Halaman

Selasa, 14 Maret 2023

KETIDAK-BERDOSAAN KRISTUS By: Pangeran Manurung

Kerumitan topik ini
  • Kristus adalah manusia sehingga berdosa jika dihubungkan dengan kejatuhan?
  • Kristus dapat berdosa tetapi tidak mau berdosa ?
  • Sifat-Sifat manusia Kristus yang tercemar oleh lingkungan ?
  • Teolog-teolog konservatif yang mempelajari Alkitab secara cermat dan yakin bahwa Yesus Kristus tidak pernah berdosa. Ini memang sejalan dengan keilahian-Nya dan sebagai suatu persyaratan awal bagi pekerjaan penebusan/penggantian-Nya di salib.
  • Sedikitpun kegagalan moral Yesus akan meruntuhkan nilai kedua aspek penting tersebut. 

PENDAHULUAN
Diskusi yang hangat dalam BAB ini adalah;
  • Apakah Kristus tidak mampu untuk berdosaatau
  • Kristus tidak mau untuk berdosa”.
Ibrani 4:15 mencatat bahwa Kristus tidak berbuat dosa meski Ia telah dicobai. 
Realita bahwa Kristus dicobai menyatakan bahwa Ia adalah manusia yang menghadapi 
pergumulan pencobaan. 
Ibrani 4:15, “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat 
turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, 
hanya tidak berbuat dosa


KetidakberdosaanNya atau kemenanganNya atas pencobaan, dengan jelas menyatakan bahwa 
Dia adalah Allah dan Manusia sejati.
INGAT: Kenyataan bahwa Yesus Kristus menang dari pencobaan tidak berarti bahwa Dia 
berhasil/menang menaklukkan dosa yang ada dalam diriNya

Dicobai berarti;
  • Iblis tidak mahatahu
  • Persiapan Yesus sebelum memulai pelayanan sebagaimana tradisi Yahudi

Pertanyaan lanjutan
Tidak ada makna “Kristus jadi teladan” jika Dia tidak dapat dicobai ?

DEFENISI DAN POKOK PERSOALAN

Paham yang memegang bahwa Ia dapat berdosa disebut “peccability”, sedangkan paham yang memegang bahwa Yesus tidak dapat berdosa disebut “impaccability

Alasan mengapa ada orang yang memegang paham “peccability” adalah karena pencobaan selalu berhubungan dengan kemungkinan jatuh. 

Dalam Ibrani 4:15 menyatakan bahwa Kristus dicobai sehingga Ia mesti berbuat dosa. Pencobaan itu pun nyata, lihat kasus 40 hari di Padang Gurun (Mat. 4:1-11; Mrk. 1:12; Luk. 4:1), juga pergumulan di Getsemani (Mat. 26:36-46; Mrk. 14:32-42; Luk. 22:39-46). 
Dalam Ibrani 4:15 menyatakan bahwa Kristus dicobai sehingga Ia mesti berbuat dosa

Ibrani 4:15 Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.

Pencobaan itu pun nyata, lihat kasus 40 hari di Padang Gurun (Mat. 4:1-11; Mrk. 1:12; Luk. 4:1),

Matius 4:11 Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.
Juga ada pergumulan di Getsemani (Mat. 26:36-46; Mrk. 14:32-42; Luk. 22:39-46).

Lukas 22:44 Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.


ARGUMENTASI


1. Sampan dan Perang
Ketidak berdosaan Kristus dan godaan-godaan yang dialami-Nya diumpamakan sebagai sampan dan kapal perang. Sampan dengan penumpang-penumpangnya bisa berusaha sekuat mungkin untuk menang atas kapal perang tapi kapal perang lebih kuat sehingga tidak mempan atas perlawanan apapun. 

Prinsip: Kemustahilan


2. Ia tidak memiliki dosa asal Adam dan tidak ada konflik Roma 7. 

Roma 7:7 Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!" 7:8 Tetapi dalam perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan; sebab tanpa hukum Taurat dosa mati.

