Halaman

Selasa, 07 Maret 2023

This Everlasting Yea

  Ya yang Abadi Ini"

 konsep "ya yang abadi". Ia mendefinisikan ungkapan ini sebagai penegasan akan kebaikan dan kesetiaan Allah, yang memberi kita keyakinan dan kepastian dalam segala keadaan.

memulai  dengan memeriksa kata-kata rasul Paulus dalam 2 Korintus 1:20: "Karena semua janji Allah menemukan YA-nya di dalam dia. Itulah sebabnya melalui dia kita mengucapkan Amin kita kepada Tuhan untuk kemuliaan-Nya."  ayat ini adalah pernyataan kesetiaan Tuhan untuk memenuhi janji-janji-Nya, dan bahwa "ya yang kekal" adalah tanggapan iman dan kepercayaan kita kepada-Nya.

membahas beberapa aspek dari "yea abadi", termasuk kepastiannya, kelengkapannya, dan kekuatannya.  "ya yang kekal" itu pasti karena didasarkan pada karakter Allah yang tidak berubah dan rekam jejak kesetiaan-Nya sepanjang sejarah. Ini komprehensif karena berlaku untuk setiap aspek kehidupan kita, dari detail terkecil hingga tantangan terbesar. Dan itu sangat kuat karena memberi kita dasar yang kuat untuk iman kita dan sumber kekuatan serta harapan di masa-masa sulit.

keyakinan pada "ya yang kekal" untuk kesejahteraan rohani kita. ketika kita percaya pada kebaikan dan kesetiaan Tuhan, kita dapat memiliki kedamaian dan kepuasan dalam segala keadaan, dan bahkan dapat menemukan sukacita di tengah pencobaan dan penderitaan.

 mendorong para pembaca untuk merangkul "ya yang kekal" sebagai landasan iman mereka dan untuk mewartakannya dengan berani kepada orang lain.  untuk menjalani hidup kita dalam terang kebaikan dan kesetiaan Allah, dan menjadi saksi kasih dan anugerah-Nya dalam segala hal yang kita lakukan.


 from the book entitled J.I. Packer's book "Chapter 26: This Everlasting Yea"


In Chapter 26 of his book "Knowing God," J.I. Packer explores the concept of the "everlasting yea." He defines this phrase as an affirmation of God's goodness and faithfulness, which gives us confidence and assurance in all circumstances.


Packer begins the chapter by examining the apostle Paul's words in 2 Corinthians 1:20: "For all the promises of God find their Yes in him. That is why it is through him that we utter our Amen to God for his glory." Packer explains that this verse is a declaration of God's faithfulness to fulfill His promises, and that the "everlasting yea" is our response of faith and trust in Him.


Packer then goes on to discuss several aspects of the "everlasting yea," including its certainty, its comprehensiveness, and its power. He argues that the "everlasting yea" is certain because it is based on God's unchanging character and His track record of faithfulness throughout history. It is comprehensive because it applies to every aspect of our lives, from the smallest details to the greatest challenges. And it is powerful because it gives us a firm foundation for our faith and a source of strength and hope in difficult times.


Throughout the chapter, Packer emphasizes the importance of faith in the "everlasting yea" for our spiritual well-being. He notes that when we trust in God's goodness and faithfulness, we can have peace and contentment in all circumstances, and can even find joy in the midst of trials and suffering.


Packer concludes the chapter by urging readers to embrace the "everlasting yea" as the foundation of their faith and to proclaim it boldly to others. He encourages us to live our lives in light of God's goodness and faithfulness, and to bear witness to His love and grace in everything we do.


Back

The Adequacy of God

 Kecukupan Tuhan" membahas betapa kita sering membatasi Tuhan dan mencoba menyesuaikan Dia dengan pemahaman dan harapan kita sendiri, daripada menerima Dia apa adanya.

 Tuhan benar-benar memadai dalam segala hal, dan bahwa kecukupan-Nya ditunjukkan dalam empat bidang khusus: kecukupan-Nya sebagai Pencipta, sebagai Penebus, sebagai Pemandu, dan sebagai Penguat.

Pertama, sebagai Pencipta, Tuhan sepenuhnya mampu mewujudkan segala sesuatu dan memeliharanya. Ini tidak hanya mencakup dunia fisik tetapi juga alam spiritual, dan segala sesuatu di antaranya.  bahwa tidak ada yang terlalu sulit bagi Tuhan, dan bahwa Dia sepenuhnya mengendalikan segala sesuatu.

Kedua, sebagai Penebus, Allah cukup memadai untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita dan memberi kita hidup baru di dalam Kristus. keselamatan kita tidak bergantung pada upaya atau jasa kita sendiri, tetapi semata-mata pada kasih karunia dan belas kasihan Tuhan.

Ketiga, sebagai Penuntun, Tuhan cukup memadai untuk mengarahkan jalan kita dan memimpin kita melalui tantangan hidup.  tuntunan Allah mungkin tidak selalu jelas atau mudah dilihat, tetapi kita dapat mempercayai hikmat dan kedaulatan-Nya.

sebagai Penguat, Tuhan cukup memadai untuk memberi kita kekuatan yang kita butuhkan untuk bertekun dalam iman kita dan mengatasi pergumulan kita. kekuatan Tuhan menjadi sempurna dalam kelemahan kita, dan bahwa kita dapat mengandalkan Dia untuk menopang kita melewati masa-masa sulit. pemahaman kita tentang kecukupan Allah sangat penting bagi hubungan kita dengan-Nya. Ketika kita menyadari dan menerima kecukupan Tuhan dalam setiap bidang kehidupan kita, kita dapat bersandar pada kedaulatan-Nya dan percaya sepenuhnya kepada-Nya.

 from the book entitled J.I. Packer's book "Knowing God", please explain about "Chapter 25: The Adequacy of God"


In Chapter 25 of his book "Knowing God," J.I. Packer explores the idea of the adequacy of God. He begins by discussing how we often limit God and try to fit Him into our own understanding and expectations, rather than accepting Him as He is.


Packer argues that God is truly adequate in every way, and that His adequacy is demonstrated in four specific areas: His adequacy as Creator, as Redeemer, as Guide, and as Strengthener.


First, as Creator, God is fully capable of bringing all things into being and sustaining them. This includes not only the physical world but also the spiritual realm, and everything in between. Packer reminds us that nothing is too hard for God, and that He is fully in control of all things.


Second, as Redeemer, God is fully adequate to save us from our sins and give us new life in Christ. Packer emphasizes that our salvation is not dependent on our own efforts or merits, but solely on God's grace and mercy.


Third, as Guide, God is fully adequate to direct our paths and lead us through life's challenges. Packer notes that God's guidance may not always be clear or easy to discern, but that we can trust in His wisdom and sovereignty.


Finally, as Strengthener, God is fully adequate to give us the strength we need to persevere in our faith and overcome our struggles. Packer notes that God's strength is made perfect in our weakness, and that we can rely on Him to sustain us through difficult times.


Throughout the chapter, Packer emphasizes that our understanding of God's adequacy is crucial to our relationship with Him. When we recognize and accept God's sufficiency in every area of our lives, we can rest in His sovereignty and trust Him fully.


Back

Knowing and Enjoying

 Mengenal dan Menikmati, membahas pentingnya tidak hanya mengenal Tuhan, tetapi juga menikmati hubungan dengan-Nya. Tuhan menginginkan kita untuk menikmati hubungan kita dengan-Nya, dan kenikmatan ini sangat penting untuk pertumbuhan dan kesejahteraan rohani kita.

mengenal Tuhan bukan hanya latihan intelektual, tetapi juga melibatkan mengalami kehadiran dan kasih-Nya dalam hidup kita.  di seluruh Alkitab, kita melihat contoh orang yang tidak hanya mengenal Tuhan, tetapi juga menikmati hubungan yang dekat dengan-Nya.

 hambatan yang dapat menghalangi kita untuk menikmati hubungan kita dengan Tuhan. Ini termasuk dosa, kesombongan, dan kurangnya iman. hanya ketika kita mengatasi hambatan ini kita dapat benar-benar mengalami sukacita mengenal Tuhan.


Packer juga mencatat bahwa menikmati Tuhan bukan hanya pengalaman individu, tetapi juga menjadi bagian dari komunitas orang percaya. Dia berpendapat bahwa kita dirancang untuk hidup dalam komunitas dengan orang percaya lainnya, dan bahwa komunitas ini dapat membantu kita untuk bertumbuh dalam hubungan kita dengan Tuhan dan mengalami sukacita hadirat-Nya.




Packer menyimpulkan bab ini dengan menekankan bahwa menikmati Tuhan bukanlah sebuah kemewahan, tetapi bagian penting dari kehidupan Kristen. Dia menyarankan agar kita memprioritaskan hubungan kita dengan Tuhan dan meluangkan waktu untuk menikmati kehadiran-Nya dalam hidup kita. Dia juga mendorong kita untuk berbagi sukacita mengenal Tuhan dengan orang lain, sehingga mereka juga dapat mengalami kasih dan anugerah Tuhan dalam hidup mereka. 


from the book entitled J.I. Packer's book "Knowing God", please explain about "Chapter 24: Knowing and Enjoying"


In Chapter 24 of "Knowing God," J.I. Packer discusses the importance of not only knowing God, but also enjoying a relationship with Him. Packer argues that God desires us to enjoy our relationship with Him, and that this enjoyment is essential for our spiritual growth and well-being.


Packer begins by emphasizing that knowing God is not just an intellectual exercise, but also involves experiencing His presence and love in our lives. He notes that throughout the Bible, we see examples of people who not only knew God, but also enjoyed a close relationship with Him.


Packer then goes on to discuss the obstacles that can prevent us from enjoying our relationship with God. These include sin, pride, and a lack of faith. He argues that it is only when we overcome these obstacles that we can truly experience the joy of knowing God.


Packer also notes that enjoying God is not just an individual experience, but also involves being part of a community of believers. He argues that we are designed to live in community with other believers, and that this community can help us to grow in our relationship with God and to experience the joy of His presence.


Packer concludes the chapter by emphasizing that enjoying God is not a luxury, but an essential part of the Christian life. He suggests that we should prioritize our relationship with God and make time to enjoy His presence in our lives. He also encourages us to share the joy of knowing God with others, so that they too may come to experience the love and grace of God in their lives.


Back

Redemptive History

 "Sejarah Penebusan", yang mengacu pada rencana keselamatan Allah bagi umat manusia sepanjang sejarah. memahami sejarah penebusan sangat penting bagi orang Kristen, karena hal itu membantu kita memahami Alkitab sebagai satu kesatuan yang koheren dan melihat bagaimana Allah telah bekerja sepanjang sejarah untuk mewujudkan keselamatan kita. 

