebas Israel secara politis seperti sosok Daud. Pemahaman seperti ini dapat dilihat pada dunia kaum Zelot. Karena itulah, ketika ada gerakan perlawanan bersenjata terhadap pemerintah Romawi, seringkali tokoh utamanya diyakini sebagai Mesias. Menurut kelompok ini.Setelah Bait Suci dihancurkan, masa Yudaisme Rabinik dimulai dengan nilai-nilai utama yang tadinya dipegang oleh kaum Farisi. Pemahaman mesianik yang berkembang saat itu adalah pengharapan mesianik berkenaan ketaatan yang keras terhadap hukum-hukum Taurat. Mereka percaya bahwa dengan mempelajari dan menaati hukum-hukum Taurat, maka kedatangan Mesias akan dipercepat. Pada masa-masa setelah itu, aspek penantian akan kedatangan mesias tetap bertahan hingga saat ini, walaupun bentuknya berbeda-beda. Sebagai contoh, di abad ke-5 ketika kekristenan menjadi agama negara, kaum Yahudi mengalami tekanan akibat sentimen anti-semit sehingga pengharapan akan kedatangan mesias yang akan membebaskan mereka kembali menguat. Kemudian pada abad pertengahan, kepercayaan tersebut juga masih bertahan sebagaimana terlihat di dalam butir ke-12 dari pengakuan iman yang disusun oleh Moses ben Maimon atau Maimonides. Di dalam aliran Kabalah juga terdapat kepercayaan terhadap mesias yang akan datang. Kemudian gerakan zionisme yang dimulai pada awal abad ke-20 juga didasarkan pada kepercayaan akan datangnya Mesias.31Mesias ber-aspek “Kini” dan “Eskatologis”: Kebersambungan PL dan PB Seperti yang telah diulas sebelumnya bahwa di dalam Perjanjian Lama, berbagai pribadi diurapi dengan minyak. Penggunaan mula-mula istilah “Mesias“ terdapat dalam nyanyian Hana (1 Sam. 2:10), ketika dia berdoa, “Tuhan mengadili bumi sampai keujung-ujungnya; ia memberi kekuatan kepada raja yang diangkat-Nya dan meninggikan tanduk kekuatan orang yang diurapinya. Dengan cara itu mereka diasingkan untuk menduduki beberapa jabatan rohani dalam pemerintahan Theokrasi. Karena sifat pemerintahan adalah Theokrasi, maka kepentingan orang-orang yang di “Mesias”kan (diurapi) adalah untuk masa kini. Contohnya, Daud di “Mesias”kan untuk kepentingan di jamannya. Koresh juga demikian. Dan seterusnya. Sesuai dengan kebutuhan umat pada waktu itu, arti kata Meshiah dalam Perjanjian Lama akhirnya dipakai secara luas untuk siapapun yang diurapi Allah atau  yang diberi panggilan dan misi istimewa oleh Allah. Istilah tersebut sering dipakai untuk raja Israel (1 Sam. 2:10, 35, 24:6, 26:9, 11, 16, 23), juga dipakai untuk imam-imam (Imamat 4:3, 5, 16, 18:12, Maz 84:10), nabi-nabi (1 Raja 19:16), bapa-bapa leluhur (1 Taw. 16:22, Maz 105:15), bahkan dipakai untuk raja Persia Koresh (Yes.45:1, yang diberi peranan sebagai agen keselamatan bagi umat Allah. Mesias dalam konteks ini jelas bahwa tujuan kehadirannya hanya berkepentingan untuk masa “kini”. 

Mesias Eskatologis juga telah disinggung dalam Perjanjian Lama. Contohnya seperti yang ditulis dalam Daniel 9:25; Konteks Meshiah Nagiyd (Mesias Raja) dipakai sebagai terminus technicus untuk Mesias yang akan menyelamatkan umat Allah pada akhir zaman. Mesias tipe ini disebut “Mesias Eskatologis”. Karena itulah orang-orang Yahudi di zaman Perjanjian Baru masih mengharapkan Mesias Eskatologis ini, walau dengan pemahaman yang sempit. Mesias sebagai Raja Eskatologis ini akan datang pada akhir zaman (Kej. 49:10, Bil. 24:17, Yes. 9:6-7. Mikha 5:2, Zakharia 9:9, Maz. 2:2, 110:1, dan digenapi dalam Perjanjian Baru yang dikenal dengan sebutan “Kristus” ( Mat. 22:44, Mark. 12:36, Luk. 20:42, Kis. 2:34, Kis. 4:25-26).