3. Ia memiliki kodrat Allah (Yak. 1:13) sehingga tak mungkin jatuh dalam dosa. 

Yakobus 1:13 Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.

4. Dalam Kristus tidak ada konflik personal sesuai dengan Yohanes 8:46; 1 Yohanes 3:5

Yohanes 8:46 Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku?

1 Yohanes 3:5 Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa.


5. Sifat-sifat Kristus menunjukkan bahwa Ia bebas dari kelemahan/dosa
a. Kemahakuasaan-Nya (Mat. 28:18) menunjukkan bahwa kuasa-Nya tak terbatas sehingga mampu menolak dosa yang mencobai sifat kemanusiaan-Nya.
Matius 28:17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. 28:18 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.

b. Kemahatahuan-Nya (Yoh. 2:25) menunjukkan bahwa Ia tahu semuanya sebelum Iblis bergerak dan mengambil tindakan apapun. Ia mengetahui konsekuensi dosa di depan. 
Hawa bisa ditipu karena keterbatasan pengetahuannya, berbeda dengan Kristus.


c. Kemahasucian-Nya. Sifat yang satu ini telah jelas


6. Kehendak dan Otoritas Kristus

Bukan hanya sifat-sifat yang ada pada Kristus yang menjadi bukti bahwa Dia tidak dapat berdosa. Kehendak dan otoritas Kristus juga merupakan bukti bahwa Dia tidak dapat berdosa. 

Kehendak Kristus adalah melakukan kehendak Bapa (Mat. 26:39,42; Yoh. 5:30). 

Matius 26:39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."

Yohanes 5:30 Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.

Kristus memiliki otoritas penuh atas diri-Nya (Yoh. 10:18). 

Yohanes 10:18 Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku."

Jika Dia memiliki otoritas atas hidup dan mati, Diapun memiliki otoritas untuk tidak berdosa.
Otoritas: Berbicara tentang kekuasaan untuk menolak dan bebas dari segala hasutan






















Dimensi Kristologi








Pendamaian Kristus 
berarti Kristus sebagai pendamai antara Allah dengan manusia.Pendamaian ini diperlukan karena hubungan manusia dan Allah sudah putus disebabkan dosa-dosa manusia.Antara Allah yang kudus dan manusia yang berdosa terdapat jarak yang memisahkan.Jadi Kristus diutus untuk datang ke dunia, sehingga hubungan itu bisa dipulihkan. Makna Kristus sebagai Sang Pendamai dilalui dengan peristiwa penyalibannya di bukit Golgota. Dari peristiwa inilah Kristologi terkait pendamaian yang dilakukan Kristus di kayu salib dibicarakan.

Kristus Sang Pembebas
Kristus Sang Pembebas adalah makna yang selalu hadir terkait dengan penderitaan yang ingin dientaskan oleh Kristus. Mulai dari istilah Mesias dalam Perjanjian Lama dan Kristus dalam Perjanjian Baru, selalu dikaitkan sebagai pembebas.Kematian Kristus di kayu Salib adalah wujud tindakan Allah untuk menebus dosa manusia terkait akibat dosa yaitu maut.

Ketuhanan Yesus
Keilahian Kristus adalah hakikat Kristus sebagai Tuhan. Sebutan "Tuhan Yesus" dimulai dari teologi di negara-negara Barat. "Lord Jesus" diartikan Tuhan Yesus. 


Kristologi dari Zaman ke Zaman

Abad Pertama Masehi
Pernyataan tokoh-tokoh di dalam kitab-kitab Perjanjian Baru:
Paulus: Yesus adalah Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan.
Markus: Yesus adalah Mesias.
Matius: Yesus adalah Musa baru, pengajar hukum baru.
Lukas: Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, adalah Juru Selamat semua orang.
Yohanes - Yesus adalah Sabda Allah yang menjelma sebagai manusia. 