Alkitab menceritakan sebuah kisah, dan bahwa kisah ini adalah kisah penebusan manusia oleh Allah. memahami cerita ini mengharuskan kita untuk melihat Alkitab sebagai satu kesatuan yang utuh, bukan kumpulan cerita dan ajaran yang tidak berhubungan.

tema-tema kunci dari sejarah penebusan. Dia mencatat bahwa kisah keselamatan dimulai dengan penciptaan, di mana Tuhan menciptakan umat manusia untuk berhubungan dengannya. kejatuhan, di mana umat manusia memberontak melawan Tuhan dan membawa dosa dan kematian ke dunia. 

perjanjian Tuhan dengan Abraham, di mana Tuhan berjanji untuk memberkati Abraham dan keturunannya dan menjadikan mereka bangsa yang besar.  perjanjian ini menggambarkan rencana keselamatan terakhir Allah melalui Kristus. Keluaran, di mana Tuhan membebaskan orang Israel dari perbudakan di Mesir. peristiwa ini meramalkan pembebasan akhir yang akan datang melalui Kristus.

 kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus, dan bagaimana peristiwa-peristiwa ini menggenapi janji Perjanjian Lama dan menghasilkan keselamatan kita.  kisah sejarah penebusan pada akhirnya adalah kisah kasih dan anugerah Allah kepada kita, dan memahami kisah ini sangat penting bagi iman kita.

memahami sejarah penebusan harus membawa kita pada penghargaan yang lebih dalam terhadap Alkitab dan rencana keselamatan Allah. itu juga harus membawa kita pada keinginan yang lebih besar untuk membagikan Injil kepada orang lain, sehingga mereka juga dapat mengetahui kasih dan kasih karunia Allah. 

from the book entitled J.I. Packer's book "Knowing God", please explain about "Chapter 23: Redemptive History"


In Chapter 23 of "Knowing God," J.I. Packer examines the concept of redemptive history, which refers to God's plan of salvation for humanity throughout history. Packer argues that understanding redemptive history is essential for Christians, as it helps us to understand the Bible as a coherent whole and to see how God has been working throughout history to bring about our salvation.


Packer begins by noting that the Bible tells a story, and that this story is the story of God's redemption of humanity. He argues that understanding this story requires us to see the Bible as a unified whole, rather than a collection of disconnected stories and teachings.


Packer then goes on to examine the key themes of redemptive history. He notes that the story of salvation begins with creation, in which God creates humanity to be in relationship with him. He then discusses the fall, in which humanity rebelled against God and brought sin and death into the world.


Packer then moves on to discuss God's covenant with Abraham, in which God promised to bless Abraham and his descendants and to make them a great nation. He argues that this covenant foreshadowed God's ultimate plan of salvation through Christ.


Packer then discusses the Exodus, in which God delivered the Israelites from slavery in Egypt. He argues that this event foreshadowed the ultimate deliverance that would come through Christ.


Finally, Packer discusses the life, death, and resurrection of Jesus, and how these events fulfilled the promises of the Old Testament and brought about our salvation. He argues that the story of redemptive history is ultimately the story of God's love and grace towards us, and that understanding this story is essential for our faith.


Packer concludes the chapter by noting that understanding redemptive history should lead us to a deeper appreciation for the Bible and for God's plan of salvation. He suggests that it should also lead us to a greater desire to share the gospel with others, so that they too may come to know the love and grace of God.


Back

Judging the Church and the World

:Menilai Gereja dan Dunia meneliti pentingnya penghakiman di dalam gereja dan dunia.orang Kristen memiliki tanggung jawab untuk menghakimi baik gereja maupun dunia menurut standar Allah, dan menentang dosa dan perbuatan salah. orang Kristen dipanggil untuk menjadi "garam dan terang" di dunia.  ini mengharuskan kita untuk berbicara menentang dosa dan kesalahan, dan memanggil gereja dan dunia untuk bertobat dan beriman. orang Kristen harus bersedia menghadapi kejahatan dan membela apa yang benar, bahkan jika itu berarti bertentangan dengan budaya yang berlaku. penghakiman harus dimulai dari gereja.  orang Kristen memiliki tanggung jawab untuk meminta pertanggungjawaban gereja terhadap standar Tuhan, dan untuk menyerukan ajaran palsu dan perilaku tidak saleh di dalam gereja.  orang Kristen harus bersedia untuk terlibat dalam debat dan diskusi yang sehat di dalam gereja, dan bekerja menuju persatuan dan kemurnian. Namun, terhadap sikap membenarkan diri sendiri atau menghakimi.  orang Kristen harus mendekati penghakiman dengan kerendahan hati dan pengakuan atas keberdosaan mereka sendiri. orang Kristen harus bersedia untuk mengakui dosa dan kekurangan mereka sendiri, dan untuk memberikan kasih karunia dan pengampunan kepada orang lain.

orang Kristen harus berhati-hati dalam menilai dunia.  orang Kristen harus menyadari bias dan prasangka budaya mereka sendiri, dan harus berhati-hati untuk tidak memaksakan norma budaya mereka sendiri pada orang lain.  orang Kristen harus mau mendengarkan dan terlibat dengan orang-orang dari budaya dan latar belakang yang berbeda, dan mendekati dunia dengan semangat cinta dan kasih sayang. tujuan akhir dari penghakiman adalah untuk membawa orang kepada pertobatan dan iman. orang Kristen harus bersedia untuk membagikan Injil kepada orang lain, dan menawarkan kepada mereka harapan pengampunan dan hidup baru di dalam Kristus. pemahaman yang tepat tentang penilaian dapat mengarah pada penghargaan yang lebih dalam akan kebutuhan penginjilan dan keinginan yang lebih besar untuk membagikan kasih Kristus kepada orang lain.


from the book entitled J.I. Packer's book "Knowing God", please explain about "Chapter 22: Judging the Church and the World"


In Chapter 22 of "Knowing God," J.I. Packer examines the importance of judgment within the church and the world. He argues that Christians have a responsibility to judge both the church and the world according to God's standards, and to speak out against sin and wrongdoing.


Packer begins by noting that Christians are called to be "salt and light" in the world. He argues that this requires us to speak out against sin and wrongdoing, and to call the church and the world to repentance and faith. He suggests that Christians must be willing to confront evil and to stand up for what is right, even if it means going against the prevailing culture.


Packer also notes that judgment must begin with the church. He argues that Christians have a responsibility to hold the church accountable to God's standards, and to call out false teaching and ungodly behavior within the church. He suggests that Christians must be willing to engage in healthy debate and discussion within the church, and to work towards unity and purity.


However, Packer warns against a self-righteous or judgmental attitude. He suggests that Christians must approach judgment with humility and a recognition of their own sinfulness. He argues that Christians must be willing to confess their own sins and shortcomings, and to extend grace and forgiveness to others.


Packer also notes that Christians must be careful in their judgment of the world. He argues that Christians must be aware of their own cultural biases and prejudices, and must be careful not to impose their own cultural norms on others. He suggests that Christians must be willing to listen to and engage with people from different cultures and backgrounds, and to approach the world with a spirit of love and compassion.


Finally, Packer suggests that the ultimate goal of judgment is to bring people to repentance and faith. He argues that Christians must be willing to share the gospel with others, and to offer them the hope of forgiveness and new life in Christ. He suggests that a proper understanding of judgment can lead to a deeper appreciation for the need for evangelism and a greater desire to share the love of Christ with others.





victorjulu@gmail.com

 Judging the Church and the World

Judging Ourselves

Menilai Diri Sendiri" meneliti pentingnya pemeriksaan diri dan penilaian diri bagi orang Kristen.  orang Kristen harus melihat secara kritis kehidupan dan perilaku mereka sendiri, dan mereka harus menilai diri mereka sendiri sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh firman Tuhan.

memulai dengan mencatat bahwa introspeksi diri adalah praktik umum di seluruh Alkitab.  Mazmur, khususnya, menawarkan banyak contoh pemeriksaan diri dan pengakuan. orang Kristen harus mau melihat hidup dan perilakunya sendiri dengan jujur dan kritis, dan harus mau mengakui dosa dan kekurangannya. pemeriksaan diri sangat penting untuk pertumbuhan dan kedewasaan rohani. orang Kristen harus terus memeriksa diri mereka sendiri dalam terang firman Allah, dan mereka harus bersedia membuat perubahan dalam hidup mereka agar lebih sesuai dengan gambar Kristus.

Namun,  terhadap pendekatan legalistik atau membenarkan diri sendiri untuk pemeriksaan diri. Orang Kristen harus menghindari godaan untuk menghakimi orang lain atau membandingkan diri mereka dengan orang lain. Sebaliknya,  pemeriksaan diri harus berakar pada kerendahan hati dan pengakuan atas keterbatasan dan kelemahan kita sendiri. pemeriksaan diri bisa jadi sulit dan tidak nyaman.  mungkin mengharuskan kita untuk menghadapi kesombongan, keegoisan, dan keberdosaan kita sendiri. Namun,  manfaat pemeriksaan diri sepadan dengan usahanya, karena dapat mengarah pada pertumbuhan spiritual dan hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan. introspeksi diri harus diimbangi dengan fokus pada anugerah dan pengampunan Tuhan.  orang Kristen harus ingat bahwa mereka tidak diselamatkan oleh usaha atau kebenaran mereka sendiri, tetapi oleh kasih karunia Allah melalui iman kepada Yesus Kristus.  pemahaman yang tepat tentang kasih karunia Allah dapat mengarah pada penghargaan yang lebih besar akan kebutuhan pemeriksaan diri dan keinginan yang lebih dalam untuk menyesuaikan diri lebih dekat dengan gambar Kristus. 


from the book entitled J.I. Packer's book "Knowing God", please explain about "

Chapter 21: Judging Ourselves"


In Chapter 21 of "Knowing God," J.I. Packer examines the importance of self-examination and self-judgment for Christians. He argues that Christians must take a critical look at their own lives and behavior, and they must judge themselves according to the standards set by God's word.


Packer begins by noting that self-examination is a common practice throughout the Bible. He suggests that the Psalms, in particular, offer many examples of self-examination and confession. He argues that Christians must be willing to look at their own lives and behavior honestly and critically, and they must be willing to confess their sins and shortcomings.


Packer suggests that self-examination is essential for spiritual growth and maturity. He argues that Christians must continually examine themselves in light of God's word, and they must be willing to make changes in their lives to conform more closely to the image of Christ.


However, Packer warns against a legalistic or self-righteous approach to self-examination. He suggests that Christians must avoid the temptation to judge others or to compare themselves to others. Instead, he argues that self-examination must be rooted in humility and a recognition of our own limitations and weaknesses.


Packer also notes that self-examination can be difficult and uncomfortable. He suggests that it may require us to confront our own pride, selfishness, and sinfulness. However, he argues that the benefits of self-examination are worth the effort, as it can lead to spiritual growth and a deeper relationship with God.


Finally, Packer suggests that self-examination must be balanced with a focus on God's grace and forgiveness. He argues that Christians must remember that they are not saved by their own efforts or righteousness, but by the grace of God through faith in Jesus Christ. He suggests that a proper understanding of God's grace can lead to a greater appreciation for the need for self-examination and a deeper desire to conform more closely to the image of Christ.