Catatan yang penting adalah, walaupun ada beberapa nats dalam Perjanjian Lama yang menyebutkan bahwa seorang Raja akan datang pada akhir zaman, namun beberapa pasal dalam Perjanjian Lama juga menggambarkan zaman mesianis dan aktivitas Allah pada waktu itu (Yes. 26-29, 40-42, Yeh. 40-48. Dan. 12, Yoel 2:28 –3:21). Konsep “Mesianis Kini” dan “Mesias Eskatologis” seharusnya harus dinilai dari dua sudut pandang yang berbeda.

PENDEKATAN TERHADAP TEKS “MESIAS” BAGI YUDAISME & KRISTEN

Penganut agama Kristen dengan kokoh menerima Yesus Kristus sebagai penggenapan dari nubuatan-nubuatan Mesias dalam Perjanjian Lama. Di pihak lain sekokoh itu pula Yudaisme menolaknya. Umat Yahudi, memiliki konsep tentang mesias yaitu sebuah konsep lama yang mendambakan kedatangan seorang tokoh Yahudi, yang mampu membawa bangsa Yahudi menuju pada kejayaan. Mereka berkeyakinan bahwa Mesias yang diidam-idamkan itu akan datang kemudian dan berasal dari keturunan Daud (Yeremia 23:5; 33:15). Dalam pemahamannya, walaupun Yudaisme memang menanti-nantikan kehadiran Mesias seperti yang banyak dinubuatkan dalam PL, namun demikian apa yang mereka nanti-nantikan adalah sosok yang sama sekali berbeda dengan yang terwujud dalam diri Yesus. Pengharapan akan datangnya Mesias bagi mereka adalah dalam sosok yang penuh kuasa yang akan menaklukkan dunia bagi kejayaan kerajaan Allah (Yes.4:2a, Yes.63:1, Dan.7:14). Namun yang mereka dapati justru Mesias yang lahir di kandang domba sebagai ganti pengharapan di istana yang megah. Demikian juga kehidupan sebagai anak tukang kayu sebagai ganti pengharapan bahwa Mesias itu adalah anak keturunan Raja. Siksaan dan pelecehan yang mendahului kematian-Nya sebagai ganti penaklukan dunia bagi kemuliaan kerajaan sang Mesias yang ideal. Pengharapan akan sosok Raja yang akan datang membawa kemuliaan tidaklah sepenuhnya salah bagi iman Kristen karena pengharapan ini mengacu pada kedatangan Yesus untuk yang kedua kalinya (Yes.4:2). Nats ini merujuk secara kuat pada nubuatan akhir jaman yang akan tergenapi pada masa eskatologis itu. Demikian pula dengan Yesaya 63:1 dan Daniel 7:14 yang juga merujuk pada masa pemerintahan ketika Yesus datang kembali. Nubuatan tentang Yesus Kristus termaktub dengan cukup jelas, khususnya bila dipandang dari pernyataan Perjanjian Baru di mana penggenapannya membantu memberikan keterangan tentang isi nubuatan di dalam Perjanjian Lama. Namun demikian nubuatan tentang Mesias ini juga memiliki masalah-masalah tertentu seperti bentuk-bentuk nubuatan tentang Mesias yang mana sering dilihat secara horisontal dan bukannya secara vertikal. Dengan perkataan lain, walaupun urutan peristiwa dalam nubuatan itu pada umumnya dinyatakan dalam Kitab Suci, tetapi nubuatan tidak selalu memberikan jarak waktu yang mestinya ada di antara dua peristiwa besar yang disebutnya. Sebagaimana biasa dinyatakan, “puncak-puncak gunung nubuatan” dinyatakan begitu saja tanpa menyebutkan adanya lembah-lembah yang terdapat di antaranya. Oleh karena itu, nubuatan Perjanjian Lama bisa saja melompat dari peristiwa penderitaan Kristus langsung kepada kemuliaan-Nya tanpa menyebutkan jangka waktu yang terbukti dari waktu riil yang memisahkan kedua peristiwa besar itu. Fakta bahwa nubuatan tentang Mesias tidak selalu menyebutkan jangka waktu di antara beberapa peristiwa, digambarkan dalam kutipan Kristus dari Yesaya 61:1-2 di dalam Lukas 4:18-19. Ayat-ayat di Yesaya menghubungkan kedatangan pertama dan kedua dari Kristus tanpa sesuatu petunjuk bahwa di antara keduanya terdapat jangka waktu yang lebar. Kristus dalam kutipan-Nya menyebutkan aspek-aspek kedatangan pertama-Nya. Tetapi secara tiba- tiba berhenti tanpa menyebutkan ayat selanjutnya mengenai "hari pembalasan Allah" yang menunjuk kepada hukuman di saat kedatangan-Nya yang kedua kali.