Yesus pada zaman-Nya dikenal sebagai orang Nazaret yang bertindak revolusioner, sebagai orang Yahudi yang melampaui Hukum Taurat. Dari ajaran-ajarannya itulah, orang-orang (Kristen) dari zaman Perjanjian Baru hingga saat ini mempercayai-Nya sebagai Tuhan. 

Kristologi Abad 2 - 11
Kristologi-Logos
Santo Ignatius (35 –107M), 
dari Antiokhia menyebutkan Yesus "Sang Logos" yang mana Logos (sabda) itu tidak lagi berdiam diri, melainkan menyatakan diri untuk menyelamatkan.Jadi bagi Ignatius, Sabda adalah keseluruhan tujuan komunikasi, revelatoris-soteriologis, bukan fungsi kosmologis.Ajaran Kristologis-Logos ini ada dua, yaitu yang klasik dan yang modern.
Tradisi juga mengidentifikasi Ignatius, bersama dengan Polikarpus temannya, sebagai murid-murid dari Rasul Yohanes.
Santo Ignatius menguraikan tentang keilahian Kristus dalam Surat kepada Jemaat di Efesus Bab 7:
Terdapat satu Tabib yang memiliki daging maupun roh; keduanya menjadikan dan tidak dijadikan; Allah yang ada dalam daging; kehidupan sejati dalam kematian; dari Maria dan juga dari Allah; pertama-tama dapat merasakan penderitaan dan kemudian tidak dapat, yaitu Yesus Kristus Tuhan kita.
Kendati kurang jelas, dalam Surat kepada Jemaat di Efesus Bab 7 pada teks Recensio Panjang abad ke-4 yang mengalami interpolasi tertulis:
Tetapi Tabib kita adalah satu-satunya Allah yang benar, yang tidak diperanakkan dan yang tak terhampiri, Tuhan dari semua, Bapa dan Yang Memperanakkan Putra Tunggal. Kita juga memiliki seorang Tabib: Tuhan Allah kita, Yesus Kristus, Firman dan Putra Tunggal, sebelum waktu dimulai, tetapi yang kemudian menjadi manusia pula, dari Maria sang perawan. Karena "Firman itu telah menjadi daging." Menjadi tak bertubuh, Ia berada dalam tubuh, menjadi tak dapat merasakan penderitaan, Ia berada dalam tubuh yang dapat merasakan penderitaan, menjadi baka, Ia berada dalam tubuh yang fana, menjadi hidup, Ia menjadi tunduk pada kebinasaan, agar Ia dapat membebaskan jiwa kita dari kematian dan kebinasaan, serta membebaskannya, dan dapat menyembuhkannya ketika jiwa kita terserang penyakit kefasikan dan nafsu jahat.
Santo Ignatius menekankan arti penting Ekaristi, menyebutnya "obat kekekalan" dalam Surat kepada Jemaat di Efesus Bab 20. Keinginan yang sangat kuat untuk menyongsong kemartiran di dalam arena, yang ia ungkapkan cukup eksplisit dalam beberapa bagian, mungkin tampak agak aneh bagi pembaca modern. Pemeriksaan atas teologi soteriologisnya menunjukkan
bahwa ia memandang keselamatan sebagai terbebasnya manusia dari ketakutan yang luar biasa akan kematian dan karenanya berani menghadapi kemartiran.
Karena tulisannya dalam Surat kepada Jemaat di Magnesia, Santo Ignatius diklaim sebagai penulis Kristen pertama yang diketahui mendukung digantikannya Sabat dengan Hari Tuhan di dalam Kekristenan:
Jangan tergoda dengan ajaran-ajaran aneh ataupun dongeng-dongeng kuno, yang adalah tidak bermanfaat. Karena apabila sampai hari ini kita hidup menurut cara Yudaisme, kita mengakui bahwa kita masih belum menerima rahmat (kasih karunia). ... Apabila mereka yang pernah menjalani praktik-praktik kuno memperoleh kebaruan harapan, tidak lagi menjalankan hari Sabat tetapi membiasakan hidup mereka mengikuti hari Tuhan, yang padanya kehidupan kita juga muncul melalui Dia dan melalui kematian-Nya yang disangkal sejumlah pihak ... bagaimana kita dapat hidup terpisah dari Dia? ... Adalah mengerikan berbicara tentang Yesus Kristus dan [sekaligus] mempraktikkan Yudaisme. Karena Kekristenan tidak meyakini Yudaisme, tetapi Yudaisme dalam Kekristenan.