Back

The Wisdom of This World

Kebijaksanaan Dunia Ini" kontras antara hikmat dunia ini dan hikmat Allah.  hikmat dunia ini pada akhirnya adalah kebodohan, sedangkan hikmat Allah adalah benar dan dapat dipercaya.

mulai dengan mendefinisikan apa yang dia maksud dengan "kebijaksanaan dunia ini".  mengacu pada berbagai filosofi, ideologi, dan pandangan dunia yang lazim dalam budaya kita. Ini sering mengandalkan penalaran dan wawasan manusia, dan mereka memprioritaskan nilai-nilai dunia ini, seperti kekuatan, kesuksesan, dan kesenangan. mengontraskan hal ini dengan hikmat Allah, yang menurutnya berakar pada wahyu firman Allah. kebijaksanaan ini seringkali bertentangan dengan nilai-nilai dunia ini, dan mungkin tampak bodoh bagi mereka yang tidak percaya. Namun,  kebijaksanaan ini pada akhirnya benar dan dapat dipercaya, dan menawarkan jalan menuju kebijaksanaan dan pemahaman sejati. orang Kristen sering terjebak di antara hikmat dunia ini dan hikmat Allah.  ada ketegangan antara hidup di dunia dan dipanggil ke standar kebijaksanaan dan pemahaman yang lebih tinggi.  orang Kristen harus cerdas dalam bagaimana mereka terlibat dengan hikmat dunia ini, dan mereka harus selalu memprioritaskan hikmat Allah di atas segalanya. hikmat Allah pada akhirnya terungkap dalam Yesus Kristus. bahwa Yesus mewujudkan hikmat dan pemahaman sejati,  jalan menuju keselamatan dan pengetahuan sejati tentang Tuhan.  tujuan akhir dari kehidupan Kristen adalah untuk mengenal Tuhan lebih dalam dan bertumbuh dalam hikmat dan pengertian yang berasal dari mengenal Dia.


 from the book entitled J.I. Packer's book "Knowing God", please explain about "Chapter 20: The Wisdom of This World"


In Chapter 20 of "Knowing God," J.I. Packer examines the contrast between the wisdom of this world and the wisdom of God. He argues that the wisdom of this world is ultimately foolishness, while the wisdom of God is true and trustworthy.


Packer begins by defining what he means by the "wisdom of this world." He suggests that this refers to the various philosophies, ideologies, and worldviews that are prevalent in our culture. These often rely on human reasoning and insight, and they prioritize the values of this world, such as power, success, and pleasure.


Packer contrasts this with the wisdom of God, which he suggests is rooted in the revelation of God's word. He argues that this wisdom is often counterintuitive to the values of this world, and it may seem foolish to those who do not believe. However, he suggests that this wisdom is ultimately true and trustworthy, and it offers a path to true wisdom and understanding.


Packer notes that Christians are often caught between the wisdom of this world and the wisdom of God. He suggests that there is a tension between living in the world and being called to a higher standard of wisdom and understanding. He argues that Christians must be discerning in how they engage with the wisdom of this world, and they must always prioritize the wisdom of God above all else.


Finally, Packer suggests that the wisdom of God is ultimately revealed in Jesus Christ. He argues that Jesus embodies true wisdom and understanding, and He offers a path to salvation and true knowledge of God. Packer concludes that the ultimate goal of the Christian life is to know God more deeply and to grow in the wisdom and understanding that comes from knowing Him.


Back

The Appropriation of Faith

membahas pentingnya menyesuaikan iman dalam hidup kita. iman bukan hanya kepercayaan pada fakta atau doktrin tertentu, tetapi kepercayaan aktif pada Tuhan dan janji-janji-Nya.

ada tiga aspek iman yang penting untuk dipahami dan diterapkan oleh orang percaya dalam kehidupan mereka: pengetahuan, persetujuan, dan kepercayaan. Pengetahuan mencakup memahami kebenaran firman Allah dan janji-janji-Nya. Persetujuan melibatkan persetujuan dengan kebenaran ini dan mengakui bahwa itu dapat dipercaya. Dan kepercayaan melibatkan secara aktif mengandalkan Tuhan dan janji-janji-Nya dalam hidup kita. bahwa ini melibatkan upaya untuk mengenal Tuhan lebih dalam, merenungkan firman-Nya, dan secara aktif mempercayai janji-janji-Nya dalam hidup kita.

menekankan pentingnya iman dalam hubungannya dengan keselamatan. iman bukan hanya peristiwa satu kali, tetapi proses percaya yang berkelanjutan kepada Tuhan dan janji-janji-Nya.  keselamatan kita tidak didasarkan pada perbuatan kita sendiri, tetapi pada iman kita kepada Yesus Kristus dan karya-Nya di kayu salib.

Terakhir, beberapa tantangan yang mungkin dihadapi orang percaya dalam perjalanan iman mereka, termasuk keraguan, kekeringan rohani, dan peperangan rohani.  bahwa pada saat-saat ini, penting untuk berpegang teguh pada janji Tuhan dan terus percaya kepada-Nya. pentingnya menyesuaikan iman dalam hidup kita. Ini melibatkan upaya untuk mengenal Tuhan lebih dalam, secara aktif mempercayai janji-janji-Nya, dan mengandalkan Dia untuk keselamatan kita. Sementara iman mungkin menghadapi tantangan, pada akhirnya adalah anugerah dari Allah yang harus terus kita kembangkan dan tumbuhkan sepanjang hidup kita.


In Chapter 19 of "Knowing God," J.I. Packer discusses the importance of appropriating faith in our lives. He argues that faith is not just a belief in certain facts or doctrines, but an active trust in God and His promises.


Packer suggests that there are three aspects of faith that are important for believers to understand and apply in their lives: knowledge, assent, and trust. Knowledge involves understanding the truth of God's word and His promises. Assent involves agreeing with this truth and recognizing that it is trustworthy. And trust involves actively relying on God and His promises in our lives.


Packer notes that while faith is a gift from God, it is also something that we must actively appropriate in our lives. He suggests that this involves seeking to know God more deeply, meditating on His word, and actively trusting in His promises in our lives.


Packer also emphasizes the importance of faith in relation to salvation. He suggests that faith is not just a one-time event, but an ongoing process of trusting in God and His promises. He argues that our salvation is based not on our own works, but on our faith in Jesus Christ and His work on the cross.


Finally, Packer discusses some of the challenges that believers may face in their journey of faith, including doubt, spiritual dryness, and spiritual warfare. He suggests that in these times, it is important to cling to God's promises and to continue to trust in Him.


In conclusion, Packer emphasizes the importance of appropriating faith in our lives. This involves seeking to know God more deeply, actively trusting in His promises, and relying on Him for our salvation. While faith may face challenges, it is ultimately a gift from God that we must continue to cultivate and grow in throughout our lives.


Back

The Open Secret

"rahasia terbuka" yang tersembunyi dan terungkap pada saat yang bersamaan.

 injil sering digambarkan dalam Perjanjian Baru sebagai suatu misteri atau rahasia yang telah tersembunyi sejak berabad-abad yang lalu tetapi sekarang dinyatakan di dalam Yesus Kristus.  misteri ini bukanlah rahasia yang sengaja dirahasiakan dari orang-orang, melainkan sesuatu yang sulit dipahami dan diterima orang.

injil itu tersembunyi dan terungkap pada saat yang bersamaan. Di satu sisi, Injil tersembunyi dari mereka yang buta secara rohani atau menolak kebenaran Allah. Sebaliknya, Injil diungkapkan kepada mereka yang memiliki mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar, dan yang menanggapi panggilan Allah. membahas pentingnya Roh Kudus dalam mengungkapkan Injil kepada orang percaya. Dia menyarankan bahwa hanya melalui pekerjaan Roh Kudus orang dapat memahami dan menerima kebenaran Injil.

Terakhir, Packer menekankan pentingnya membagikan Injil kepada orang lain. Dia menyarankan bahwa sementara Injil adalah misteri yang sulit dipahami orang, itu juga merupakan pesan pengharapan dan keselamatan yang harus diberitakan kepada semua orang. bahwa adalah tanggung jawab setiap orang percaya untuk membagikan Injil kepada orang lain, dan ini dapat dilakukan baik melalui perkataan maupun perbuatan.

Sebagai kesimpulan,  Injil adalah "rahasia terbuka" yang tersembunyi dan sekaligus terungkap. Injil adalah misteri yang sulit dipahami orang, tetapi juga pesan pengharapan dan keselamatan yang harus diberitakan kepada semua orang. Roh Kudus memainkan peran kunci dalam mengungkapkan Injil kepada orang percaya, dan merupakan tanggung jawab setiap orang percaya untuk membagikan Injil kepada orang lain.


In Chapter 18 of "Knowing God," J.I. Packer explores the concept of the gospel as an "open secret" that is both hidden and revealed at the same time.


Packer begins by noting that the gospel is often described in the New Testament as a mystery or a secret that has been hidden from ages past but is now revealed in Jesus Christ. He suggests that this mystery is not a secret that is intentionally kept from people, but rather something that is difficult for people to understand and accept.


Furthermore, Packer argues that the gospel is both hidden and revealed at the same time. On the one hand, the gospel is hidden from those who are spiritually blind or resistant to God's truth. On the other hand, the gospel is revealed to those who have eyes to see and ears to hear, and who respond to God's call.


Packer then discusses the importance of the Holy Spirit in revealing the gospel to believers. He suggests that it is only through the work of the Holy Spirit that people can understand and accept the truth of the gospel.


Finally, Packer emphasizes the importance of sharing the gospel with others. He suggests that while the gospel is a mystery that is difficult for people to understand, it is also a message of hope and salvation that must be proclaimed to all people. He argues that it is the responsibility of every believer to share the gospel with others, and that this can be done through both word and deed.


In conclusion, Packer argues that the gospel is an "open secret" that is both hidden and revealed at the same time. The gospel is a mystery that is difficult for people to understand, but it is also a message of hope and salvation that must be proclaimed to all people. The Holy Spirit plays a key role in revealing the gospel to believers, and it is the responsibility of every believer to share the gospel with others.


Back

The Heart of the Christian Faith

 inti dari iman Kristen: salib Kristus.

salib adalah inti dari pesan Kristiani, dan bahwa melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristuslah keselamatan dimungkinkan.  salib bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan realitas hidup yang terus membentuk kehidupan orang percaya hingga saat ini.

Lebih lanjut,  salib adalah demonstrasi terakhir dari kasih Allah bagi para pendosa. Dia mencatat bahwa Alkitab menggambarkan Tuhan sebagai hakim yang adil yang menghukum dosa, tetapi juga sebagai Bapa yang penuh kasih yang menyediakan jalan bagi pendosa untuk diperdamaikan dengan-Nya. Packer berpendapat bahwa salib adalah ekspresi tertinggi dari cinta ini, karena Tuhan sendiri menanggung hukuman atas dosa untuk menyelamatkan mereka yang percaya kepada-Nya.