KESIMPULAN

Pengharapan Mesias dalam Perjanjian Baru (PB) berkaitan erat dengan pengharapan Mesias dalam Perjanjian Lama (PL), sebab hal itu merupakan sebuah kesinambungan. Sekilas tampaknya sama, tetapi ternyata berbeda. Walaupun ada hal-hal yang berbeda mengenai pengharapan mengenai Mesias, namun tidak dapat disangkal bahwa ada juga persamaan-persamaan dari pengharapan Mesias tersebut. Tentunya tokoh yang dimaksudkan dengan Mesias inilah yang tampaknya sekilas sama. Dikatakan sekilas sama mengenai Mesias ini sebab kata yang digunakan adalah sama, namun mengalami pergesaran pemahaman mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh Sang Mesias dalam konteks antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.


======================================================

1 Seybold, Theological Dictionary Of The Old Testment Volume IX, ed: G. Johannes Botter Week-Helmer Ringgren, Heinz-Josef Fabry, (Michigan/Cambridge, U. K: Williams B. Edrmans Publishing Company, 1974), 44.

2 S. M. Siahaan, Pengharapan Mesias dalam Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK-GM, 2008), 4.

3 W. S. Lasor, dkk, Pengantar Perjanjian Lama 2 (Sastra dan Nubuat), (Jakarta: BPK-GM, 

2011), 295.

4 W. R. F. Browning, Kamus Alkitab, (Jakarta: BPK-GM, 2007), 266-267.

5 Marvin Pate dan Sherly L.Pate, Disalibkan oleh Media: Fakta dan Fiktif Yesus Sejarah

(Yogyakarta: ANDI, 2007), 21-23, 115-119

7 E.P. Sanders, The Historical Figure of Jesus (Inggris: Penguin Books, 1995), 241-242

8 G. Parrinder, Jesus in the Qur’an (Oxford: Oneworld Publications, 1995), 32

9 G. Theisen dan A. Merz, The Historical Jesus: A Comprehensive Guide (London: SCM Press, 1999), 540, 553

12 Louay Fatoohi, The Mystery of Historical Jesus, 374-380

13 Louay Fatoohi, The Mystery of Historical Jesus, 375-377

14 G. Vermes, The Changing Faces of Jesus (London: Penguin Books, 2000), 181

15 Louay Fatoohi, The Mystery of Historical Jesus, 377

 

 

16 G. Vermes, The Changing Faces of Jesus (London: Penguin Books, 2000), 181

17 Louay Fatoohi, The Mystery of Historical Jesus, 377-378


18 Louay Fatoohi, The Mystery of Historical Jesus, 380

19 E.P. Sanders, The Historical Figure of Jesus (Inggris: Penguin Books, 1995), 95

20 Louay Fatoohi, The Mystery of Historical Jesus, 381

21 Louay Fatoohi, The Mystery of Historical Jesus, 382

22 Louay Fatoohi, The Mystery of Historical Jesus, 384

23 G. Theisen dan A. Merz, The Historical Jesus: A Comprehensive Guide, 553

24 E.P. Sanders, The Historical Figure of Jesus, 132-133

25 G. Theisen dan A. Merz, The Historical Jesus: A Comprehensive Guide, 540, 212

26 Louay Fatoohi, The Mystery of Historical Jesus, 832

27 B. Erhman, Misquoting Jesus: The Story Behind Who Changed the Bible and Why (New 

York: Harper San Fransisco, 2007), 116-117

28 Louay Fatoohi, The Mystery of Historical Jesus, 700

29 Bart D. Ehrman. The New Testament: A Historical Introduction to the Early Christian Writings. (New 

York, Oxford: Oxford University Press, 2004).

30 Lawrence E. Toombs. Di Ambang Fajar Kekristenan. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1978), 84-85.

 

31 https://id.wikipedia.org/wiki/Mesias (25 Agustus 2015), mengutip Bart D. Ehrman. 2004. The New 

Testament: A Historical Introduction to the Early Christian Writings. New York, Oxford: Oxford 

University Press. (25 Agustus 2015). 

29


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

impola summa

Dalam "Summa Theologiae", Santo Thomas Aquinas membahas tentang Trinitas, yaitu doktrin Kristen mengenai satu Allah yang dalam tig...