Origenes dari Aleksandria(184 M- 253 M) Dalam tulisannya, Origenes mengemukakan bahwa Yesus adalah "yang sulung dari segala ciptaan, yang mengambil wujud raga dan jiwa manusia." Ia sungguh-sungguh percaya bahwa Yesus memiliki jiwa insani, dan memandang keji paham Doketisme (keyakinan bahwa Yesus datang ke dunia dalam bentuk roh, bukan dalam bentuk jasad). Origenes membayangkan kodrat insani Yesus sebagai jiwa yang paling rapat dengan Allah, dan tetap setia secara sempurna pada Allah, kendati semua jiwa lain akhirnya menjauh dari Allah. Pada waktu menjelma menjadi manusia, jiwa Yesus manunggal dengan Logos dan "saling berbaur" menjadi satu. Dengan demikian, menurut Origenes, Kristus memiliki kodrat insani sekaligus ilahi, tetapi sebagaimana semua jiwa lain, kodrat insani Kristus sudah wujud sejak semula.
Origenes adalah orang pertama yang mencetuskan teori pampas penebusan dalam bentuk yang sudah paripurna, sekalipun Ireneus sudah lebih dahulu mencetuskan semacam prototipe dari teori ini.Menurut teori ini, kematian Kristus di kayu salib adalah pampasan kepada setan sebagai ganti kebebasan umat manusia.Menurut teori ini juga, setan sesungguhnya telah diperdaya Allah, karena Kristus bukan saja tidak berdosa, melainkan juga adalah penjelmaan ilahi, yang tidak dapat diperbudak setan. Teori ini kelak diperluas lebih lanjut oleh teolog-teolog seperti Gregorius dari Nisa dan Rufinus dari Akuilea. Pada abad ke-11, Anselmus dari Canterbury mengecam teori pampas beserta teori Christus Victor yang masih berkaitan dengannya,sehingga jumlah peminatnya di kawasan barat Eropa jauh berkurang

Tuduhan Kelsos bahwasanya mukjizat-mukjizat Yesus hanyalah permainan sulap belaka, bukannya bukti kuasa ilahi, disanggah Origenes dengan berdalil bahwa tidak seperti para pesulap, Yesus tidak membuat mukjizat sebagai bahan pertunjukan melainkan sebagai sarana untuk memperbaiki akhlak orang yang menyaksikannya.  Sebelum Melawan Kelsos ditulis, agama Kristen dipandang sebelah mata oleh banyak orang sebagai agama rakyat jelata yang buta huruf dan tidak terpelajar. Dengan Melawan Kelsos, Origenes mengangkat agama Kristen ke tataran ilmiah. 

Arianisme
Uskup Arius dari Alexandria (250-336) 
menolak ajaran mengenai keilahian Kristus dengan pandangan bahwa Kristus hanyalah ciptaan Allah dan bukan Allah. Pandangannya ini kemudian memengaruhi munculnya sebuah gerakan yang disebut Arianisme yang mengatakan bahwa Allah tetap Allah, dan hanya ada satu, Allah tidak mungkin ada bersatu (sehakikat) dengan sesuatu yang terbatas. Menyebut Yesus "Allah" sama artinya menghujat Allah karena yang ilahi dan tak terbatas disatukan dengan yang jasmani dan terbatas.
Arianisme mengajarkan bahwa seseorang yang datang kepada kita yaitu, Kristus Yesus bukanlah Tuhan yang sesungguhnya melainkan makhluk yang diciptakan oleh Allah.