Packer kemudian membahas pentingnya iman kepada Kristus untuk keselamatan. Ia mengemukakan bahwa salib bukan sekedar lambang kasih Allah, melainkan sarana keselamatan bagi mereka yang menaruh kepercayaan kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan.




Terakhir, Packer menekankan pentingnya salib dalam kehidupan sehari-hari orang percaya. Dia menyarankan bahwa salib bukan hanya peristiwa satu kali, tetapi realitas berkelanjutan yang membentuk cara hidup dan berpikir orang Kristen. Dia berpendapat bahwa salib harus menuntun kita untuk menjalani kehidupan cinta, syukur, dan pelayanan kepada Tuhan dan sesama.




Kesimpulannya, Packer berpendapat bahwa salib Kristus adalah inti dari iman Kristen. Melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristuslah keselamatan dimungkinkan, dan salib adalah demonstrasi terakhir dari kasih Allah bagi orang berdosa. Iman kepada Kristus sangat penting untuk keselamatan, dan salib harus membentuk kehidupan sehari-hari orang percaya, menuntun mereka ke kehidupan cinta, syukur, dan pelayanan.


In Chapter 17 of "Knowing God," J.I. Packer explores what he believes to be the heart of the Christian faith: the cross of Christ.


Packer begins by noting that the cross is central to the Christian message, and that it is through the death and resurrection of Jesus Christ that salvation is made possible. He argues that the cross is not just a historical event, but a living reality that continues to shape the lives of believers today.


Furthermore, Packer suggests that the cross is the ultimate demonstration of God's love for sinners. He notes that the Bible portrays God as a just judge who punishes sin, but also as a loving Father who provides a way for sinners to be reconciled to Him. Packer argues that the cross is the ultimate expression of this love, as God Himself bears the punishment for sin in order to save those who believe in Him.


Packer then discusses the importance of faith in Christ for salvation. He suggests that the cross is not just a symbol of God's love, but a means of salvation for those who put their trust in Jesus Christ as Savior and Lord.


Finally, Packer emphasizes the importance of the cross in the daily lives of believers. He suggests that the cross is not just a one-time event, but an ongoing reality that shapes the way Christians live and think. He argues that the cross should lead us to live lives of love, gratitude, and service to God and others.


In conclusion, Packer argues that the cross of Christ is the heart of the Christian faith. It is through the death and resurrection of Jesus Christ that salvation is made possible, and the cross is the ultimate demonstration of God's love for sinners. Faith in Christ is essential for salvation, and the cross should shape the daily lives of believers, leading them to lives of love, gratitude, and service.


Back

God the Judge

sifat Tuhan sebagai Hakim, dengan alasan bahwa aspek karakter Tuhan ini sering diabaikan dalam kekristenan modern.

 Alkitab menggambarkan Tuhan sebagai pengasih dan adil, dan bahwa kedua aspek karakter-Nya ini penting untuk pemahaman yang lengkap tentang siapa Dia. kecenderungan modern untuk hanya berfokus pada kasih Allah telah menyebabkan pengabaian terhadap keadilan dan penghakiman-Nya.

keadilan dan penghakiman Allah tidak sewenang-wenang atau berubah-ubah, tetapi didasarkan pada sifat-Nya sebagai Allah yang kudus dan benar.  Alkitab menggambarkan Tuhan sebagai hakim yang adil yang menghukum dosa dan menghargai kebenaran.

 konsekuensi mengabaikan penghakiman Allah, menunjukkan bahwa hal ini mengarah pada pemahaman iman Kristen yang dangkal dan tidak lengkap. bahwa pemahaman yang tepat tentang penghakiman Allah diperlukan untuk penghargaan penuh atas kasih karunia dan belas kasihan Allah.

Terakhir, penghakiman Allah dengan pertobatan dan iman. Dia menyarankan bahwa mengenali realitas penghakiman Tuhan harus membawa kita untuk berpaling dari dosa dan menuju Tuhan, mencari pengampunan dan belas kasihan-Nya.

 kesimpulan,  penghakiman Allah adalah aspek karakter-Nya yang diabaikan dalam kekristenan modern. Keadilan dan penghakiman Allah didasarkan pada sifat-Nya sebagai Allah yang kudus dan benar, dan mengabaikannya akan mengarah pada pemahaman iman Kristen yang dangkal dan tidak lengkap. Menanggapi penghakiman Allah dengan pertobatan dan iman diperlukan untuk menghargai sepenuhnya kasih karunia dan kemurahan Allah.


 In Chapter 16 of "Knowing God," J.I. Packer explores the nature of God as Judge, arguing that this aspect of God's character is often overlooked in modern Christianity.


Packer begins by noting that the Bible portrays God as both loving and just, and that both of these aspects of His character are important for a complete understanding of who He is. He suggests that the modern tendency to focus only on God's love has led to a neglect of His justice and judgment.


Furthermore, Packer argues that God's justice and judgment are not arbitrary or capricious, but are grounded in His nature as a holy and righteous God. He notes that the Bible portrays God as a just judge who punishes sin and rewards righteousness.


Packer then discusses the consequences of neglecting God's judgment, suggesting that this leads to a superficial and incomplete understanding of the Christian faith. He notes that a proper understanding of God's judgment is necessary for a full appreciation of God's grace and mercy.


Finally, Packer emphasizes the importance of responding to God's judgment with repentance and faith. He suggests that recognizing the reality of God's judgment should lead us to turn away from sin and towards God, seeking His forgiveness and mercy.


In conclusion, Packer argues that God's judgment is a neglected aspect of His character in modern Christianity. God's justice and judgment are grounded in His nature as a holy and righteous God, and neglecting them leads to a superficial and incomplete understanding of the Christian faith. Responding to God's judgment with repentance and faith is necessary for a full appreciation of God's grace and mercy.


Back

The Grace of God

 mengeksplorasi sifat anugerah Tuhan dan berpendapat bahwa itu adalah tema sentral dari iman Kristen.

mulai dengan mendefinisikan kasih karunia sebagai "perkenanan Tuhan yang tidak pantas", menekankan bahwa itu adalah hadiah yang diberikan secara cuma-cuma oleh Tuhan kepada orang-orang berdosa yang tidak pantas menerimanya. Dia mencatat bahwa Alkitab menggambarkan kasih karunia sebagai pusat iman Kristen, karena melalui kasih karunia Allah keselamatan dimungkinkan.

 bahwa kasih karunia Tuhan bukan hanya pemberian satu kali, tetapi merupakan realitas yang berkelanjutan dalam kehidupan orang percaya.bahwa kasih karunia Tuhan ditunjukkan dengan cara yang nyata, seperti pengampunan dosa dan kuasa untuk menjalani kehidupan yang diubahkan. membahas hubungan antara kasih karunia dan iman, dengan alasan bahwa iman adalah cara kita menerima kasih karunia Allah. menyarankan bahwa iman bukan hanya persetujuan mental terhadap kebenaran tertentu, tetapi kepercayaan pribadi kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan.




Terakhir,  menekankan pentingnya menanggapi anugerah Tuhan dengan rasa syukur dan ketaatan. menyarankan bahwa mengenali kedalaman kasih karunia Tuhan dalam hidup kita harus membawa kita untuk hidup dengan rasa syukur dan pelayanan kepada Tuhan dan sesama.




Sebagai kesimpulan, bahwa anugrah Tuhan adalah tema sentral dari iman Kristen, yang mengungkapkan kemurahan Tuhan yang tidak pantas terhadap orang berdosa. Anugerah Tuhan bukan hanya pemberian satu kali, tetapi realitas yang berkelanjutan dalam kehidupan orang percaya, yang ditunjukkan dengan cara yang nyata. Menanggapi anugerah Tuhan dengan rasa syukur dan ketaatan seharusnya membawa kita untuk hidup bersyukur dan melayani Tuhan dan sesama


In Chapter 15 of "Knowing God," J.I. Packer explores the nature of God's grace and argues that it is a central theme of the Christian faith.


Packer begins by defining grace as "God's unmerited favor," emphasizing that it is a gift freely given by God to sinners who do not deserve it. He notes that the Bible portrays grace as central to the Christian faith, as it is through God's grace that salvation is made possible.


Furthermore, Packer argues that God's grace is not just a one-time gift, but is an ongoing reality in the lives of believers. He suggests that God's grace is demonstrated in tangible ways, such as in the forgiveness of sins and in the power to live a transformed life.


Packer then discusses the relationship between grace and faith, arguing that faith is the means by which we receive God's grace. He suggests that faith is not just a mental assent to certain truths, but a personal trust in Jesus Christ as Savior and Lord.


Finally, Packer emphasizes the importance of responding to God's grace with gratitude and obedience. He suggests that recognizing the depth of God's grace in our lives should lead us to live a life of thankfulness and service to God and others.


In conclusion, Packer argues that the grace of God is a central theme of the Christian faith, revealing God's unmerited favor towards sinners. God's grace is not just a one-time gift, but an ongoing reality in the lives of believers, demonstrated in tangible ways. Responding to God's grace with gratitude and obedience should lead us to live a life of thankfulness and service to God and others


Back


The Love of God


sifat kasih Tuhan, dengan alasan bahwa itu adalah tema sentral dari iman Kristen. Alkitab menggambarkan Tuhan sebagai Tuhan yang pengasih yang menginginkan hubungan dengan umat-Nya.  tema kasih ini adalah kunci untuk memahami seluruh Alkitab, karena mengungkapkan karakter dan tujuan Allah.

 kasih Tuhan bukan hanya sekedar konsep abstrak, melainkan realitas nyata yang dapat dialami oleh individu. kasih Tuhan ditunjukkan dengan cara yang nyata, seperti melalui pengorbanan Yesus di kayu salib.

berbagai aspek kasih Allah, termasuk kasih-Nya yang tak bersyarat kepada umat-Nya, kasih-Nya kepada para pendosa, dan kasih-Nya kepada musuh-musuh-Nya. kasih Tuhan tidak bergantung pada jasa atau kelayakan manusia, tetapi diberikan secara cuma-cuma kepada semua orang yang mau menerimanya.

Terakhir,  pentingnya menanggapi kasih Allah dengan kasih kepada-Nya dan sesama.  mencintai Tuhan dan mencintai orang lain adalah perintah utama dari iman Kristen, dan bahwa itu adalah kunci untuk menjalani kehidupan yang memuaskan dan bermakna.

Kesimpulannya,  bahwa kasih Allah adalah tema sentral dari iman Kristen, mengungkapkan karakter dan tujuan Allah. Kasih Tuhan bukan hanya konsep abstrak, tetapi realitas nyata yang bisa dialami oleh individu. Menanggapi kasih Allah dengan kasih kepada-Nya dan kepada sesama adalah kunci untuk menjalani hidup yang penuh dan bermakna.

In Chapter 14 of "Knowing God," J.I. Packer explores the nature of God's love, arguing that it is the central theme of the Christian faith.