Santo Athanasius dari Aleksandria
(296–298 – 2 Mei 373) pembela utama paham Tritunggal melawan Arianisme,
membuktikan bahwa Kristus, anak Allah berbeda jauh dengan Logos filsafat Yunani yang hanya setengah zat dengan ilahi di antara Allah dan dunia. Athanasius begitu gigih mempertahankan bahwa keselamatan hanya berasal dalam Yesus Kristus.
Dalam buku De Incarnatione Verbi. Ia diperhadapkan pada tuduhan-tuduhan dari pihak Yahudi dan kafir, bahwa inkarnasi dan penyaliban Anak Allah tidak pantas dan mengurangi martabat-Nya.Namun, dengan tegas ia mengatakan bahwa "dunia yang diciptakan melalui Dia hanya dapat dipulihkan oleh Dia". Pemulihan ini tidak bisa terjadi, kecuali melalui salib.
Athanasius adalah uskup yang selalu tegar dalam menghadapi masalah demi masalah yang.Pada saat itu, kelompok anti-Arianisme( Gereja Barat, kelompok Antiokhia dan Athanasius) berpendapat bahwa Allah adalah satu pribadi, sedangkan bagian terbesar kelompok Origenes di bagian Timur berpendapat bahwa Allah terdiri dari tiga pribadi. 

Nestorianisme
Nestorianisme adalah ajaran yang dikeluarkan oleh Uskup Nestorius pada tahun 400. Menurut Nestorius, Putra Allah di surga dan manusia Yesus di bumi bukanlah satu pribadi yang sama, melainkan dua pribadi.Keduanya memang berkaitan satu sama lain, tetapi toh tinggal tetap dua.
Apabila Kristus sunguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, maka itu adalah suatu keduaan, bukanlah suatu keesaan.

Nestorius: Yesus adalah manusia yang dipersatukan dengan Firman menggunakan cara yang sempurna. Namun, Cyrillus menegaskan bahwa Ia adalah Fiman yang menjelma.Konsili Chalcedon menjadi mediasi di antara Nestorius dan Cyrillus Ajaran yang dianggap salah dari kedua belah pihak ditolak dan menyatakan kedua tabiat Kristus adalah:”tak terbagi, tak terpisah”(melawan Nestorius), akan tetapi “tak bercampur, tak berubah”(melawan kaum Cyrillus)

Keputusan Konsili Chalcedon tidak memberikan kepuasan bagi para pengiku Nestorius dan Cyrillus. Hal ini mengakibatkan mereka membentuk gereja baru.Kaum Nestorian pindah ke daerah Persia.Gereja Nestorian berkembang dengan baik hingga abad ke-13.


Monofisitisme
Monofisitisme (berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata, yaitu mono yang berarti satu, dan phusis yang berarti kodrat atau hakikat). Jika disatukan, nama ini berarti persatuan kodrat dan dalam bahasa Inggris, dikenal dengan Monophysitism. Monofisit adalah ajaran yang diklaim sebagai ajaran bidaah oleh Konsili Khalsedon pada tahun 451.Aliran ini memahami bahwa Kristus hanya memiliki satu kodrat, yaitu kodrat ilahi, karena kodrat kemanusiaan-Nya telah terserap dalam keilahian-Nya.

Pandangan Cyrillus dari Aleksandria sebenarnya menjadi dasar Miafisitisme, yang dianut Gereja Ortodoks Oriental, namun miafisit sering kali dianggap sama dengan monofisit.

Kristologi pada Abad 4 dan 5 Masehi

Konsili Nicea (325),para uskup dari Gereja Timur, Yesus dari Nazaret, Sang Kristus, Allah betul-betul menyatakan diri di bumi ini.

Konsili Kontantinopel (381) berpikir bahwa umat Kristen diselamatkan oleh Allah yang mengambil sepenuh-penuhnya apa yang menjadi sifat kodrat manusia. Konsili ini dicapai sebuah kesepakatan bersama mengenai "Trinitas": Bapa, Anak, dan Roh Kudus Esa menurut'keallahannya, tetapi merupakan tiga pribadi. Namun, keesaaan tidaklah terlepas dari ketigaan begitu pun dengan ketigaan tidak akan terlepas dari keesaan.

Konsili Efesus (431) di dalam manusia Yesus setiap orang menemukan Allah.
memberikan gelar Theotokos kepada Maria, artinya "Bunda Allah".

Konsili Khalsedon  (451)

dalam diri Yesus yang satu dan tunggal itu hadirlah bukan saja kodrat ilahi, tetapi juga kodrat insani seluruhnya. Di dalam manusia yang sungguh-sungguh, tampak pula Allah yang sungguh-sungguh.Sama luhurnya dengan Allah yang dekat, tergerak oleh belas kasihan, berjuang melawan kejahatan. Di sini, keilahian dan kemanusiaan Yesus tidak tercampur, tidak tergantikan, tidak terpisahkan, tidak terbagi. Jadi, Yesus adalah simbol Allah. 

Abad Pertengahan
Anselmus dari Cantebury(1033) 
Anselmus adalah teolog dan filsuf yang hidup pada Abad Pertengahan. Berasal dati Italia, terkenal dengan pemikiran Skolastisismenya.Karya yang paling terkenal berjudul Cur Deus Homo (Mengapa Allah menjadi Manusia). Di dalam konteks sosiologis feodalisme, Anselmus menelaah mengapa Allah menjadi manusia dan harus mati untuk menyelamatkan manusia, dan mempertanyakan apakah tidak ada cara lain untuk meyelamatkan. Menurut Anselmus, Yesus Kristus wafat untuk melakukan silih (ganti) atas dosa; tanpa penyilihan itu tatanan alam semesta akan kacau balau untuk selamanya.Dengan jalan itu, baik keadilan, anugerah maupun kasih Allah dipenuhi dan disempurnakan. Anselmus memulai teologinya dari keyakinannya bahwa seseorang bisa berteologi hanya setelah dia beriman  fides quarens intellectum. Iman ini mencakup sikap iman fides qua creditur maupun isi iman fides quae creditur. Dengan demikian, objek teologi sebenarnya adalah peristiwa perjumpaan dan komunikasi Allah dan manusia berlangsung melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus merupakan realitas dinamik yang terus berlangsung di seluruh sejarah Gereja.

Thomas Aquinas (1225-1274)
Thomas Aquinas adalah tokoh Skolastik yang terbesar pada abad pertengahan dari Italia. Ia adalah seorang Katolik yang saleh, mengenyam pendidikan di berbagai sekolah Katolik dan mengajar Filsafat dan Teologi di Paris.Pemikirannya tentang kodrat manusia adalah, bahwa manusia menjadi tidak sempurna ketika jatuh dalam dosa, dan diselamatkan Allah melalui rahmat adikodrati yang ditawarkan Gereja.

Martin Luther (1483-1546)
Martin Luther adalah seorang imam Katolik di Jerman pada era Reformasi Protestan, yang membawa pembaharuan sehingga Gereja Lutheran terbentuk. Ajarannya tentang Kristus adalah bahwa setiap orang Kristen tidak bebas dari Kristus, melainkan bebas dalam Kristus
Luther mengklaim bahwa keadilan Allah adalah bahwa setiap manusia dihukum sesuai dengan perbuatannya, tetapi diselamatkan oleh kasih karunia Allah di dalam Kristus.Pengakuan tertinggi bahwa Kristus yang benar itu mampu menyelamatkan manusia yang berdosa sebagai ajaran yang tertinggi.
Yohanes Kalvin (1509-1564)
Terkait dengan dalilnya dalam Trinitas, yaitu Bahwa Allah Bapa sebagai asal perbuatan, Putera sebagai asal dari hikmat, maksud dan kehendak dan Roh Kudus sebagai kekuatan dan dorongan untuk berbuat.. Tidak satu pun dari ketiga oknum ini bekerja sendirian.