Packer begins by noting that the Bible portrays God as a loving God who desires a relationship with His people. He suggests that this theme of love is the key to understanding the entire Bible, as it reveals God's character and purposes.


Furthermore, Packer argues that God's love is not just an abstract concept, but a tangible reality that can be experienced by individuals. He suggests that God's love is demonstrated in tangible ways, such as through the sacrifice of Jesus on the cross.


Packer then discusses the various aspects of God's love, including His unconditional love for His people, His love for sinners, and His love for His enemies. He notes that God's love is not dependent on human merit or worthiness, but is freely given to all who will receive it.


Finally, Packer emphasizes the importance of responding to God's love with love for Him and for others. He suggests that loving God and loving others are the central commands of the Christian faith, and that they are the key to living a fulfilled and meaningful life.


In conclusion, Packer argues that the love of God is the central theme of the Christian faith, revealing God's character and purposes. God's love is not just an abstract concept, but a tangible reality that can be experienced by individuals. Responding to God's love with love for Him and for others is the key to living a fulfilled and meaningful life.


Back


The Almighty God

hakikat Tuhan sebagai Pencipta Yang Maha Kuasa dan Berdaulat. bahwa doktrin kedaulatan Tuhan bisa menjadi konsep yang sulit untuk dipahami, karena memerlukan pemahaman tentang kekuasaan dan kendali mutlak Tuhan atas segala sesuatu.  doktrin kedaulatan Allah sangat penting untuk pemahaman yang tepat tentang iman Kristen.

deskripsi alkitabiah tentang Tuhan sebagai Pencipta Yang Mahakuasa.  kekuatan Tuhan terbukti dalam penciptaan dunia, serta dalam pemeliharaan dan pengaturan segala sesuatu.

 pentingnya memahami kedaulatan Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. bahwa mengakui kendali Tuhan atas segala sesuatu memungkinkan kita untuk mempercayai Dia dalam segala keadaan, bahkan ketika kita tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

hubungan antara kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia.  bahwa meskipun Tuhan mengendalikan segala sesuatu, manusia tetap bertanggung jawab atas tindakan dan pilihan mereka. Memahami ketegangan antara kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia sangat penting untuk pemahaman yang benar tentang iman Kristen.

 pentingnya mengakui kedaulatan Tuhan dalam ibadah kita.  bahwa mengenali kekuatan dan kendali mutlak Tuhan atas segala sesuatu memungkinkan kita untuk mendekati-Nya dengan hormat dan kagum.

Kesimpulannya,  bahwa doktrin kedaulatan Tuhan sangat penting untuk pemahaman yang benar tentang iman Kristen. Memahami kekuasaan dan kendali mutlak Tuhan atas segala sesuatu memungkinkan kita untuk mempercayai-Nya dalam segala keadaan dan mendekati-Nya dengan hormat dan kagum dalam ibadah kita.


In Chapter 13 of "Knowing God," J.I. Packer explores the nature of God as the Almighty and Sovereign Creator.

Packer begins by noting that the doctrine of God's sovereignty can be a difficult concept to grasp, as it requires an understanding of God's absolute power and control over all things. He argues, however, that the doctrine of God's sovereignty is essential for a proper understanding of the Christian faith.

Packer then discusses the biblical descriptions of God as the Almighty Creator. He notes that God's power is evident in the creation of the world, as well as in the preservation and governance of all things.


Furthermore, Packer emphasizes the importance of understanding God's sovereignty in our daily lives. He suggests that recognizing God's control over all things allows us to trust Him in all circumstances, even when we don't understand what is happening.


Packer then discusses the relationship between God's sovereignty and human responsibility. He notes that while God is in control of all things, humans are still responsible for their actions and choices. Understanding the tension between God's sovereignty and human responsibility is crucial for a proper understanding of the Christian faith.


Finally, Packer emphasizes the importance of recognizing God's sovereignty in our worship. He suggests that recognizing God's absolute power and control over all things allows us to approach Him with reverence and awe.


In conclusion, Packer argues that the doctrine of God's sovereignty is essential for a proper understanding of the Christian faith. Understanding God's absolute power and control over all things allows us to trust Him in all circumstances and approach Him with reverence and awe in our worship.


Back

Thy Word Is Truth

mengeksplorasi pentingnya Alkitab sebagai Firman Tuhan dan sumber kebenaran utama bagi orang Kristen. Alkitab bukan hanya kumpulan tulisan religius tetapi Firman yang hidup dan aktif yang memiliki kuasa untuk mengubah kehidupan.  Alkitab adalah otoritas tertinggi bagi orang Kristen, karena mengungkapkan kehendak dan tujuan Allah bagi hidup kita.

doktrin pengilhaman alkitabiah, yang mengajarkan bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang diilhami. bahwa memahami ilham Alkitab sangat penting untuk memahami otoritas dan kuasanya.pentingnya Alkitab sebagai pedoman hidup Kristiani. Alkitab memberikan panduan yang jelas tentang bagaimana orang Kristen harus menjalani kehidupan mereka, dan bahwa mengikuti prinsip-prinsip ini sangat penting untuk kehidupan yang benar-benar menyenangkan dan memuaskan.  membahas hubungan antara Alkitab dan Roh Kudus bahwa Roh Kudus bekerja melalui Alkitab untuk mengungkapkan kebenaran Allah kepada kita dan mengubah hidup kita. Memahami peran Roh Kudus dalam menafsirkan dan menerapkan Alkitab sangat penting untuk pemahaman yang benar tentang otoritas dan kuasanya.

 pentingnya mempelajari dan merenungkan Alkitab.  bahwa membaca Alkitab harus menjadi praktik sehari-hari bagi orang Kristen, karena memberikan makanan rohani dan bimbingan bagi kehidupan kita. Alkitab adalah sumber kebenaran tertinggi bagi orang Kristen, mengungkapkan kehendak dan tujuan Allah bagi hidup kita. Memahami inspirasi Alkitab, otoritasnya, dan peran Roh Kudus dalam menafsirkan dan menerapkannya sangat penting untuk pemahaman yang benar tentang kuasanya. Mempelajari dan merenungkan Alkitab harus menjadi praktik sehari-hari bagi orang Kristen, memberikan makanan rohani dan bimbingan bagi kehidupan kita.


In Chapter 12 of "Knowing God," J.I. Packer explores the importance of the Bible as the Word of God and the ultimate source of truth for Christians.


Packer begins by noting that the Bible is not just a collection of religious writings but a living and active Word that has the power to transform lives. He argues that the Bible is the ultimate authority for Christians, as it reveals God's will and purposes for our lives.


Packer then discusses the doctrine of biblical inspiration, which teaches that the Bible is the inspired Word of God. He suggests that understanding the inspiration of the Bible is essential for understanding its authority and power.


Furthermore, Packer emphasizes the importance of the Bible as a guide for Christian living. He suggests that the Bible provides clear guidance on how Christians should live their lives, and that following these principles is essential for a life of true joy and fulfillment.


Packer then discusses the relationship between the Bible and the Holy Spirit. He notes that the Holy Spirit works through the Bible to reveal God's truth to us and to transform our lives. Understanding the role of the Holy Spirit in interpreting and applying the Bible is crucial for a proper understanding of its authority and power.


Finally, Packer emphasizes the importance of studying and meditating on the Bible. He suggests that reading the Bible should be a daily practice for Christians, as it provides spiritual nourishment and guidance for our lives.


In conclusion, Packer argues that the Bible is the ultimate source of truth for Christians, revealing God's will and purposes for our lives. Understanding the inspiration of the Bible, its authority, and the role of the Holy Spirit in interpreting and applying it is crucial for a proper understanding of its power. Studying and meditating on the Bible should be a daily practice for Christians, providing spiritual nourishment and guidance for our lives.


Back


The Language of Canaan

 bahasa Kanaan, yang dia definisikan sebagai bahasa iman alkitabiah dan kosakata Kristen yang digunakan untuk menggambarkan hubungan kita dengan Tuhan.

mulai dengan mencatat bahwa bahasa Kanaan sering dianggap kuno atau kuno, tetapi dia  penting bagi orang Kristen untuk menggunakan bahasa ini untuk mengomunikasikan iman mereka secara efektif. Bahasa Kanaan mencakup kata-kata seperti "rahmat", "keselamatan", "pertobatan", dan "penebusan", yang memiliki arti khusus dalam konteks Kristen.

pentingnya memahami makna di balik kata-kata tersebut. mencatat bahwa banyak orang Kristen menggunakan kata-kata ini tanpa sepenuhnya memahami maknanya, yang dapat menyebabkan kebingungan dan kesalahpahaman.  bahwa memahami bahasa Kanaan sangat penting untuk pemahaman yang benar tentang iman Kristen.

Bahasa Kanaan tidak hanya penting untuk komunikasi dalam komunitas Kristen tetapi juga untuk penginjilan. menyarankan bahwa menggunakan bahasa Kanaan memungkinkan orang Kristen untuk secara efektif mengkomunikasikan Injil kepada orang yang tidak percaya, karena bahasa Kanaan menyediakan kosa kata bersama yang dapat digunakan untuk menjelaskan prinsip inti dari iman.

 hubungan antara bahasa Kanaan dan Alkitab.  bahasa Kanaan berakar kuat dalam bahasa alkitabiah dan memahami konteks alkitabiah sangat penting untuk memahami makna kata-kata ini.

 pentingnya menggunakan bahasa Kanaan dalam ibadah. menggunakan bahasa ini memungkinkan orang Kristen untuk mengekspresikan iman mereka dengan cara yang bermakna dan otentik, karena mencerminkan bahasa yang digunakan oleh para penulis Alkitab dan komunitas Kristen mula-mula.

Sebagai kesimpulan, bahwa bahasa Kanaan penting untuk komunikasi yang efektif dalam komunitas Kristen dan untuk penginjilan. Memahami makna di balik kata-kata ini sangat penting untuk pemahaman yang tepat tentang iman Kristen, dan menggunakan bahasa ini dalam ibadah memungkinkan orang Kristen untuk mengungkapkan iman mereka dengan cara yang bermakna dan otentik.

 In Chapter 11 of "Knowing God," J.I. Packer explores the language of Canaan, which he defines as the biblical language of faith and the Christian vocabulary used to describe our relationship with God.


Packer begins by noting that the language of Canaan is often seen as archaic or outdated, but he argues that it is essential for Christians to use this language to communicate their faith effectively. The language of Canaan includes words such as "grace," "salvation," "repentance," and "redemption," which have specific meanings in a Christian context.


Packer then discusses the importance of understanding the meaning behind these words. He notes that many Christians use these words without fully comprehending their significance, which can lead to confusion and misunderstandings. Packer emphasizes that understanding the language of Canaan is essential for a proper understanding of the Christian faith.


Furthermore, Packer argues that the language of Canaan is not only essential for communication within the Christian community but also for evangelism. He suggests that using the language of Canaan allows Christians to effectively communicate the gospel to non-believers, as it provides a shared vocabulary that can be used to explain the core tenets of the faith.


Packer then discusses the relationship between the language of Canaan and the Bible. He notes that the language of Canaan is deeply rooted in biblical language and that understanding the biblical context is crucial for understanding the significance of these words.


Finally, Packer emphasizes the importance of using the language of Canaan in worship. He suggests that using this language allows Christians to express their faith in a way that is both meaningful and authentic, as it reflects the language used by the biblical writers and the early Christian community.


In conclusion, Packer argues that the language of Canaan is essential for effective communication within the Christian community and for evangelism. Understanding the meaning behind these words is crucial for a proper understanding of the Christian faith, and using this language in worship allows Christians to express their faith in a way that is both meaningful and authentic.


Back



Goodness and Severity

 dua atribut kebaikan dan kekerasan Tuhan yang tampaknya berlawanan.  bahwa kedua atribut ini tidak saling eksklusif tetapi sebenarnya saling melengkapi dan saling berhubungan.

 memulai dengan membahas konsep kebaikan Tuhan. bahwa kebaikan Tuhan bukan hanya atribut moral tetapi mencakup kebajikan, belas kasihan, dan kemurahan hati-Nya terhadap semua ciptaan-Nya. Kebaikan Tuhan diwujudkan dalam tindakan-Nya terhadap umat manusia, termasuk cinta, kasih sayang, dan anugerah-Nya.

Namun,  juga menyadari bahwa kebaikan Tuhan tidak berarti bahwa Dia lemah lembut atau lemah. Kebaikan Tuhan diimbangi dengan kekerasan-Nya, yang dinyatakan dalam keadilan, murka, dan hukuman-Nya terhadap orang-orang yang memberontak terhadap-Nya.  bahwa ketegasan Tuhan bukanlah atribut negatif tetapi atribut yang diperlukan karena menjunjung tinggi kebenaran-Nya dan komitmen-Nya terhadap keadilan.

 bahwa kebaikan dan ketangguhan Tuhan tidak bertentangan satu sama lain tetapi sebenarnya dalam keselarasan yang sempurna. Kebaikan Tuhan terlihat dari belas kasihan-Nya terhadap para pendosa, sedangkan ketegasan-Nya terlihat dari penghakiman-Nya terhadap dosa.  bahwa salib Kristus adalah demonstrasi sempurna dari interaksi antara kebaikan dan kekerasan Tuhan. Di kayu salib, kebaikan Tuhan ditunjukkan melalui kesediaan-Nya untuk mengampuni orang berdosa dan menawarkan keselamatan kepada mereka, sedangkan ketegasan-Nya ditunjukkan dalam hukuman yang ditanggung Kristus untuk dosa umat manusia.

Sebagai kesimpulan, bahwa memahami kebaikan dan kekerasan Tuhan sangat penting untuk pemahaman yang tepat tentang karakter Tuhan dan hubungan-Nya dengan umat manusia. Dengan merangkul kedua aspek sifat Allah, kita dapat lebih menghargai kasih, belas kasihan, dan keadilan-Nya, serta menjalani kehidupan yang menghormati dan memuliakan Dia.


In chapter 9 of "Knowing God," J.I. Packer explores the two seemingly opposing attributes of God's goodness and severity. Packer argues that these two attributes are not mutually exclusive but are in fact complementary and interconnected.


Packer begins by discussing the concept of God's goodness. He notes that God's goodness is not just a moral attribute but encompasses His benevolence, mercy, and generosity towards all of His creation. God's goodness is manifested in His actions towards humanity, including His love, compassion, and grace.


However, Packer also recognizes that God's goodness does not mean that He is soft or weak. God's goodness is balanced by His severity, which is expressed in His justice, wrath, and punishment towards those who rebel against Him. Packer contends that God's severity is not a negative attribute but a necessary one because it upholds His righteousness and His commitment to justice.


Packer emphasizes that the goodness and severity of God are not in conflict with each other but are in fact in perfect harmony. God's goodness is seen in His mercy towards sinners, while His severity is seen in His judgment towards sin. Packer argues that the cross of Christ is the perfect demonstration of the interplay between God's goodness and severity. At the cross, God's goodness is displayed through His willingness to forgive sinners and offer them salvation, while His severity is demonstrated in the punishment that Christ endured for the sins of humanity.


In conclusion, Packer argues that understanding God's goodness and severity is crucial for a proper understanding of God's character and His relationship with humanity. By embracing both aspects of God's nature, we can better appreciate His love, mercy, and justice, and live a life that honors and glorifies Him.


Knowing and Being Known

"Mengenal Tuhan", membahas gagasan mengenal Tuhan dan dikenal oleh-Nya.  bahwa pengetahuan sejati tentang Tuhan tidak hanya melibatkan pemahaman kognitif tetapi juga hubungan pribadi dengan Tuhan. memulai dengan membedakan antara dua jenis pengetahuan: mengetahui tentang seseorang dan mengetahui seseorang secara pribadi. menyarankan bahwa banyak orang memiliki pengetahuan tentang Tuhan tetapi tidak memiliki hubungan pribadi dengan-Nya. Pengetahuan sejati tentang Tuhan melibatkan pemahaman kognitif dan pengalaman pribadi.

 konsep alkitabiah tentang mengenal Allah, yang melibatkan keintiman, kepercayaan, dan kasih. Dia berargumen bahwa mengenal Tuhan membutuhkan kerelaan untuk menyerahkan hidup kita kepada-Nya, mempercayai-Nya, dan mematuhi perintah-perintah-Nya. Mengenal Tuhan bukan hanya pengejaran intelektual tetapi hubungan pribadi yang mengubah hidup kita dan mengubah cara kita hidup.

 menekankan pentingnya dikenal oleh Tuhan. bahwa dikenal oleh Tuhan melibatkan lebih dari sekedar menyadari keberadaan kita, melainkan Tuhan mengenal kita secara intim dan pribadi. bahwa dikenal oleh Tuhan membawa kenyamanan, keamanan, dan jaminan keselamatan.

bahwa mengenal Tuhan adalah hubungan dua arah. Sama seperti kita berusaha mengenal Allah, Dia juga berusaha mengenal kita. Dia menyarankan bahwa keinginan Tuhan untuk mengenal kita ditunjukkan melalui wahyu-Nya dalam Kitab Suci dan melalui pengejaran-Nya terhadap kita dalam kehidupan kita sehari-hari.

Terakhir,  berpendapat bahwa mengenal Allah dan dikenal oleh-Nya adalah tujuan akhir dari kehidupan Kristen. menyarankan bahwa ketika kita bertumbuh dalam pengetahuan kita tentang Tuhan dan hubungan kita dengan-Nya, kita menjadi lebih seperti Dia dan diubah menjadi orang yang Dia ciptakan untuk kita.

Sebagai kesimpulan,  menekankan bahwa pengetahuan sejati tentang Tuhan melibatkan pemahaman kognitif dan pengalaman pribadi. Mengenal Tuhan bukan hanya pengejaran intelektual tetapi hubungan pribadi yang mengubah hidup kita dan mengubah cara kita hidup.

from the book entitled J.I. Packer's book "Knowing God", please explain about "

Chapter 10: Knowing and Being Known"

In Chapter 10 of "Knowing God," J.I. Packer discusses the idea of knowing God and being known by Him. Packer argues that true knowledge of God involves not only cognitive understanding but also a personal relationship with God.


Packer begins by distinguishing between two types of knowledge: knowing about someone and knowing someone personally. He suggests that many people have knowledge about God but do not have a personal relationship with Him. True knowledge of God involves both cognitive understanding and personal experience.


Packer then discusses the biblical concept of knowing God, which involves intimacy, trust, and love. He argues that knowing God requires a willingness to surrender our lives to Him, to trust Him, and to obey His commands. Knowing God is not just an intellectual pursuit but a personal relationship that transforms our lives and changes the way we live.


Furthermore, Packer emphasizes the importance of being known by God. He notes that being known by God involves more than just being aware of our existence, but rather God knowing us intimately and personally. Packer suggests that being known by God brings comfort, security, and the assurance of salvation.


Packer then explores the idea that knowing God is a two-way relationship. Just as we seek to know God, He also seeks to know us. He suggests that God's desire to know us is demonstrated through His revelation in Scripture and through His pursuit of us in our daily lives.


Finally, Packer argues that knowing God and being known by Him is the ultimate goal of the Christian life. He suggests that as we grow in our knowledge of God and our relationship with Him, we become more like Him and are transformed into the people He created us to be.


In conclusion, Packer emphasizes that true knowledge of God involves both cognitive understanding and personal experience. Knowing God is not just an intellectual pursuit but a personal relationship that transforms our lives and changes the way we live.




 "Knowing and Being Known" is a chapter from J.I. Packer's book "Knowing God," in which he explores the concept of knowing God and being known by God.


Packer argues that true knowledge of God is not just an intellectual exercise, but involves a deep personal relationship with Him. He notes that this relationship involves both knowing God and being known by Him, and that it is characterized by intimacy, trust, and love.


Packer also discusses the implications of this relationship for our own lives, arguing that it should lead us to a deeper sense of humility, gratitude, and obedience to God. He notes that as we come to know God more deeply, we will also come to know ourselves more truly, and that this self-knowledge should lead us to a deeper sense of dependence on God.


Throughout the chapter, Packer emphasizes the importance of pursuing a personal relationship with God, and of allowing


Back

The Wrath of God

"The Wrath of God" adalah  mengeksplorasi konsep murka Tuhan dan implikasinya bagi pemahaman kita tentang karakter Tuhan dan keselamatan kita sendiri.

Bahwa doktrin murka Allah sering diabaikan atau diabaikan dalam teologi kontemporer, tetapi itu merupakan aspek penting dari pemahaman kita tentang keadilan dan kekudusan Allah. Dia mencatat bahwa Alkitab secara konsisten menggambarkan Tuhan sebagai hakim yang adil dan benar yang harus menghukum dosa, dan hukuman ini berbentuk murka-Nya.




Packer juga membahas implikasi dari murka Allah bagi hidup kita sendiri, dengan alasan bahwa hal itu seharusnya membawa kita pada rasa kerendahan hati dan ketergantungan yang lebih dalam pada Tuhan. Dia mencatat bahwa satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari murka Allah adalah melalui iman kepada Yesus Kristus, yang menanggung hukuman atas dosa-dosa kita di kayu salib.

Sepanjang bab ini, Packer menekankan pentingnya menganggap serius doktrin murka Allah, dan membiarkannya membentuk pemahaman kita tentang karakter Allah dan kondisi rohani kita sendiri. Dia mendorong para pembaca untuk merenungkan pentingnya murka Allah, dan membiarkan hal itu membawa mereka pada rasa pertobatan dan iman yang lebih dalam kepada Yesus Kristus.