Tabiat Kristus; Keallahan-Nya dan kemanusiaan-Nya sangat dipertahankan oleh Kalvin, Kristus adalah perantara bagi manusia. Kristus adalah benar-banar Allah. Perbedaannya dengan Luther adalah penghargaan terhadap kemanusiaan Yesus, bahwa kehadiran-Nya dalam Perjamuan Kudus melalui transubstansiasi dianggapnya merendahkan kemanusiaan Kristus.

Karl Rahner (1904-1984)
dalam berkristologi ingin menekankan pada "sesuatu" yang berasal dari dialektis (perjumpaan) antara simbol dan penyimbolan, terkhusus pada simbol Yesus.Simbol menurut Rahner adalah "sesuatu yang menjadi perantara sesuatu lain dari dirinya sendiri, petunjuk penting bahwa Yesus adalah benar-benar dari Allah untuk dunia.Kristologi Thomas Aquinas yang berpusat pada inkarnasi Allah pada diri Yesus.Karl Rahner menyebutnya, Yesus sebagai "Tuhanku dan Allahku". Melalui teori simbol (Yunani: σύμβολο) bahwa melalui yang ada saat ini, maka ia merasa bisa mendapati yang lain. Melalui kemanusiaan Kristus yang terbatas, Allah yang tak terbatas bisa didapat.Bagi Rahner, Kedatangan Kristus bukan karena semata-mata harus mengampuni dosa manusia, melainkan karena rahmat. Seandainya Adam tidak berdosa, Rahner mengandaikan Kristus tetap akan datang kedunia, meninggal, dan bangkit kembali.Rahner tidak menolak kenyataan atau daya tarik dosa dan kejahatan, ia juga tidak menyangkal bahwa inkarnasi, salib, dan kebangkitan kembali berkaitan dengan pengampunan dosa.Tetapi itu semua bukanlah pokok persoalannya; Kristus tidak bisa dilihat hanya sebagai obat bagi dosa-dosa manusia.Dosa, seperti yang dilihat oleh Rahner, tidak bisa menjadi motor penggerak cerita tentang keterlibatan Allah dengan dunia.
Kristologi Rahner sebenarnya bertolak dari Konsili Khalsedon.Kristologi yang dirumuskan pada akhir masa perjuangan politik, gereja sehingga dapat diterima sebagian besar perserta Konsili, di mana dalam Kristus ada kemanusiaan dan keilahian secara bersamaan.Kristus dan rahmat menjadi pemikiran mendasar dari Karl Rahner, Allah bisa dilihat dari kemanusiaan Kristus dan bermula dari kemanusiaan masing-masing orang.Di sinilah perbedaan kristologinya Karl Barth. Menurut Barth, Allah tidak bisa dikenal dari sekadar membicarakan manusia.

Karl Barth (1886-1968)
Teologinya disebut dialektis, sebab berawal dari Allah yang ada di Sorga dan suci, dia mengirimkan Kristus yang begitu dekat di dunia yang hina, sehingga pertemuan dua hal yang bertentangan ini disebut dialektis.
Kristologi Barth dimulai dari pre-eksistensi Kristus, Kristus menjadi sentral teologinya.Tuhan Allah menyatakan anugerahnya dalam Kristus sekaligus mengikatkan diri-Nya pada Kristus. Pemulihan manusia ditentukan pada pemilihan Tuhan Allah terhdap Kristus, Allah memilih Kristus sekaligus Tuhan Allah memilih manusia sebagai sekutu-Nya.

Gustavo Gutierrez
Dalam bukunya " Liberation of Theology" tahun 1971 dia menyatakan bahwa penindasan oleh kapitalisme harus dilawan.Bagi dia, Amerika Latin lebih membutuhkan pembebasan dibanding pembangunan.Kristus harus dimaknasi sebagai pembebas dari segala penindasan dan ketidakadilah yang sedang berlangsung.