Secara keseluruhan, "The Wrath of God" menyoroti pentingnya mengenal Tuhan sebagaimana Dia telah menyatakan diri-Nya kepada kita di dalam Kitab Suci, termasuk aspek-aspek dari karakter-Nya yang mungkin sulit atau tidak nyaman untuk dihadapi. Dengan melakukannya, kita dapat memperdalam pemahaman kita tentang kekudusan, keadilan, dan kasih Allah, dan membiarkan pengetahuan ini mengubah hidup kita.


 "The Wrath of God" is a chapter from J.I. Packer's book "Knowing God," in which he explores the concept of God's wrath and its implications for our understanding of God's character and our own salvation.


Packer argues that the doctrine of God's wrath is often overlooked or ignored in contemporary theology, but that it is an essential aspect of our understanding of God's justice and holiness. He notes that the Bible consistently portrays God as a just and righteous judge who must punish sin, and that this punishment takes the form of His wrath.


Packer also discusses the implications of God's wrath for our own lives, arguing that it should lead us to a deeper sense of humility and dependence on God. He notes that the only way to escape God's wrath is through faith in Jesus Christ, who bore the punishment for our sins on the cross.


Throughout the chapter, Packer emphasizes the importance of taking the doctrine of God's wrath seriously, and of allowing it to shape our understanding of God's character and our own spiritual condition. He encourages readers to reflect on the significance of God's wrath, and to allow it to lead them to a deeper sense of repentance and faith in Jesus Christ.


Overall, "The Wrath of God" highlights the importance of knowing God as He has revealed Himself to us in Scripture, including the aspects of His character that may be difficult or uncomfortable to confront. By doing so, we can deepen our understanding of God's holiness, justice, and love, and allow this knowledge to transform our lives.


Back

The Heart of the Gospel

"The Heart of the Gospel" 

inti pesan Injil adalah kabar baik bahwa Allah telah mendamaikan kita dengan diri-Nya sendiri melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Dia mencatat bahwa pesan ini mengungkapkan kasih, belas kasihan, dan keadilan Allah dengan cara yang tidak sepenuhnya diungkapkan dalam Perjanjian Lama.

implikasi dari pesan Injil untuk kehidupan kita sendiri, dengan alasan bahwa itu seharusnya membawa kita pada rasa syukur dan pengabdian yang lebih dalam kepada Tuhan. bahwa Injil menuntut tanggapan dari kita, termasuk pertobatan dari dosa-dosa kita dan iman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita.

Menekankan pentingnya Injil untuk pemahaman kita tentang Allah dan untuk pertumbuhan rohani kita sendiri. mendorong para pembaca untuk merenungkan pentingnya pesan Injil, dan membiarkannya mengubah hidup mereka. menggarisbawahi pentingnya mengenal Allah sebagaimana Dia telah mengungkapkan diri-Nya kepada kita dalam pesan Injil, dan dampak mendalam dari pengetahuan ini dalam kehidupan kita.


 "The Heart of the Gospel" is a chapter from J.I. Packer's book "Knowing God," in which he discusses the significance of the gospel message and its implications for our understanding of God's character and our own salvation.


Packer argues that at the heart of the gospel message is the good news that God has reconciled us to Himself through the death and resurrection of Jesus Christ. He notes that this message reveals God's love, mercy, and justice in a way that was not fully revealed in the Old Testament.


Packer also discusses the implications of the gospel message for our own lives, arguing that it should lead us to a deeper sense of gratitude and devotion to God. He notes that the gospel requires a response from us, including repentance of our sins and faith in Jesus Christ as our Lord and Savior.


Throughout the chapter, Packer emphasizes the importance of the gospel for our understanding of God and for our own spiritual growth. He encourages readers to reflect on the significance of the gospel message, and to allow it to transform their lives.


Overall, "The Heart of the Gospel" underscores the importance of knowing God as He has revealed Himself to us in the gospel message, and the profound impact that this knowledge can have on our lives.

Back

Allah yang berinkarnasi

mengeksplorasi signifikansi Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang berinkarnasi.

doktrin Inkarnasi sangat penting untuk pemahaman kita tentang siapa Tuhan itu dan bagaimana Dia berhubungan dengan kita.  bahwa Alkitab mengajarkan bahwa Yesus bukan hanya seorang guru atau nabi yang hebat, tetapi juga Anak Allah yang menjadi manusia dan hidup di antara kita.

 implikasi Inkarnasi bagi pemahaman kita tentang karakter Allah, mencatat bahwa Inkarnasi mengungkapkan kasih, kerendahan hati, dan belas kasih Allah dengan cara yang tidak sepenuhnya diungkapkan dalam Perjanjian Lama.  implikasi Inkarnasi bagi kehidupan kita sendiri, dengan alasan bahwa Inkarnasi seharusnya membawa kita pada rasa syukur dan pengabdian yang lebih dalam kepada Tuhan.

 menekankan pentingnya Inkarnasi bagi pemahaman kita tentang Allah dan bagi pertumbuhan rohani kita sendiri. mendorong pembaca untuk merenungkan pentingnya Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang berinkarnasi, dan membiarkan pengetahuan ini mengubah hidup mereka.

Secara keseluruhan, "Penjelmaan Tuhan" menggarisbawahi pentingnya mengenal Tuhan sebagaimana Dia telah menyatakan diri-Nya kepada kita di dalam Yesus Kristus, dan dampak mendalam dari pengetahuan ini terhadap kehidupan kita.


 "God Incarnate" is a chapter from J.I. Packer's book "Knowing God," in which he explores the significance of Jesus Christ as the incarnate Son of God.


Packer argues that the doctrine of the Incarnation is essential to our understanding of who God is and how He relates to us. He notes that the Bible teaches that Jesus is not just a great teacher or prophet, but the very Son of God who took on human flesh and lived among us.


Packer discusses the implications of the Incarnation for our understanding of God's character, noting that it reveals God's love, humility, and compassion in a way that was not fully revealed in the Old Testament. He also discusses the implications of the Incarnation for our own lives, arguing that it should lead us to a deeper sense of gratitude and devotion to God.


Throughout the chapter, Packer emphasizes the importance of the Incarnation for our understanding of God and for our own spiritual growth. He encourages readers to reflect on the significance of Jesus Christ as the incarnate Son of God, and to allow this knowledge to transform their lives.


Overall, "God Incarnate" underscores the importance of knowing God as He has revealed Himself to us in Jesus Christ, and the profound impact that this knowledge can have on our lives.


Back

Dia Ada

"Orang-orang yang Mengenal Tuhannya, Dia Ada" membahas sifat-sifat Allah dan bagaimana sifat-sifat itu dinyatakan kepada kita melalui Kitab Suci. mengeksplorasi konsep keberadaan diri Tuhan, atau aseity, dan implikasinya bagi pemahaman kita tentang sifat Tuhan. membahas ketidakterbatasan, keabadian, dan ketidakberubahan Tuhan, dan bagaimana sifat-sifat ini memengaruhi hubungan kita dengan-Nya.

Berfokus pada kekudusan dan transendensi Tuhan.  bahwa pemahaman yang tepat tentang keagungan Tuhan sangat penting untuk pemahaman kita tentang dosa dan penebusan, dan itu mengarah pada rasa hormat dan kekaguman yang lebih dalam dalam penyembahan kita kepada-Nya.

menekankan bahwa pengetahuan tentang Tuhan bukan hanya latihan intelektual, tetapi juga masalah hati. mendorong pembaca untuk mencari pemahaman yang lebih dalam tentang karakter Allah dan membiarkan pengetahuan ini mengubah hidup mereka.




Secara keseluruhan, pasal-pasal ini menekankan pentingnya mengenal Allah sebagaimana Dia telah menyatakan diri-Nya kepada kita di dalam Kitab Suci, dan dampak mendalam dari pengetahuan ini terhadap kehidupan kita. 


"The People Who Know Their God, He Is" are two chapters from J.I. Packer's book "Knowing God." In these chapters, Packer discusses the attributes of God and how they are revealed to us through Scripture.


In chapter 4, "He Is," Packer explores the concept of God's self-existence, or aseity, and the implications of this for our understanding of God's nature. He also discusses God's infinity, eternality, and unchangeableness, and how these attributes affect our relationship with Him.


In chapter 5, "The Majesty of God," Packer focuses on the holiness and transcendence of God. He argues that a proper understanding of God's majesty is essential to our understanding of sin and redemption, and that it leads to a deeper sense of reverence and awe in our worship of Him.


Throughout both chapters, Packer emphasizes that the knowledge of God is not just an intellectual exercise, but a matter of the heart. He encourages readers to seek a deeper understanding of God's character and to allow this knowledge to transform their lives.


Overall, these chapters emphasize the importance of knowing God as He has revealed Himself to us in Scripture, and the profound impact that this knowledge can have on our lives.


Back

The Majesty of God

Mengenal Tuhan", di mana dia mengeksplorasi konsep kekudusan dan transendensi Tuhan, dan bagaimana sifat-sifat ini memengaruhi hubungan kita dengan-Nya.

Pengetahuan tentang keagungan Tuhan sangat penting untuk pemahaman kita tentang dosa dan penebusan, dan itu mengarah pada rasa hormat dan kekaguman yang lebih dalam dalam penyembahan kita kepada-Nya. Dia mencatat bahwa Alkitab secara konsisten menggambarkan Tuhan sebagai yang kudus dan agung, dan ini adalah sesuatu yang perlu kita perhatikan secara serius jika kita ingin memiliki pemahaman yang benar tentang siapa Tuhan itu. 

Pengetahuan tentang keagungan Tuhan mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Dia berpendapat bahwa itu harus membawa kita pada rasa kerendahan hati dan ketergantungan yang lebih dalam pada Tuhan, dan itu harus mengilhami kita untuk mengejar kekudusan dalam hidup kita sendiri.

pengetahuan tentang Tuhan bukan hanya latihan intelektual, tetapi juga masalah hati. mendorong pembaca untuk mencari pemahaman yang lebih dalam tentang karakter Allah dan membiarkan pengetahuan ini mengubah hidup mereka.

menekankan pentingnya mengenal Tuhan sebagaimana Dia telah mengungkapkan diri-Nya kepada kita di dalam Kitab Suci, dan dampak mendalam dari pengetahuan ini terhadap kehidupan kita.


 "The Majesty of God" is a chapter from J.I. Packer's book "Knowing God," in which he explores the concept of God's holiness and transcendence, and how these attributes affect our relationship with Him.

Packer argues that the knowledge of God's majesty is essential to our understanding of sin and redemption, and that it leads to a deeper sense of reverence and awe in our worship of Him. He notes that the Bible consistently portrays God as holy and majestic, and that this is something that we need to take seriously if we are to have a true understanding of who God is.

Packer also discusses how the knowledge of God's majesty affects our daily lives. He argues that it should lead us to a deeper sense of humility and dependence on God, and that it should inspire us to pursue holiness in our own lives.


Throughout the chapter, Packer emphasizes that the knowledge of God is not just an intellectual exercise, but a matter of the heart. He encourages readers to seek a deeper understanding of God's character and to allow this knowledge to transform their lives.

Overall, "The Majesty of God" emphasizes the importance of knowing God as He has revealed Himself to us in Scripture, and the profound impact that this knowledge can have on our lives.

Mengetahui dan Dikenal

“Mengetahui dan Dikenal” menggambarkan hubungan timbal balik yang terjalin antara Tuhan dan orang yang mengenal-Nya. bahwa mengenal Allah bukan hanya soal memiliki pengetahuan tentang Dia, tetapi memiliki hubungan pribadi dengan-Nya melalui Yesus Kristus, di mana kita mengenal dan dikenal oleh Allah.

Membahas bagaimana Alkitab menggambarkan hubungan timbal balik antara Allah dan umat-Nya. Menggunakan contoh-contoh dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru untuk menunjukkan bagaimana Allah menyatakan diri-Nya kepada umat-Nya dan bagaimana tanggapan mereka terhadap-Nya.

bahwa mengenal Tuhan bukan hanya latihan intelektual, tetapi juga masalah hati. Itu melibatkan percaya pada karakter dan janji Allah, dan tunduk pada kehendak-Nya bagi hidup kita. Pada saat yang sama, dikenal oleh Tuhan berarti bahwa Tuhan memiliki pengetahuan pribadi yang intim tentang kita dan kebutuhan kita, dan bahwa Dia sangat memperhatikan kita.  Bahwa mengetahui dan dikenal oleh Tuhan adalah dasar hubungan kita dengan-Nya, dan hanya melalui hubungan inilah kita dapat mengalami kedamaian, sukacita, dan kepuasan sejati dalam hidup. mendorong pembaca untuk mencari hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan dan untuk bertumbuh dalam pengetahuan mereka tentang Dia.

 "Knowing and Being Known" is a phrase used by J.I. Packer in his book "Knowing God" to describe the reciprocal relationship that exists between God and those who know Him. Packer argues that knowing God is not just a matter of having knowledge about Him, but of having a personal relationship with Him through Jesus Christ, in which we come to know and be known by God.


In the third chapter of the book, "Knowing and Being Known," Packer discusses how the Bible describes this reciprocal relationship between God and His people. He uses examples from both the Old and New Testaments to show how God reveals Himself to His people and how they respond to Him.


Packer argues that knowing God is not just an intellectual exercise, but a matter of the heart. It involves trusting in God's character and promises, and submitting to His will for our lives. At the same time, being known by God means that God has a personal, intimate knowledge of us and our needs, and that He cares for us deeply.


Ultimately, Packer argues that knowing and being known by God is the foundation of our relationship with Him, and that it is only through this relationship that we can experience true peace, joy, and fulfillment in life. He encourages readers to seek a deeper relationship with God and to grow in their knowledge of Him.


Back


Orang-orang yang Mengenal Tuhannya

 “Orang-orang yang Mengenal Tuhannya”  menggambarkan mereka yang memiliki hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan.  mengenal Allah bukan hanya soal memiliki pengetahuan tentang Dia, tetapi memiliki hubungan pribadi dengan-Nya melalui Yesus Kristus.

Membahas bagaimana Alkitab menggambarkan orang-orang yang memiliki hubungan seperti ini dengan Tuhan. Dia menggunakan contoh-contoh dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru untuk menunjukkan bagaimana Allah menyatakan diri-Nya kepada umat-Nya dan bagaimana tanggapan mereka terhadap-Nya.

Orang yang mengenal Tuhannya memiliki ciri-ciri tertentu, seperti kerendahan hati, ketaatan, dan rasa hormat yang mendalam kepada Tuhan. Mereka juga merasakan sukacita dan kedamaian yang mendalam karena mengetahui bahwa mereka dikasihi dan diperhatikan oleh Tuhan.

Tuhan adalah hal yang paling penting dalam hidup, dan segala sesuatu yang lain mengalir dari hubungan itu.  pembaca untuk mencari hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan dan menjadikan mengenal Dia sebagai prioritas tertinggi dalam hidup mereka.


"The People Who Know Their God" is a phrase used by J.I. Packer in his book "Knowing God" to describe those who have a personal, intimate relationship with God. Packer argues that knowing God is not just a matter of having knowledge about Him, but of having a personal relationship with Him through Jesus Christ.


In the second chapter of the book, "The People Who Know Their God," Packer discusses how the Bible portrays people who have this kind of relationship with God. He uses examples from both the Old and New Testaments to show how God revealed Himself to His people and how they responded to Him.


Packer argues that the people who know their God have certain characteristics, such as humility, obedience, and a deep reverence for God. They also have a deep sense of joy and peace that comes from knowing that they are loved and cared for by God.


Ultimately, Packer argues that knowing God is the most important thing in life, and that everything else flows from that relationship. He encourages readers to seek a deeper relationship with God and to make knowing Him the highest priority in their lives.


Back

Haus akan Tuhan

"Haus akan Tuhan" adalah ungkapan yang digunakan untuk menggambarkan kerinduan dan keinginan mendalam yang dirasakan beberapa orang untuk mengenal Tuhan dan mengalami kehadiran-Nya dalam hidup mereka. Itu adalah kelaparan rohani, kerinduan akan sesuatu yang lebih dari apa yang ditawarkan dunia ini. Ungkapan ini berasal dari Mazmur 42:1, yang berbunyi, "Seperti rusa merindukan aliran air, demikianlah jiwaku merindukanmu, Tuhanku."

 "Haus akan Tuhan",  menggambarkan keinginan alami yang dimiliki orang untuk mengenal Tuhan dan mengalami hubungan yang lebih dalam dengan-Nya.  keinginan ini adalah bagian dari apa artinya menjadi manusia, dan itu adalah naluri pemberian Tuhan yang hanya dapat dipuaskan oleh hubungan pribadi dengan Tuhan melalui Yesus Kristus.


"Thirsting for God" is a phrase used to describe the deep longing and desire that some people feel to know God and experience His presence in their lives. It is a spiritual hunger, a yearning for something more than what this world has to offer. The phrase comes from Psalm 42:1, which says, "As the deer pants for streams of water, so my soul pants for you, my God."


In J.I. Packer's book "Knowing God," the first chapter is titled "Thirsting for God," and he uses this phrase to describe the natural desire that people have to know God and to experience a deeper relationship with Him. Packer argues that this desire is part of what it means to be human, and that it is a God-given instinct that can only be satisfied by a personal relationship with God through Jesus Christ.


Back

buku "Knowing God" J.I. Packer's

BAGIAN SATU: MENGENAL ALLAH YANG ADA

Bab 1: Haus akan Tuhan

Bab 2: Orang-orang yang Mengenal Tuhannya

Bab 3: Mengetahui dan Dikenal

BAGIAN KEDUA: ORANG YANG MENGENAL TUHANNYA

Bab 4: Dia Adalah

Bab 5: Keagungan Tuhan

Bab 6: Penjelmaan Tuhan

Bab 7: Inti Injil

Bab 8: Murka Tuhan


Bab 9: Kebaikan dan Keparahan

BAGIAN KETIGA: MENGENAL ALLAH

Bab 10: Mengenal dan Dikenal

Bab 11: Bahasa Kanaan

Bab 12: Firman-Mu Adalah Kebenaran

Bab 13: Tuhan Yang Mahakuasa

Bab 14: Kasih Allah

Bab 15: Rahmat Tuhan

Bab 16: Tuhan Sang Hakim

Bab 17: Inti Iman Kristen

BAGIAN KEEMPAT: KOMUNIKASI PENGETAHUAN

Bab 18: Rahasia Terbuka

Bab 19: Penggunaan Iman

Bab 20: Kebijaksanaan Dunia Ini

Bab 21: Menilai Diri Sendiri

Bab 22: Menilai Gereja dan Dunia

Bab 23: Sejarah Penebusan

BAGIAN LIMA: KENIKMATAN ALLAH

Bab 24: Mengetahui dan Menikmati

Bab 25: Kecukupan Tuhan

Bab 26: Ya yang Kekal Ini


PART ONE: KNOWING THE GOD WHO IS

Chapter 1: Thirsting for God

Chapter 2: The People Who Know Their God

Chapter 3: Knowing and Being Known


PART TWO: THE PEOPLE WHO KNOW THEIR GOD

Chapter 4: He Is

Chapter 5: The Majesty of God

Chapter 6: God Incarnate

Chapter 7: The Heart of the Gospel

Chapter 8: The Wrath of God

Chapter 9: Goodness and Severity


PART THREE: KNOWING GOD

Chapter 10: Knowing and Being Known

Chapter 11: The Language of Canaan

Chapter 12: Thy Word Is Truth

Chapter 13: The Almighty God

Chapter 14: The Love of God

Chapter 15: The Grace of God

Chapter 16: God the Judge

Chapter 17: The Heart of the Christian Faith


PART FOUR: THE COMMUNICATION OF KNOWLEDGE

Chapter 18: The Open Secret

Chapter 19: The Appropriation of Faith

Chapter 20: The Wisdom of This World

Chapter 21: Judging Ourselves

Chapter 22: Judging the Church and the World

Chapter 23: Redemptive History


PART FIVE: THE ENJOYMENT OF GOD

Chapter 24: Knowing and Enjoying

Chapter 25: The Adequacy of God

Chapter 26: This Everlasting Yea

Mengapa Kita Harus Mengenal Allah

Mengenal Allah bukan hanya sekedar memiliki pengetahuan teologis tentang karakteristik-Nya, tetapi juga melibatkan hubungan pribadi yang erat dengan-Nya.

Salah satu alasan utama mengapa kita harus mengenal Allah adalah karena manusia diciptakan untuk berhubungan dengan-Nya. Sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Kejadian, manusia diciptakan dalam gambar Allah dan dipanggil untuk hidup dalam persekutuan dengan-Nya. Oleh karena itu, kehidupan yang sejati dan bermakna hanya dapat ditemukan dalam hubungan yang benar dengan Allah.

Selain itu, mengenal Allah memungkinkan kita untuk memahami maksud dan tujuan hidup kita. Allah menciptakan manusia dengan tujuan tertentu, dan hanya dengan mengenal-Nya kita dapat menemukan maksud hidup kita dan hidup dengan cara yang memuliakan-Nya.

Packer juga menyatakan bahwa mengenal Allah membantu kita untuk memahami diri kita sendiri dengan lebih baik. Dalam mengenal-Nya, kita belajar tentang dosa dan kelemahan kita, serta kebutuhan akan keselamatan yang hanya dapat ditemukan dalam Yesus Kristus. Dalam hubungan kita dengan Allah, kita juga belajar tentang kekuatan, kebijaksanaan, dan kasih-Nya yang tak terbatas.

Akhirnya, Packer menekankan bahwa mengenal Allah membawa kepuasan dan kegembiraan yang tak tertandingi. Hanya dalam hubungan yang erat dengan-Nya kita dapat menemukan kebahagiaan yang abadi dan damai yang melebihi segala pemahaman. Dengan mengenal Allah, kita mengalami ke

Back